ESENSI PUISI


Malkan Junaidi

Banyak ciri teks yang membuatnya dikategorikan puisi, namun seringkali penyair dengan sengaja menanggalkan suatu ciri justru untuk mengatakan, “Hei, bahkan tanpanya teks ini tetap puitis!”. Demikianlah ketika persajakan dan perlarikan telah menjadi penanda yang mapan bagi puisi, sejumlah penyair membuat teks dalam bentuk paragraf tanpa rima dan mengasumsikannya sebagai puisi. Ini tentu menimbulkan rasa penasaran dan pada gilirannya perdebatan akan apa sesungguhnya esensi puisi, apa penanda yang tak pernah lekang dari artefak kebudayaan ini.

Saya kiranya bukan satu-satunya yang mengajukan usulan untuk merujuk ke etimologi demi menemukan hakikat. Puisi, melalui bahasa Belanda poëzie atau bahasa Perancis poésie, berasal dari bahasa Yunani poein, berarti mencipta, menyusun, atau membangun. Puisi dengan kata lain adalah ciptaan dan penyair (padan poet) adalah pencipta. Bagaimanapun penyair bukan Tuhan dalam kepercayaan abrahamic, yang mampu menghadirkan sesuatu dari ketiadaan. Mencipta pada konteks penyair hanyalah berarti mengaransemen sejumlah bahan—ialah pengetahuan, emosi, imajinasi, dan bahasa—menjadi sebuah tulisan bernilai seni. Ia dikatakan mencipta hanya bilamana memiliki kunci menuju invensi imajinatif. Sebuah teks dengan ciri konvensional puisi (larik, rima, aliterasi, asonansi, repetisi, dan sebagainya) layak disebut puisi (katakanlah puisi yang berhasil) hanya bila ia berhasil membahasakan apa yang belum terbahasakan; yakni harus selalu ada hal baru padanya, entah dalam bentuk metafora, simile, atau perspektif terhadap topos.

Dengan wacana demikian saya meyakini: ungkapan klise dan dead metaphor mustahil disebut puisi. Puisi tak mungkin berupa sesuatu yang sudah sering diungkapkan atau sesuatu yang kehilangan daya untuk mengaktifkan pikiran. Dari sini pula kita mendapat pijakan untuk dengan tegas membedakan antara lirik lagu dan puisi lirik.

Benar bahwa di masa lalu poet pernah berarti singer, namun itu sebelum munculnya industri dan massa musik populer (bedakan dari musik pop). Sekarang di manakah bisa ditemukan orang menyebut penyanyi sebagai penyair, apalagi sangat sering lirik lagu yang dinyanyikan adalah ciptaan orang lain? Sebaliknya bukankah orang tak mungkin mendapat predikat penyair berkat puisi ciptaan orang lain? Poet adalah poet, singer adalah singer. Satu persoalan selesai.

Ihwal musik populer. Gampangnya ia adalah jenis musik yang dapat dinikmati dan ditampilkan oleh awam. Karena wacananya keawaman maka sifatnya hampir selalu tanpa kedalaman, dengan sangat sedikit atau bahkan tanpa invensi. Lirik lagu populer dengan sendirinya tidak harus puitis (namun juga tak ada larangan untuk membikinnya dalam bentuk puisi); Sifat komunikatif (baca: mudah dipahami awam) dari lirik lagu sebaliknya sering jadi pertimbangan keterjualan karya. Jika sebuah lagu dinilai provokatif (berkemampuan efektif menggerakkan emosi pendengar) sering itu bukan sebab liriknya puitis, melainkan sebab campuran dari berbagai unsurnya—eksplorasi pada gitar, perkusi, dan instrumen lainnya. Liriknya bisa sangat, katakanlah, prosais.

Iwan Fals dan Rhoma Irama adalah contoh seniman musik populer (sekali lagi bedakan dari musik pop). Banyak lagu mereka jadi hits dan dibawakan ulang penyanyi lain di berbagai kesempatan. Iwan Fals demikian berpengaruh hingga memunculkan OI, komunitas penggemar Iwan Fals, di mana-mana. Sementara Rhoma Irama sampai dijuluki raja dangdut oleh sebab sangat menonjolnya karyanya bersama Soneta pada kurun 1970-1990an. Tidak dipungkiri daya tarik lirik lagu menjadi salah satu faktor kemenonjolan. Rhoma identik dengan petuah-petuah religius sementara Iwan dengan kritik sosial. Bagaimanapun menuntut lirik lagu ciptaan keduanya dinilai sejajar dengan misalnya puisi lirik milik Rendra dan Abdul Hadi justru bisa menunjukkan betapa sang penuntut belum dengan serius membaca lirik-lirik lagu para seniman musik itu! Betapa sesungguhnya lirik-lirik tersebut penuh klise dan bahkan sebagiannya tak punya esensi untuk disebut puisi!
***

Keterangan Foto: “Penyair Dangdut” Indonesia, Inul Daratista.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *