Tag Archives: Iswadi Pratama

Sketsa Penyair Lampung

Iswadi Pratama*
Pikiran Rakyat, 20 Mei 2006

MULANYA panitia “Festival Mei 2006” meminta saya untuk menuliskan peta kepenyairan Lampung. Namun, tidak setiap jengkal ranah sastra yang terbentang di Lampung sejak era Isbedy Stiawan Z.S. hingga generasi yang muncul belakangan saya pahami. Kesulitan itu semakin besar disebabkan fakta bahwa sebagian besar penyair di Lampung tidak selalu dapat dilacak karyanya melalui media massa atau antologi puisi yang pernah diterbitkan. Namun jelas,

Penyair sebagai Sang Hermes*

Telaah atas Sajak-Sajak ‘Penyeret Babi’

Iswadi Pratama**
Lampung Post, 2 Mei 2010

Memasuki tahun 2010, Penyair asal Lampung Inggit Putria Marga menerbitkan antologi puisi bertajuk Penyeret Babi. Sajak-sajak dalam antologi ini dikelompokkan dalam 2 bagian: Pertama, Mantra Petani (30 sajak), dan bagian ke dua Pemuja Api (40 sajak). Pembagian ini saya kira lebih berdasarkan bentuk sajak daripada tematik atau periodisasi. Bagian pertama terdiri atas sajak-sajak yang relatif pendek dan bagian kedua lebih banyak menghimpun sajak dengan jejak prosa (ceritera) yang sangat kuat.

Merawat Teater tanpa Jaminan Sosial

Iswadi Pratama*
http://www.lampungpost.com/

Apakah peran dan fungsi teater modern Indonesia bagi kehidupan masyarakat dan bangsa?

Tantangan untuk menjawab peran “konkret” teater modern seperti ini acapkali muncul dengan amat pongah dan gagah dalam berbagai kesempatan dan event teater. Dan biasanya muncul dari golongan yang cenderung menilai segala sesuatu dari kalkulasi untung-rugi.

Suara Lain dari Tanggamus

Iswadi Pratama
http://www.lampungpost.com/

Vok Audita Perit Littera Scripta
(Suara yang didengar akan hilang, kalimat yang dituliskan akan tetap tinggal)

SAYA percaya puisi bisa lahir dari tangan siapa saja, kapan saja, di mana saja, dan dengan niat apa saja. Ia bisa ditulis oleh seorang Mc Arthur, komandan tempur pasukan AS pada PD II, di tengah kecamuk perang dan diniatkan sebagai ungkapan rasa kemanusiaannya yang tercabik dalam perang juga sebagai nasihat bagi anaknya.

Sajak-Sajak Iswadi Pratama

http://www.lampungpost.com/
Prosa-Prosa yang Hendak Dilupakan

Kita memang pernah berjumpa di kapal itu, kapal yang sampai sekarang tak kita ingat namanya. Memang ada yang kucatat, tapi itu cuma jadwal berangkat dan pluit larat yang kita lupakan setelah beberapa saat.

Di palka, bulan tak terlihat. Hanya gelap mengambang. Gelap yang seperti lubang maha besar darimana kita sempat melihat getar bintang; sebentar lalu pudar. Dan kita berharap ada semacam kerlip cahaya serupa pada sesak dada kita.