PERKEMBANGAN PEMIKIRAN ACHDIAT KARTA MIHARDJA

Maman S Mahayana *

Achdiat Karta Mihardja (AKM), lahir di Cibatu, Garut, 6 Maret 1911 dan meninggal di Canberra, Australia, 8 Juli 2010. Ia pergi meninggalkan kita, tetapi karyanya tetap hidup sebagai monumen bagi perjalanan kesusastraan Indonesia. Pada tahun 2005, ia menerbitkan novel Manifesto Khalifatullah (MK). Dengan begitu, AKM satu-satunya sastrawan di dunia yang masih berkarya dalam usia lebih 94 tahun. Dalam sastra dunia, Sophocles (496-406 sebelum Masehi, dramawan Yunani klasik) menerbitkan karyanya lima tahun setelah kematiannya, dan George Bernard Shaw (1856?1950, dramawan Inggris) menerbitkan karya terakhirnya dalam usia 93 tahun. Continue reading “PERKEMBANGAN PEMIKIRAN ACHDIAT KARTA MIHARDJA”

SASTRA KOREA LEBIH HOMOGEN

(Wawancara Maman S. Mahayana dengan Penyair Soni Farid Maulana, dimuat di Harian Pikiran Rakyat, Bandung, Kamis, 1 Juli 2010)

1. Sejak kapan, dan sampai kapan jadi dosen tamu di Korea?

Awal September 2009 saya mulai mengajar di Department of Indonesian-Malay Studies, Hankuk University of Foreign Studies (HUFS). Dikontrak untuk dua tahun, dan masih dibolehkan memperpanjang lagi satu tahun. Jadi, paling cepat ya, 2011. Tapi saya berharap bisa sampai 2012 sampai anak saya lulus SMP Korea. Sekarang dia baru kelas 2 SMP di Seoul. Continue reading “SASTRA KOREA LEBIH HOMOGEN”

ANGKATAN 70-AN: KEMBALI KE TRADISI

(Konsep Estetik Abdul Hadi W.M. tentang Angkatan 70-an)

Maman S Mahayana *

Dalam perjalanan sejarah kesusastraan Indonesia, kita mengenal adanya sejumlah penyebutan tentang penggolongan, periodesasi atau angkatan. Penyebutan itu tentu saja tidak serta-merta muncul begitu saja. Selalu ada usaha untuk merumuskan semangat yang melatarbelakanginya atau gerakan estetik yang mendasari karya-karya yang muncul sejalan dengan semangat zamannya. Continue reading “ANGKATAN 70-AN: KEMBALI KE TRADISI”

SEJARAH PERKEMBANGAN TEORI DAN KRITIK SASTRA INDONESIA

Maman S. Mahayana *

Teori sastra (literary theory)[1] di Indonesia secara praksis sering kali dipahami juga sebagai kritik sastra (criticism).[2] Sementara kritik sastra tidak jarang diperlakukan sebagai pendekatan (approaches to literature).[3] Dalam hal ini, kritik sastra dianggap merupakan pendekatan yang dapat dimanfaatkan dan digunakan untuk berbagai kepentingan penelitian terhadap karya sastra konkret. Demikianlah, dalam banyak perbincangan, baik teori sastra maupun pendekatan atau penelitian sastra, hampir selalu ditempatkan dalam pengertian sebagai kritik sastra. Atau di bagian lain, teori sastra dikatakan juga sebagai teori kritik sastra.[4] Jadi, pembicaraan mengenai strukturalisme atau semiotik, misalnya, dianggap sebagai bagian dari pembicaraan teori kritik sastra. Continue reading “SEJARAH PERKEMBANGAN TEORI DAN KRITIK SASTRA INDONESIA”

DUNIA SURAM MARHALIM ZAINI

Maman S. Mahayana *

Marhalim Zaini: sebuah nama yang patut diperhitungan dalam deretan sastrawan Riau masa kini. Ia tergolong sastrawan generasi selepas Ibrahim Sattah, Rustam S. Abrus, BM Syam, Idrus Tintin, Ediruslan PE Amanriza, Sutardji Calzoum Bachri, Sudarno Mahyudin, Rida K. Liamsi, Tien Marni, Al-Azhar, Taufik Ikram Jamil, Fakhrunnas MA Jabbar, Hoesnizar Hood, Samson Rambah Pasir, Abel Tasman, Syaukani Al Karim, dan sederet panjang sastrawan Melayu lainnya yang bermunculan seperti tiada habisnya. Continue reading “DUNIA SURAM MARHALIM ZAINI”

Bahasa ยป