Pertanyaan untuk Maman S. Mahayana, Kritikus Sastra Indonesia

Maman S. Mahayana
Pewawancara: Dony P. Herwanto

Kembali ke Akar Tradisi

Di sini (Korea.red) sudah jam sembilan malam Don. Begitu jawab Maman S. Mahayana, Kritikus Sastra Indonesia ketika wartawan Jurnal Bogor, Dony P. Herwanto menyapanya lewat jaringan pertemanan Facebook (FB). Maman yang tercatat sebagai warga Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor itu, kini tinggal di Korea. Continue reading “Pertanyaan untuk Maman S. Mahayana, Kritikus Sastra Indonesia”

TERBANGLAH SI BURUNG MERAK

Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Rendra (7 November 1935 ? 6 Agustus 2009), Si Burung Merak itu, akhirnya terbanglah. Sekian lama ia terbaring di rumah sakit, selama itu pula serangkaian doa untuk kesembuhannya terus dilantunkan oleh sejumlah komunitas seniman di berbagai kota di Indonesia. Bahkan, para seniman di Malaysia, yang memang mengenal baik sosok Rendra, sengaja mengumandangkan doa bersama. Meskipun Tuhan berkehendak lain, kita menangkap adanya gelombang solidaritas atas seseorang yang sudah dianggap milik bersama. Fenomena apakah gerangan sehingga para seniman tiba-tiba bergerak berdoa bersama tidak untuk dirinya sendiri, tetapi untuk seorang Rendra? Continue reading “TERBANGLAH SI BURUNG MERAK”

MALAYSIA MENJELANG PROKLAMASI INDONESIA

Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Hubungan Indonesia?Malaysia dalam satu dasawarsa ini kerap diwarnai insiden yang seolah-olah menciptakan ketegangan serius bagi kedua negara. Meski paroh pertama dasawarsa 1960-an (awal tahun 1965) pernah terjadi konflik Indonesia?Malaysia, dalam kenyataannya, konflik itu hanya berlaku bagi Jakarta dan Kuala Lumpur. Pasukan Indonesia yang bertugas di perbatasan Malaysia, tidak pernah memicu pelatuk senjatanya. Demikian juga, hubungan pendudukan di perbatasan kedua negara, berjalan seperti tidak sedang terjadi ketegangan antara Indonesia?Malaysia. Continue reading “MALAYSIA MENJELANG PROKLAMASI INDONESIA”

SURAT DARI SEOUL

WAN, SELAMAT JALAN!
Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Di pojok kampus HUFS? di pinggir Seoul. Aku terpaku sendiri di tengah kehidupan masyarakat Korea yang tak pernah diam. Segalanya bergerak: fanta rhei! Langkah-langkah cepat dan berderap. Para mahasiswa yang bergegas. Sepatu kulit berhak tinggi, menutup betis mereka. Suaranya keras menghentak jalanan dan tangga-tangga. Dedaunan rontok karena tuntutan hukum alam musim gugur. Sementara di dahan dan ranting pohon-pohon kesemek, bergelantungan buahnya yang berwarna merah menunggu keriput. Continue reading “SURAT DARI SEOUL”

Bahasa »