UDA DAN DARA

Usman Awang
(Diindonesiakan dan diberi anotasi oleh Maman S. Mahayana)

Bulan baru mengambang.

Awan larat menabiri langit dengan bentuk-bentuk yang berupa manusia, binatang kuda, pulau-pulau dan gunung-gunung, sangatlah indah kelihatannya. Malah bertambah indah bila cahaya perak menyapu sekeliling bulan yang begitu rupawan tersenyum melimpahkan sinarnya itu. Continue reading “UDA DAN DARA”

NOVEL DENGAN SEMANGAT GURU SEJATI *

Maman S. Mahayana **

Fakta adalah realitas yang terjadi dalam kehidupan ini. Sastra coba mengangkat realitas itu tidak sebagaimana adanya. Ia telah mengalami proses pemilahan dan pemilihan, seleksi dan rekayasa. Maka, realitas dalam sastra adalah fiksional. Ia seolah-olah realitas an sich. Padahal sesungguhnya realitas itu hanya berlaku dalam karya itu sendiri. Tak ada hubungan wajib pembaca mempercayainya atau tidak. Ia bebas diperlakukan apa saja. Sastra jadinya bagai bangunan yang bahan-bahannya dapat kita kenali berdasarkan fakta yang pernah atau mungkin terjadi. Continue reading “NOVEL DENGAN SEMANGAT GURU SEJATI *”

MENCARI TUHAN KE ENTAH

Maman S. Mahayana *

Dalam sejarah peradaban umat manusia, pengagungan terhadap sesuatu yang transenden telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sikap religiositas manusia itu sendiri. Manusia pada awal dan kemudiannya, senantiasa dihinggapi sikap seperti itu. Dari sana pula lalu muncul berbagai cara untuk mengejawantahkan pengagungannya terhadap sesuatu yang transenden itu. Caranya dapat bermacam-macam dan dapat pula muncul lantaran berbagai hal; ketakutan, kegelisahan, keputusasaan, kerinduan atau bahkan kecintaan yang mendalam dan hasrat untuk jumpa dengan-Nya. Continue reading “MENCARI TUHAN KE ENTAH”

PERCINTAAN DENGAN ALAM

Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Sejumlah kritikus sastra yang berorientasi pada pendekatan sosio-kultural, berkeyakinan bahwa karya sastra tidak lahir secara serta-merta. Ia mula-mula sangat mungkin lahir dari sebuah peristiwa sebagai pengalaman selintasan, atau pengalaman melihat, mendengar, merasakan, bahkan sampai pada pengalaman dahsyat yang menakjubkan?menakutkan. Segala pengalaman itu mengeram, menduduki singgasana memori yang tak gampang dihilangkan begitu saja. Ia mengganggu?menggelisahkan. Lalu mengendap dan terus mengikuti segala gerak pikiran dan perasaannya. Continue reading “PERCINTAAN DENGAN ALAM”

KEBERPIHAKAN

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Keberpihakan menafikan netralitas. Ia muncul lantaran ada kepentingan subjektif. Dalam hal ini, objektivitas menjadi tidak lagi penting. Mengingat keberpihakan dilatarbelakangi kepentingan subjektif, maka pencapaian tujuan yang melatardepaninya. Di sini, segala cara cenderung menjadi sah, sejauh target dapat diraih.

Dalam permainan sepak bola, mencetak gol adalah target guna mencapai kemenangan. Dalam permainan olahraga apa pun, kemenangan adalah tujuan. Tetapi, untuk mencapai tujuan itu, ada dasar dan aturan main yang mesti dijunjung tinggi semua pihak yang terlibat, yaitu sportivitas dan fair play. Continue reading “KEBERPIHAKAN”

Bahasa ยป