Posted by PuJa on August 10, 2011
Maman S. Mahayana * http://mahayana-mahadewa.com/ Leila S. Chudori, 9 dari Nadira (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, Oktober 2009, xi + 270 halaman) Konsep cerpen—novel akhirnya gagal mempertahankan dirinya. 9 dari Nadira boleh mengajari para penghamba teori untuk tidak lagi bersikukuh pada konsep. Bukankah teks sastra yang melahirkan teori? Maka ia harus rela mendahulukan teks (sastra) yang [...]
Filed under: Resensi
Posted by PuJa on June 3, 2011
Maman S. Mahayana http://mahayana-mahadewa.com/ Bibhutibhushan Banerji, Pater Pancali: Tembang Sepanjang Jalan, terj. Koesalah Soebagio Toer, (Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1996), 491 halaman. India sungguh merupakan negeri yang amat kaya dengan tradisi kebudayaannya. Dalam sastra lisan, negeri berpenduduk hampir semiliar itu, pada abad ke-3 telah melahirkan Pancatantra karya seorang Brahmana India, yang kemudian menjadi sumber cerita-cerita [...]
Filed under: Resensi
Posted by PuJa on May 31, 2011
Maman S Mahayana http://mahayana-mahadewa.com/ Mabes Polri memperkarakan majalah Tempo, edisi “Rekening Gendut Perwira Polisi.” Tuduhannya, Tempo menghina institusi Polri sebagaimana diatur Pasal 207 dan 208 KUHP (Kompas.com, 1 Juli 2010). Musababnya, cover majalah itu menggambarkan seseorang berseragam cokelat sedang menggiring tiga celengan babi berwarna pink dengan tali police line. “Penafsiran kami, personifikasi polisi bergaul dengan [...]
Filed under: Canting
Posted by PuJa on May 28, 2011
Maman S Mahayana * http://mahayana-mahadewa.com/ Hanna Fransisca, Konde Penyair Han (Jakarta: Katakita, 2010), 141 halaman. Kwee Tek Hoay, awal tahun 1900-an. Perintis sastra Indonesia ini berhasil membangun tradisi berdiskusi di kalangan penulis peranakan Tionghoa. Ia juga kerap menghidupkan pantun dan syair dalam pesta para nyonya Tionghoa. Pada zamannya, sastrawan peranakan Tionghoa—sebagaimana dicatat Claudine Salmon—berhasil menyebarkan [...]
Filed under: Resensi
Posted by PuJa on April 8, 2011
Maman S Mahayana* Kompas, 16 Desember 2006 Bahasa Melayu, yang kemudian menjadi bahasa Indonesia, sudah sejak lama mengandung dan mengundang sihir. Ia menyimpan kekuatan magis. Siapa pun yang berhubungan intim dengannya, bakal terjerat pesona. Menggaulinya laksana menggerayangi sosok tubuh yang penuh misteri. Semakin mengenal seluk-beluknya, semakin ingin mengungkap daya pukaunya. Di situlah, bahasa Indonesia sebagai [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on March 23, 2011
Maman S Mahayana http://mahayana-mahadewa.com/ Dua tulisan tentang ideologi yang dimuat Kompas (Novel Ali, “Ideologi Media Massa” 15/4 dan Komaruddin Hidayat, “Reformasi tanpa Ideologi” 24/4) menegaskan pentingnya institusi, gerakan, dan teristimewa: bangsa, melandasi arah perjuangannya ke depan dengan sebuah ideologi. “Ideologi media massa berkaitan dengan idealisme yang mestinya menjadi dasar perjuangan pers nasional,” demikian Novel Ali. [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on February 12, 2011
Maman S Mahayana http://mahayana-mahadewa.com/ Olimpiade mulanya dimaksudkan sebagai penghormatan pada Zeus, Dewa Yunani kuno. Perayaan yang diselenggarakan di kota Olympia, Yunani itu sebagai cikal bakal pesta olahraga sejagat yang hingga kini diyakini sebagai perhelatan olahraga paling bergengsi dan reputasional. Pierre de Coubertin yang konon bertindak sebagai orang pertama yang membawa perhelatan itu menjadi olimpiade modern [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on February 5, 2011
Maman S. Mahayana http://mahayana-mahadewa.com/ Mengapa terjadi eksodus Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dari Malaysia? Dalam sejarah hubungan Indonesia—Malaysia, baru kali ini terjadi “pengusiran” besar-besaran warga Indonesia oleh negeri jiran itu. Apakah duduk masalahnya sekadar menyangkut “pendatang haram” atau ada hal lain yang lebih mendasar? Sejumlah pertanyaan lain bisa saja kita deretkan lagi, meskipun barangkali jawabannya tak [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on December 28, 2010
Maman S. Mahayana http://mahayana-mahadewa.com/ Tradisi ilmiah dan kehidupan intelektual di negeri ini, mesti diakui, masih centang-perenang. Para dosen dan peneliti kita terpaksa harus menggunakan kata nyambi dan cawe-cawe sekadar untuk menghidupi asap dapurnya. Meski begitu, masih banyak di antaranya yang tetap setia dan bertanggung jawab pada profesi. Mereka juga tidak melupakan peran sosialnya dengan bekerja [...]
Filed under: Esai