CATATAN KURATORIAL FESTIVAL MANIFESCO 2019

Edy Firmansyah
Malkan Junaidi

Kriteria Penilaian

Sudah jadi semacam rumus sepertinya bahwa jumlah kriteria penilaian dalam kerja kuratorial selalu berbanding terbalik dengan jumlah hasilnya. Yakni, semakin banyak kriteria diterapkan, semakin sedikit karya bisa diloloskan. Karena itu kami bersyukur mengetahui panitia Festival Aksara Manifesco 2019 tak menyertakan kriteria khusus untuk kami pakai saat mereka mengirimkan sekitar 1000 puisi dari sekitar 100 peserta untuk diseleksi. Meski ini tak serta-merta membuat tugas kami terasa enteng, setidaknya tak membuatnya terasa lebih berat. Continue reading “CATATAN KURATORIAL FESTIVAL MANIFESCO 2019”

BAHASA DAN SEKELUMIT CERITA TENTANG PENERJEMAHAN

Malkan Junaidi

Saat kuliah di Al-Azhar, Gus Mus ikutan-ikutan Gus Dur belajar bahasa Prancis. Namun meski sudah berlatih dengan bantuan kaset, beliau tetap merasa tak seberhasil Gus Dur, dan ini membuat beliau agak frustrasi. Gus Dur, di luar faktor kecerdasan yang tak hendak saya perbandingkan di sini atau di mana pun, dibanding Gus Mus memang memiliki lingkungan yang relatif lebih kondusif. Kiai Wachid Hasyim, sang ayah, adalah seorang menteri, dan sudah barang tentu sering menerima kunjungan tokoh terkemuka, termasuk tokoh asing. Artinya Gus Dur terbilang kerap terpapar bahasa asing. Di samping itu, di rumah kiai Wachid buku bacaan melimpah, sebagiannya berbahasa Eropa, dan konon kiai Wachid sering mengajak keluarganya mendiskusikan apa yang mereka baca. Continue reading “BAHASA DAN SEKELUMIT CERITA TENTANG PENERJEMAHAN”

Kecerobohan Sang Kritikus atau Plagiarisme Sang Penyair Nobel?

Malkan Junaidi

Dalam bukunya yang berjudul Octavio Paz, Puisi dan Esai Terpilih, diterbitkan oleh Yayasan Bentang Budaya, pada sub-kumpulan Puisi-Puisi (1995-1996), Arif Bagus Prasetyo mencantumkan sebuah puisi yang berjudul Nyanyian Diri:

Mungkin aku bisa berkelok untuk hidup bersama satwa,
Mereka begitu lembut lagi penuh percaya diri,
Aku berdiri memandang mereka begitu lama. Continue reading “Kecerobohan Sang Kritikus atau Plagiarisme Sang Penyair Nobel?”