Kepada Kekasihku

Joko Pinurbo
http://www.ruangbaca.com/

Ketika menulismu, Kekasihku, aku seakanakan berada dalam suasana sedang mengerjakan kumpulan puisi terakhirku. Untunglah hanya seakan-akan, karena sampai saat ini aku masih merasa bahwa urusanku dengan puisi belum selesai. Melalui kamu ada hasratku untuk mematangkan atau mengendapkan berbagai ihwal yang telah kujelajahi sebelumnya sejak dari antologi Celana (1999) hingga Telepon Genggam (2003).

Sajak “Perjamuan Petang”, “Selepas Usia 60”, dan “Celana Ibu”, misalnya, merupakan pengembangan dan penuntasan kecintaanku terhadap celana. Sajak “Ranjang Ibu”, “Aku Tidur di Remang Tubuhmu”, dan “Hijrah” mencoba mengolah kembali seluk-beluk ranjang. Sajak “Telepon Tengah Malam” boleh dianggap sebagai kristalisasi dari main-mainku dengan perkara telepon genggam.

Sajak “Penjual Kalender” dan “Februari yang Ungu” adalah refleksi mengenai misteri waktu. Sajak “Tiada”, “Cita-cita”, “Rumah Cinta”, dan “Rumah Sakit” merupakan penjabaran lebih lanjut mengenai hakikat rumah. Dan sebagainya. Bagaimana dengan sajak “Pacar Senja” (judul sajak ini kemudian dipakai sebagai judul antologi 100 puisi pilihanku yang terbit satu tahun setelah kamu)?

Sebagaimana semua penyair di muka bumi ini, melalui sajakaku mencoba merasuk ke kedalaman tema cinta. Namun sesungguhnya ada tema lain yang juga kumasuki, yakni ihwal hubungan cinta antara puisi, penyair, dan pembaca (boleh dibilang ini merupakan semacam deskripsi mengenai visi pribadi). Memang kadang aku menulis sajak yang mencoba melebur lebih dari satu tema.

Bahkan kadang aku suka menulis sajak yang seakan-akan merupakan peleburan lebih dari satu puisi.
***

Terus terang, sejumlah sajak yang ada di dalam kamu adalah sajak-sajak pesanan dari beberapa pihak. Sajak “Tiada”, “Citacita”, “Rumah Cinta”, dan “Baju Bulan” pernah dimuat dalam kolom iklan sebuah perumahan mewah yang ditayangkan di pojok kiri-bawah halaman satu surat kabar Kompas. Khusus mengenai sajak “Rumah Cinta”, aku menulisnya untuk memenuhi permintaan seorang teman yang memerlukannya untuk keperluan proyek pernikahannya.

Adapun sajak “Ibuku” (yang ditayangkan dalam iklan setengah halaman Kompas) kutulis atas pesanan panitia ulang tahun sebuah penerbit besar. Lain lagi dengan sajak “Satu Celana Berdua”. Sajak ini tercipta beberapa waktu setelah aku bertemu Butet Kartaredjasa (aktor yang mahir menirukan suara berbagai orang) dalam sebuah acara pertunjukan teater. Aku tidak ingat persis apa yang dikatakannya saat itu, namun sepulang dari acara itu aku merasa perlu untuk memenuhi keinginannya.

Tentu saja aku pun teringat Djaduk, adik Butet, yang garapan musiknya menghiburku. Banyak teman suka salah sangka. Melihat sejumlah puisiku dimuat dalam kolom iklan, bahkan iklan setengah halaman Kompas, mereka mengira aku lantas jadi kaya raya. Maafkan mereka. Mereka tidak tahu bahwa sampai saat ini aku tidak pernah “sampai hati” menentukan harga bagi karyaku sendiri. Cuma aku suka berkata dalam hati: terpujilah mereka yang tahu menghargai karya kreatif dan karya intelektual.

Beberapa kali aku ditanya oleh teman: bagaimana rasanya menulis sajak pesanan? Aku bilang: ah, sama saja, teman. Aku memperlakukan sajak-sajak pesanan sama seperti sajak-sajak lain. Aku ingat ucapan seorang penyair senior bahwa tidak dipesan oleh orang lain pun setiap pengarang sesungguhnya selalu memesan karya untuk dirinya sendiri. Ambillah, misalnya, sajak “Rumah Cinta”.

Aku sempat beberapa kali membongkar-pasang draf puisi ini sehingga muncul beberapa versi sebelum akhirnya aku memilih versi yang kumasukkan ke dalam kamu. Kepada teman yang memesan sajak tersebut aku sempat menunjukkan versi-versi yang ada di tanganku.
***

Ada beberapa sajak yang lahir dengan proses awal yang lain lagi. Sajak “Sedekah” tercipta gara- gara aku membaca sebuah berita di Kompas tentang seorang ibu —-buruh cuci pakaian—- yang tewas karena berdesak-desakan dalam keramaian acara pembagian sedekah menjelang hari raya Idul Fitri. Sajak “Rumah Sakit” muncul setelah aku mendapat kabar bahwa teman yang saat itu sedang akan terlibat dalam proses penerbitanmu sedang dirundung sakit; jadi itu sebenarnya sajak susulan.

Aku menulis sajak “Bola” karena aku sangat gemar menonton siaran pertandingan sepakbola, dan kamu tahu aku pengagum Maradona. Dan tentang sajak “Malam Ini Aku Akan Tidur di Matamu?” Aku pernah bertandang ke studio lukisan Jeihan dan oleh Jeihan aku diajak berkeliling menyinggahi lukisanlukisannya yang terkenal dengan “mata bolong”-nya itu. Sekian lama kemudian lahirlah sajak tersebut. Masih ada contoh lain, tapi sudahlah.

Asal tahu saja, pesanan, permintaan, pengalaman, berita di koran, dan lain sebagainya, hanyalah pemicu awal. Begitu jarijari tanganku bergerak, maka selebihnya adalah mikir. Bahkan ingin kukatakan bahwa sajak-sajakku lebih merupakan hasil dari kerajinan mikir. Bukan catatan harian, bukan rekaman peristiwa, bukan pula semacam (auto) biografi. Bagaimanapun, puisi tetaplah dunia rekaan, dan sebagai dunia rekaan ruang geraknya tidaklah sesempit dan seterbatas ruang gerak penyairnya.

Malahan sering si aku-penyair bukanlah atau bukan lagi subjek utama puisinya sendiri. Sosok si aku-penyair lambat laun melenyap ke balik kata- kata yang ditulisnya. Untuk mendapatkan bahan awal bagi puisi-puisi yang akan kucipta, hingga sekarang aku masih punya kebiasaan membuat coretan pada notes atau buku tulis begitu ada sesuatu yang menggoda atau merangsang pikiranku. Itulah ang nanti, jika sudah ada waktu dan suasana yang baik, yang aku bawa ke komputer.

Yang kucatat atau kutulis dapat saja hanya sebuah kata kunci atau calon judul, dapat pula konsep sebuah frasa atau sebuah bait. Sayang sekali hingga kini aku belum juga fasih menggunakan bolpoin dan pulpen mewah berukirkan namaku, hadiah untuk bukubuku puisiku. Kadang-kadang saja alat tulis mahal itu kupakai untuk menggoreskan tandatanganku. Memang kelihatan beda hasilnya.
***

Mengapa memilih humor? Itulah salah satu pertanyaan dari Koran Tempo saat memesan tulisan ini. Persahabatanku dengan humor sesungguhnya terjadi secara kebetulan. Entah lantaran iblis dari mana, di pertengahan 1990-an tiba-tiba saja aku menggubah sajak “Celana (1, 2, 3)”. Sekadar kilas balik, kehadiran sajak ini pada awalnya dipicu oleh pengalaman remeh yang menjengkelkan: bahwa aku sering mengalami kesulitan mencari (: membeli) celana yang ukuran pinggangnya klop dengan ukuran pinggangku.

Pinggang penyair celana. Setelah puisi itu jadi, aku terpana: hai, ada humor di situ. Dan ah, ternyata bisa juga aku berhumor. Sejak itu aku mulai serius belajar mengembangkan dan mendayagunakan humor sebagai salah satu unsur dalam cara dan gaya berpuisiku. Kebetulan pula saat itu aku sedang gundah dengan perangai dominan uisi Indonesia: mengapa begitu banyak puisi kelewat berlarat-larat dalam emosi? Mengapa pula begitu banyak puisi makin menjauhkan diri dari kewajaran?

Seakan-akan tidak ada kemungkinan lain dalam menyiasati bahasa dan menyikapi hidup. Soalnya kemudian, bagaimana menggarap humor bukan sekadar sebagai tempelan atau hiasan, bukan pula sekadar untuk mencari efek. Dengan kata lain, bagaimana mengolah humor supaya terasa wajar dan memang bermakna, bahkan menyatu dengan semesta makna. Terasa benar, ini sama sekali bukan perkara mudah, meskipun dari luar mungkin terlihat gampang.

Alih-alih mau memainkan humor, tidak jarang aku malah dipermainkan oleh humor. Tidak apa-apa. Penyair juga manusia. Kadang humor dalam puisi-puisiku dihubunghubungkan dengan “puisi mbeling”. Boleh-boleh saja karena memang “puisi mbeling” telah ikut memancing rasa penasaranku. Namun kamu paham bahwa sebenarnya aku justru gundah dengan cara dan motif berhumor “puisi mbeling” dan diam- diam aku berusaha memainkan humor dengan cara dan motif yang lain.
***

Kata orang, sajak-sajakku sederhana. Orang bisa berbeda-beda maksud mengenai kesederhanaan, sebagaimana apa yang disebut sajak sederhana pun bisa berbeda-beda versi dan kualitasnya. Tapi aku senangsenang saja dikatakan sederhana karena kesederhanaan bagiku merupakan suatu pencapaian dan aku memang berlatih keras untuknya.

Sajak-sajakku dikatakan sederhana mungkin karena banyak menggunakan bahasa sehari- hari, cair pula. Tentu itu tidak keliru, walaupun penggunaan bahasa sehari- hari tidak begitu saja membuat puisi menjadi sederhana. Yang jelas, aku memang suka menyusun puisi-puisiku dengan frasa dan kalimat yang terangterang saja. Dan selain menganggap perlu adanya fokus, aku pun berusaha untuk sedapat mungkin tidak rakus dengan sembarang imaji.

Kuharap pula baris-baris puisiku tetap bergerak dalam alur pikiran dan alur pengungkapan yang jelas juntrungnya. Imajinasi boleh liar, citraan boleh gila, metafor boleh gila sekali, logika boleh dijungkirbalikkan, makna bisa kompleks pula, namun semuanya biarlah tetap dalam kerangka tertib pikiran dan tertib bahasa, dan dalam persekutuan antara nalar dan rasa. Kamu tahu, aku tidak suka menjadikan makhluk bernama licentia poetica sebagai pembenaran atas kekacauan berbahasa.

Kerap kutemukan sajak yang sebenarnya berpotensi menjadi sajak cemerlang menjadi “rusak” karena error di bagian(-bagian) tertentu. Sebagaimana kerap kutemukan sajak yang menjadi okey karena sentuhan atau torehan kecil tapi kena di bagian(-bagian) tertentu. Dan aku akan tetap suka menulis sajak-sajak sederhana, sebagaimana aku telah menulismu, sejauh kesederhanaan tidak identik dengan kedangkalan, kemiskinan, dan kealakadaran.
***

Sempat aku bertanya-tanya: untuk apa aku menuliskan ini semua? Toh kualitas karya ada dalam diri karya itu sendiri, bukan dalam kesaksian si penyair mengenai sejarah atau proses penciptaannya, seindah dan sedramatis apa pun kisah-ceritanya. Bukan pula dalam pertanggungjawaban pengarang mengenai visinya, filosofinya, konsep estetiknya. Tulisan-tulisan seperti itu tidak akan menambah atau mengurangi mutu sebuah karya, kendati pun tentu saja tetap berharga, misalnya untuk memberikan gambaran mengenai sisi-sisi romantis dari kerja seorang pengarang atau penyair.

Tulisan ini pun, Kekasihku, tidak akan melepaskanmu dari segala kekurangan dan kelemahanmu.

30 Oktober 2005