MENGEKSPLOITASI SUMBER CERITA KOMIK

Maman S. Mahayana *

Sastra adalah karya seni yang memanfaatkan bahasa sebagai mediumnya. Peristiwa dalam sastra disajikan dalam bentuk deskripsi narasi. Bahasa dalam karya sastra dimaksudkan untuk menggambarkan rangkaian peristiwa yang keseluruhannya membangun cerita.

Berbeda dengan karya sastra, komik adalah karya seni yang memanfaatkan gambar sebagai mediumnya. Gambar menjadi sarana kreator (komikus) untuk menyampaikan ide atau gagasan, kegelisahan, kritik sosial atau bahkan potret zamannya. Continue reading “MENGEKSPLOITASI SUMBER CERITA KOMIK”

HUBUNGAN BUDAYA MELAYU MELALUI TEATER

Maman S. Mahayana *

Apa yang dapat dilakukan teater dalam menjalin hubungan budaya Melayu bagi masyarakat di kawasan Asia Tenggara ini? Apa pula relevansinya dengan budaya Melayu sementara hubungan antarbangsa di kawasan ini tidak menghadapi masalah yang mengkhawatirkan? Adakah signifikansi hubungan itu dalam meningkatkan kerja sama kultural masyarakat di kawasan ini? Continue reading “HUBUNGAN BUDAYA MELAYU MELALUI TEATER”

FAKTA-FIKSI DALAM NOVEL SENJA DI JAKARTA*

Maman S. Mahayana **

Adanya pendekatan sosiologis dalam kritik sastra sebenarnya dimungkinkan karena kesusastraan berurusan dengan dunia manusia, atau dunia simbolik yang mengacu pada kehidupan manusia. Karya sastra adalah produk pengarang yang hidup di lingkungan sosial. Dengan begitu, karya sastra merupakan dunia imajinatif pengarang yang selalu terkait dengan kehidupan sosial. Pengarang sebagai anggota masyarakat, dilahirkan, dibesarkan, dan memperoleh pendidikan di tengah-tengah kehidupan sosial. Oleh karena itu, ia juga, secara sadar atau tidak, telah menjalankan peranannya sebagai anggota masyarakat sejak ia lahir.1 Continue reading “FAKTA-FIKSI DALAM NOVEL SENJA DI JAKARTA*”

SEOLAH-OLAH KRITIK SASTRA

Maman S. Mahayana
Pikiran Rakyat 3 Okt 2010

Esai “Kritik dan ?Hama Sastra?” yang dimuat “PR” (19/9), tak mubazir kiranya jika ditanggapi. Ia seolah-olah esai “kritik sastra” yang enak dibaca, mengalir lancar memainkan bahasa. Akan tetapi, di sana sini ramai sesat nalar dan salah data. Tulisan ini coba mengembalikan duduk perkaranya ke jalan yang benar.

Esai itu berangkat dari buku Damhuri Muhammad, Darah Daging Sastra Indonesia (2010) yang memuat berbagai aspek sastra Indonesia; sejarah sastra, praktik kritik sastra, dan beberapa pandangan Damhuri tentang kehidupan kesusastraan Indonesia. Meski pembaca berkuasa menanggapi memaknai teks apa pun sebagaimana disarankan resepsi sastra, esai itu nyata benar telah mereduksi wacana keseluruhan isi buku. Continue reading “SEOLAH-OLAH KRITIK SASTRA”

SASTRA ACEH: SEBUAH PERJALANAN PANJANG

DARI HAMZAH FANSURI SAMPAI GENERASI TERKINI *

Maman S. Mahayana **

Membicarakan perjalanan sastra Aceh dengan rentang waktu yang begitu panjang (dari Hamzah Fansuri sampai Generasi Terkini) adalah tugas mahaberat yang keseluruhan perjalanannya mustahil dapat diungkapkan dalam beberapa halaman saja. Oleh karena itu, pembicaraan ini sesungguhnya sekadar gambaran umum, bagaimana sastra Aceh bergulir, menggelinding dan kemudian menjadi salah satu bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari lanskap kesusastraan Indonesia. Continue reading “SASTRA ACEH: SEBUAH PERJALANAN PANJANG”

Bahasa ยป