Suara-suara yang Ditiupkan ke dalam Dada (7-Selesai)

Jusuf An
kompasiana.com/jusuf_an

Begitulah, sejak itu kau memanggilnya Nitse. Sebelum kau mengunjungi kamarnya, kau pernah menyangka jika ia seorang yang malas, sebab kau jarang melihatnya di ruang kuliah dan jika pun ia ada, kau sering melihatnya tertidur di dalam kelas. Tetapi kau buru-buru menyadari kekeliruan atas sangkaanmu setelah masuk kamarnya siang itu. Kau menebak Nitse rajin membaca, jarang tidur malam dan mencuci pakaian. Continue reading “Suara-suara yang Ditiupkan ke dalam Dada (7-Selesai)”

Perempuan Gembel Debleng

Jusuf AN
Majalah Esquere, Apri 2011

Bagaimana mungkin? Bawuk, perempuan paling cantik di kampung itu, yang telah sekian lama hidup di kota, ternyata memiliki rambut gembel, rambut kusut yang seolah membeku—beratus helai menyatu menjadi gumpalan-gumpalan—berwarna coklat kemerah-merahan, tak sejuk dipandang. Warga di daerah itu percaya rambut gembel tak boleh dipangkas sekehendak hati. Konon, selain rambut serupa akan tumbuh lagi, si empunya juga akan diserang sakit yang tak remeh. Continue reading “Perempuan Gembel Debleng”

Cara Sastra(wan) Empati terhadap Bencana

Jusuf AN *

Serasa masih belum kering air mata negeri ini atas tregedi tsunami yang terjadi Atceh (2004), gempa bumi di Pangandaran (2005), Yogyakarta (2006), Padang (2009). Masih belum tuntas duka warga Sidoarjo dari lumpur Lapindo (sejak 2006) yang menelan rumah dan harta benda mereka. Belum sembuh benar luka-luka negeri ini akibat bencana-bencana yang meluluh lantakkan bumi, menelan harta benda dan menghilangnan ribuan nyawa; dan kini serentetan bencana kembali terjadi secara beriringan; banjir bandang di Wasior (4/10), tsunami di Mentawai (26/10), dan letusan gunung Merapi Yogyakarta yang hingga sekarang masih mendebarkan. Continue reading “Cara Sastra(wan) Empati terhadap Bencana”

Perempuan di Jendela

Jusuf AN
hariansumutpos.com

Kita pernah menyimpan mimpi, atau lebih tepatnya angan-angan kosong tentang rumah itu. Rumah yang sekarang kau huni itu. Dulu, ketika kau masih sering bertandang ke kamar kos yang terletak di lantai dua yang sampai sekarang masih aku tempati ini, kerap kau membuka jendela, lalu menatap rumah itu lama-lama. Kau mengetahui kalau rumah bergenting biru itu tak ada penghuninya, menunggu ada yang mau menyewa. Dan kau mengungkapkan keinginanmu: ingin menikah denganku lalu tinggal di rumah itu. Rumah mungil sederhana yang dikelilingi sawah, “Berdua tinggal di sana, pastilah nyaman dan indah,” katamu. Continue reading “Perempuan di Jendela”

Bahasa »