DARI BOB DYLAN KE DENNY JA

Malkan Junaidi

“Setiap yang bisa kunyanyikan kusebut lagu. Setiap yang tak dapat kunyanyikan kusebut puisi. Setiap yang tak bisa kunyanyikan atau yang terlalu panjang untuk menjadi puisi kusebut novel,” kata Bob Dylan suatu waktu, dan kemudian Svenska Akademien memberinya Nobel Sastra dengan alasan Dylan “telah menciptakan ekspresi puitis yang baru dalam tradisi lagu Amerika yang agung” dan ia menerimanya.

Paradoks? Tentu. Di satu sisi kita melihat sebuah institusi sastra (di luar ironi industri dinamit yang membayanginya) memberikan penghargaan pada orang yang, meski pernah menerbitkan antologi puisi, lebih populer sebagai penyanyi. Di sisi lain, institusi ini memang boleh saja memberikan penghargaan khusus pada orang-orang ‘di belakang layar’, yang kontribusi atau pengaruhnya bagi perkembangan kesusastraan terbukti signifikan.

Saya belum pernah menemukan ulasan memuaskan tentang “ekspresi puitis yang baru” yang dimaksud. Dengan anggapan ada bukti Dylan memang telah menghasilkannya, saya coba memahami pemberian Nobel Sastra kepadanya itu begini: Panitia menganggap lirik-lirik lagu Amerika secara keseluruhan relatif klise sampai Dylan hadir membawa ‘roh puisi’ dalam lirik-lirik lagunya. Untuk itu sang pelantun tembang Blowin’ in the Wind itu berhak mendapat (sebagai penghargaan khusus) uang sebesar 900 ribu dolar Amerika, berikut sebuah medali emas dan selembar sertifikat.

Bob Dylan sendiri memulai pidato penerimaannya dengan mengatakan demikian:

“Ketika pertama kali saya menerima (kabar tentang) Hadiah Nobel Sastra ini, saya bertanya-tanya bagaimana sebenarnya kaitan lagu-lagu saya dengan sastra.”

Setelah panjang lebar bercerita, mulai dari Buddy Holly, Moby Dick, hingga The Odyssey, ia menyimpulkan:

“Lagu kami hidup di wilayah kehidupan. Tapi lagu tidaklah seperti sastra. Ia dimaksudkan untuk dinyanyikan, bukan dibaca. Kata-kata dalam drama Shakespeare dimaksudkan untuk dimainkan di atas panggung. Seperti juga lirik lagu dimaksudkan untuk dinyanyikan, tidak dibaca di lembaran kertas. Dan saya harap beberapa dari Anda mendapat kesempatan mendengarkan lirik-lirik ini dalam cara mereka dimaksudkan untuk didengar: dalam konser atau rekaman atau cara bagaimanapun yang digunakan orang untuk mendengarkan lagu dewasa ini.”

Jujur, saya tak puas dengan kesimpulan macam ini. Jika cuma mencari hubungan satu hal dengan hal lain dalam hidup ini, apa susahnya. Toh segalanya, secara langsung atau tidak, berhubungan. Saya berharap Dylan lebih khusus bicara soal tradisi lagu Amerika. Saya berharap dia menilai posisinya di antara tradisi tersebut. Tapi ini juga sebetulnya harapan yang salah alamat. Karena membicarakan hal itu merupakan kewajiban panitia Nobel. Dylan malah tak seharusnya diwajibkan membuat nobel lecture. Kehadirannya bahkan boleh diwakili. Dunia menunggu argumentasi panitia, bukan curhat penerima.

Memang, diberikan pada siapa pun, penghargaan sastra selalu memancing keriuhan dan kontroversi. Namun dengan adanya pidato pertanggungjawaban dari pihak penyelenggara, minimal keriuhan dan kontroversi yang dipicu akan lebih terarah. Bayangkan, pada kasus Dylan, tak cuma para peminat sastra dan sastrawan yang menilai keputusan itu keliru, Paul Connolly, seorang pengamat musik juga mengatakan:

“Bob Dylan seharusnya tidak memenangkan Nobel Sastra. Tulisannya kurang memiliki ketepatan dan wawasan emosional dibanding pesaing lain seperti Milan Kundera, dan pemenang sebelumnya seperti Seamus Heaney. Lagi pula, semua karya terbaiknya ditulis untuk dinikmati dalam konteks lagu.”

Imbas yang lebih jauh bisa ditemukan di Indonesia. ‘Ketiadaan’ pidato pertanggungjawaban dari Panitia Nobel digunakan oleh Denny JA sebagai kesempatan untuk berdalih bahwa seorang tak harus menjadi penulis dengan karya-karya bermutu untuk mendapat penghargaan atau masuk kanon sastra. Tentu ia secara tak langsung sedang membela pencantuman dirinya sebagai satu dari 33 tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh pada buku produksinya dulu. Ia menggunakan argumentum ad verecundiam untuk membungkam kritik terhadapnya: Jika Svenska Akademien saja memberikan Nobel Sastra pada Bob Dylan, berarti pemilihan Denny JA sebagai tokoh sastra paling berpengaruh oleh Tim 8 sah. Sayang, publik sastra tak terlalu bodoh untuk tak melihat bahwa bagaimanapun Svenska Akademien bukanlah bentukan Bob Dylan sebagaimana Tim 8 adalah bentukan Denny JA.

Satu respons keras diberikan Tim Stanley, jurnalis dan sejarawan Inggris, melalui akun twitter-nya: “If Dylan can be a Nobel prize laureate, Trump can be President.”

Tentu Tim kecele karena beberapa bulan kemudian Trump benar-benar jadi presiden, namun ini juga menguak kenyataan lain: dengan politik yang kotor, seorang bisa mencapai posisi tertentu yang ia inginkan, untuk sekejap atau beberapa lama.

Posisi apa yang diincar Denny JA sebetulnya? Itu bukan hal utama bagi kita meski mungkin utama bagi dia. Yang utama bagi kita, yang menentukan kita diam saja atau mengambil tindakan nyata, adalah cara yang ditempuhnya.
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *