Joko Pinurbo
ruangbaca.com
Ketika menulismu, Kekasihku, aku seakanakan berada dalam suasana sedang mengerjakan kumpulan puisi terakhirku. Untunglah hanya seakan-akan, karena sampai saat ini aku masih merasa bahwa urusanku dengan puisi belum selesai. Melalui kamu ada hasratku untuk mematangkan atau mengendapkan berbagai ihwal yang telah kujelajahi sebelumnya sejak dari antologi Celana (1999) hingga Telepon Genggam (2003). Continue reading “Kepada Kekasihku”

