IDEOLOGI SASTRA INDONESIA

Maman S. Mahayana *

Dua tulisan tentang ideologi yang dimuat Kompas (Novel Ali, “Ideologi Media Massa” 15/4 dan Komaruddin Hidayat, “Reformasi tanpa Ideologi” 24/4) menegaskan pentingnya institusi, gerakan, dan teristimewa: bangsa, melandasi arah perjuangannya ke depan dengan sebuah ideologi. “Ideologi media massa berkaitan dengan idealisme yang mestinya menjadi dasar perjuangan pers nasional,” demikian Novel Ali. Sementara hal penting yang diajukan Komaruddin Hidayat adalah penyikapan negara menghadapi fenomena global. Di situlah, perlu diciptakan: “ideologi baru yang menyatukan kepentingan semua anak bangsa dan menjadi pengikat kohesi emosi dan cita-cita bersama ….” Continue reading “IDEOLOGI SASTRA INDONESIA”

OLIMPIADE SASTRA: MEMBANGUN PARADIGMA

Maman S Mahayana *

Olimpiade mulanya dimaksudkan sebagai penghormatan pada Zeus, Dewa Yunani kuno. Perayaan yang diselenggarakan di kota Olympia, Yunani itu sebagai cikal bakal pesta olahraga sejagat yang hingga kini diyakini sebagai perhelatan olahraga paling bergengsi dan reputasional. Pierre de Coubertin yang konon bertindak sebagai orang pertama yang membawa perhelatan itu menjadi olimpiade modern yang diselenggarakan pertama kali di Athena, Yunani tahun 1896. Selepas itu, setiap empat tahun sekali pesta olahraga termegah ini diselenggarakan yang melibatkan lebih dari separoh negara yang berada di jagat raya ini. Continue reading “OLIMPIADE SASTRA: MEMBANGUN PARADIGMA”

TKI DI MALAYSIA: MASALAH KULTUR

Maman S. Mahayana *

Mengapa terjadi eksodus Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dari Malaysia? Dalam sejarah hubungan Indonesia—Malaysia, baru kali ini terjadi “pengusiran” besar-besaran warga Indonesia oleh negeri jiran itu. Apakah duduk masalahnya sekadar menyangkut “pendatang haram” atau ada hal lain yang lebih mendasar? Sejumlah pertanyaan lain bisa saja kita deretkan lagi, meskipun barangkali jawabannya tak menyelesaikan masalah. Masalah apa sesungguhnya yang mendasari di balik peristiwa itu? Continue reading “TKI DI MALAYSIA: MASALAH KULTUR”

ALUR PEMIKIRAN KRITIK SASTRA INDONESIA

Maman S. Mahayana *

Tradisi ilmiah dan kehidupan intelektual di negeri ini, mesti diakui, masih centang-perenang. Para dosen dan peneliti kita terpaksa harus menggunakan kata nyambi dan cawe-cawe sekadar untuk menghidupi asap dapurnya. Meski begitu, masih banyak di antaranya yang tetap setia dan bertanggung jawab pada profesi. Mereka juga tidak melupakan peran sosialnya dengan bekerja dan berkarya. Bagaimana hasilnya, masyarakat yang kelak menilainya. Continue reading “ALUR PEMIKIRAN KRITIK SASTRA INDONESIA”

TERIMA KASIH DRAMA MONAS

Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Indonesia laksana memasuki zaman anomali. Maka, ia perlu dilihat dari perspektif yang tak lazim, dari kenyelenehan. Atau dalam bahasa Michel Foucault yang mengutip gagasan Pascal: ?Manusia pastilah demikian gilanya, sehingga ?kalaupun ia tidak gila?tetap dianggap gila dari sudut pandang kegilaan yang lain.? Begitulah pada saat bangsa ini dihadapkan pada anomali dan berbagai kegilaan, harus ada peristiwa yang lebih gila. Setidaknya, harus ditempatkan sebagai kenyelenehan. Hanya dengan itu, stres dan depresi kita ketika menghadapi berbagai himpitan ekonomi, ketidakpercayaan pada pemerintah, dan kemuakan pada partai politik, agak terhibur dan dapat melupakannya sekejap. Continue reading “TERIMA KASIH DRAMA MONAS”

Bahasa »