MENGGARAMI LAUT KRITIK SASTRA

Maman S Mahayana
Pikiran Rakyat, 28 Nov 2010

Kesalahpahaman atas kritik sastra Indonesia telah membentuk sejarahnya sendiri. Bagaimanapun, latar belakang pendidikan dan tingkat apresiasi setiap pembaca, tidaklah seragam. Maka, simpang-siur pemikiran tentang kritik sastra Indonesia menggelinding, membentangkan perjalanannya yang panjang. Tanggapan atas buku Darah Daging Sastra Indonesia (2010), Damhuri Muhammad, adalah satu contoh. Semangat untuk menghasilkan kritik sastra khas Indonesia tahun 1980-an, juga kesalahpahaman lain lagi. Continue reading “MENGGARAMI LAUT KRITIK SASTRA”

PENGAJARAN SASTRA: KESALAHAN MASA LALU

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

?Situasi pengajaran sastra di sekolah menengah saat ini tidak hanya memprihatinkan, tapi sudah pada taraf ?mengerikan??. Yang diajarkan justru definisi-definisi, sedangkan tentang bagaimana karya itu sendiri malah tidak diberikan.? Demikian pendapat pengamat sastra, B. Rahmanto (Kompas, 5/9/1996). Mengapa terjadi demikian; di mana akar masalahnya sehingga pengajaran sastra di sekolah acapkali muncul sebagai keprihatinan yang tak berkesudahan? Continue reading “PENGAJARAN SASTRA: KESALAHAN MASA LALU”

Politik di Balik Ungkapan Baru

Maman S. Mahayana
Kompas, 13 April 2010

Bahasa mencerminkan bangsa! Adagium ini sesungguhnya menyimpan sejarah panjang tentang hubungan bahasa dan masyarakat. Melalui bahasa, dapat ditemukan naluri dan sikap budaya sebuah bangsa. Bahasa tak sekadar menjadi alat berkomunikasi, tetapi juga sebagai ekspresi kultural, bahkan juga ideologi. Dengan begitu, belajar bahasa dapat pula digunakan untuk memahami sikap budaya dan ideologi bangsa itu. Continue reading “Politik di Balik Ungkapan Baru”

SASTRA DI TENGAH BUDAYA KAUM PECUNDANG

Maman S. Mahayana *

Sungguh luar biasa sihir Piala Dunia! Perhatian segenap bangsa di jagat ini seperti tersedot dan tumpah pada layar kaca. Tukang beca berteriak histeris. Kesebelasan yang dijagokannya, menang. Ia berjingkrak memegang uang taruhan. Dan kaum cerdik-pandai, politisi, para eksekutif atau buruh bangunan, hanyut pula dalam tontonan yang secara langsung, sebenarnya tak ada kaitannya dengan keadaan yang terjadi di negeri ini. Continue reading “SASTRA DI TENGAH BUDAYA KAUM PECUNDANG”

KOMUNITAS SASTRA: BUKAN SEKADAR PAPAN NAMA

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Geliat sastra lahir dari pribadi kreatif. Ia mungkin saja menjadi sekadar gerak-riak. Sangat boleh jadi pula menjelma gelombang ombak yang memukau. Segalanya bergantung pada kegelisahan kreatif seorang individu sastrawan. Maka, kreativitas bagi sastrawan sesungguhnya merupakan ruh yang memungkinkannya melakukan tindak mencipta, berkarya, dan membuat perubahan. ?Kreativitas harus menjadi tanda perubahan mentalitas yang sangat berarti dalam diri makhluk manusia,? begitulah Nietzsche menekankan pentingnya kreativitas bagi manusia.1 Continue reading “KOMUNITAS SASTRA: BUKAN SEKADAR PAPAN NAMA”

Bahasa ยป