KEGELISAHAN TANDA HIDUP

Maman S. Mahayana *

Kegairahan hidup dan semangat yang meledak-ledak! Itulah kesan yang segera muncul ketika kita pertama kali dapat mengobrol dengan sosok Sitor Situmorang. Sebagai seorang Batak, ia sangat terbuka, lugas, dan gampang diajak bicara. Semalaman kita bisa dengan enteng berdiskusi, berdebat atau berbual-bual ke sana ke mari, jika ada topik pembicaraan yang diminatinya. Gaya dan sikapnya yang terkesan sangat egaliter itu, tidak jarang bakal menyeret kita pada pusaran masalah yang disodorkannya. Continue reading “KEGELISAHAN TANDA HIDUP”

PUISI-PUISI MIMBAR LAWEN NEWAL

Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Lawen Newal yang kiprah kepenyairannya juga dikenal dengan nama Junewal Muchtar adalah salah seorang penyair penting Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Meski begitu, kiprah kepenyairannya telah memantapkan dirinya, bahwa sosok Lawen Newal adalah penyair yang di kawasan Riau, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam, mempunyai tempat tersendiri yang kokoh?kuat. Dua karya sebelumnya, Batu Api (1999) dan Perjalanan Darah ke Kota (2003) memperlihatkan kegelisahannya dalam tarik-menarik masa lalu puak Melayu yang ditaburi puisi-puisi tradisional yang tiada henti terus mengalirkan tradisi, di satu sisi, dan perubahan sosial dalam arus perkembangan zaman pada sisi yang lain. Continue reading “PUISI-PUISI MIMBAR LAWEN NEWAL”

DICARI NOVELIS LAMPUNG

Maman S. Mahayana *

Selepas saya membolak-balik catatan perjalanan novel Indonesia –sejak sebelum Balai Pustaka sampai sekarang—saya berdoa: semoga pengamatan saya salah. Di sana, tidak ada novel karya sastrawan Lampung! Padahal, Lampung punya sejarah panjang tradisi bersastra. Datang saja misalnya ke kabupaten Way Kanan. Maka, di daerah itu kita akan menjumpai begitu banyak sastra lisan yang menarik. Continue reading “DICARI NOVELIS LAMPUNG”

SASTRA SUNDA YANG KIAN MENGKILAP

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Sastra Sunda, sebagai sastra etnik, juga sastra etnik lain, diandaikan berada dalam posisi terjepit ketika berhadapan dengan sastra Indonesia. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional menjerumuskan kedudukan sastra daerah menerima nasib dalam posisi marjinal. Sastra etnik seketika mengalami degradasi. Ia tidak dapat melepaskan bayang-bayang sastra Indonesia. Begitu juga ketika sastra daerah dikaitkan dengan perkara komersial, ia tak leluasa masuk wilayah pendukungnya. Kendala utamanya jatuh pada alasan klise: tak ada pembaca, tak ada pembeli. Penerbit pun emoh menerbitkan. Continue reading “SASTRA SUNDA YANG KIAN MENGKILAP”

Bahasa »