MENGEMBALIKAN ABDULLAH MUNSYI KE JALAN YANG BENAR

Maman S Mahayana *

Amin Sweeney, Karya Lengkap Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia bekerja sama ecole Francaise d’Extreme-Orient, 2005, xxiv + 370 hlm.

Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, pujangga masa lalu yang meninggalkan begitu banyak kontroversi. Dalam sastra Indonesia, ia ditempatkan sebagai tokoh periode transisi, perintis yang konon membawa sastra Melayu lama memasuki sastra Indonesia modern. Continue reading “MENGEMBALIKAN ABDULLAH MUNSYI KE JALAN YANG BENAR”

PARODI ?SYAHWAT? DAN PROBLEM JENDER

Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Cerpen, sebagai cerita rekaan yang mengolah fakta menjadi fiksi, berada dalam dunia yang di sana keserbamungkinan dan kebolehjadiannya bisa dihadirkan dalam serangkaian peristiwa. Jadi, rentetan kisahan dalam cerpen, boleh kita curigai sebagai peristiwa yang serba mungkin. Semuanya sah, lantaran imajinasi bisa menembus ruang dan waktu, bahkan juga dapat seenaknya menabrak apa pun, termasuk logika formal. Continue reading “PARODI ?SYAHWAT? DAN PROBLEM JENDER”

DOKTOR HONORIS CAUSA TAUFIQ ISMAIL

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Taufiq Ismail, penyair Angkatan 66 itu, kini berhak menyandang gelar Doktor di depan namanya. Sabtu, 8 Februari 2003, Senat Universitas Negeri Yogyakarta (UNY, dulu IKIP Yogyakarta), resmi menganugerahi gelar doktor honoris causa kepada penyair yang juga dokter hewan itu. Lalu apanya yang istimewa dari pemberian gelar yang seperti itu? Atas dasar apa pula UNY menganggap pantas untuk mengalungkan samir kepada penyair kelahiran Bukittinggi, 25 Juni 1935 itu? Apakah lantaran dua antologinya, Tirani dan Benteng (1993) dan Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1999) begitu terkenal atau ada kiprah lain yang dipandang penting bagi dunia pendidikan di Indonesia? Barangkali pertanyaan lain masih dapat kita deretan. Dan pertanyaan itu pantas pula kita ajukan, justru untuk menempatkan peranannya secara proporsional. Continue reading “DOKTOR HONORIS CAUSA TAUFIQ ISMAIL”

MEMPERMAINKAN MITOS KEPURBAAN

Maman S. Mahayana *

“Seks sama berharganya dengan ajal,” begitulah Michel Foucault menempatkan perkara seks dalam sejarah umat manusia. Oleh karena itu, manusia selalu menempatkan kedua barang berharga itu –seks dan ajal—sebagai ‘menara gading’ yang hanya boleh disentuh oleh para tetua yang bijaksana atau mereka yang sudah dewasa dan sudah beranak-pinak. Begitulah, seks dan ajal menjadi sebuah peristiwa penuh mistis dan terkesan sakral. Continue reading “MEMPERMAINKAN MITOS KEPURBAAN”

NOVEL FILSAFAT: TUHAN PUN TAK MELARANG

Catatan Kecil buat Ahmad Nurullah
Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Tulisan Ahmad Nurullah (?Yang Betul: Novel Filosofis,? MIM, 27 Februari 2005) memancarkan pesona dan seperti menghipnotis. Dengan menebarkan sejumlah pandangan para filsuf dunia, Ahmad Nurullah (AN) berhasil membekap substansi dua novel yang disinggungnya: Payudara karya Chavchay Syaifullah dan Tapak Sabda karya Faiz Noor. Saya kagum atas penalaran yang dikembangkannya. Memulai dari sebuah kejujuran dan mengakhiri dengan penghakiman. Di tengah itu, ia menebar jaring argumentasi yang pada akhirnya seperti menjerat kita pada perangkapnya. Sebuah esai argumentatif yang lumayan meyakinkan, tetapi sekaligus juga berbahaya dan menyesatkan! Continue reading “NOVEL FILSAFAT: TUHAN PUN TAK MELARANG”

Bahasa »