BINTANG BARU NOVELIS WANITA

Maman S Mahayana*
http://mahayana-mahadewa.com/

Judul: Jendela-Jendela, Penulis: Fira Basuki, Penerbit: Grasindo, Jakarta, Cetakan I, Juli 2001, Tebal: 151 halaman

Setelah Ayu Utami (Saman, 1998), Oka Rusmini (Tarian Bumi, 2000), dan Dewi Lestari (Dee) (Supernova, 2001), kini muncul satu lagi novelis wanita, Fira Basuki, lewat novelnya, Jendela-Jendela; sebuah karya yang penuh pengharapan. Ia hadir dengan gaya yang berani dan menjanjikan. Oleh karena itu, rasanya sungguh pantas jika ia dijejerkan dalam deretan nama-nama itu. Pasalnya bukan sekadar keberaniannya mengungkapkan hubungan perselingkuhan ?yang ?dirumuskan? Nh. Dini dalam satu kata: tandas? melainkan juga lantaran cara bertuturnya yang cerdas dan terkesan sangat bersahaja. Continue reading “BINTANG BARU NOVELIS WANITA”

PETA KONSTELASI PENYAIR SUMATERA

Maman S. Mahayana *

Pertemuan penyair se-Sumatera (Aceh, Babel, Bengkulu, Jambi, Kepri, Lampung, Riau, Sumbar, Sumsel, Sumut) di Bengkalis, 17—19 Januari 2003, memperlihatkan, betapa sesungguhnya Sumatera masih menyimpan potensi yang kaya dan berlimpah. Kepenyairan Sumatera yang pernah mendominasi perjalanan sastra Indonesia sebelum dan awal merdeka –seperti yang pernah dibangun sastrawan Balai Pustaka, Pujangga Baru, Angkatan 45, hingga ke nama-nama Taufiq Ismail, Leon Agusta, Sutardji Calzoum Bachri, Hamid Jabar, dan sederet panjang nama lain—sangat mungkin kini akan bangkit kembali. Continue reading “PETA KONSTELASI PENYAIR SUMATERA”

SIMBOLISME PETAK—UMPET

: “MENGUAK—NEGERI AIR MATA” ABDUL KADIR IBRAHIM

Maman S. Mahayana *

Melayu dengan tradisi panjang kesusastraannya, hingga kini tetap kokoh menjadi bagian kesusastraan Indonesia. Dalam peta perkembangan kesusastraan Indonesia, dunia Melayu dengan keagungan ketamadunannya—tidak hanya menempatkan diri sebagai cikal-bakal bahasa dan kesusastraan Indonesia, tetapi juga terus-menerus ikut menyemarakkan capaian-capaian estetiknya. Lihat saja capaian estetik yang dipancangkan Ibrahim Sattah yang kemudian menjadi makin kokoh melalui Sutardji Calzoum Bachri. Dua penyair penting ini, tempatnya menjadi begitu khas, unik, dan nyeleneh sendiri, sehingga posisinya seperti tidak dapat lagi digoyahkan. Continue reading “SIMBOLISME PETAK—UMPET”

KOMEDI SATIRIS PRESIDEN PENYAIR

Maman S Mahayana
mahayana-mahadewa.com

Sutardji Calzoum Bachri, Hujan Menulis Ayam, Magelang: Indonesia Tera, 2001, xiv + 94 halaman.

Presiden penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri, yang jabatan kepresidenannya dilekatkan sendiri, tanpa Sidang Istimewa, memang lebih dikenal lantaran kepenyairannya yang khas, cerdas dan kadangkala nyeleneh. Gebrakannya lewat antologi O Amuk Kapak (1981) telah menempatkannya sebagai pendobrak peta puisi Indonesia tahun 1970-an. Membaca antologinya itu, orang mesti berkerut dahi, mungkin juga dengan geleng kepala. Continue reading “KOMEDI SATIRIS PRESIDEN PENYAIR”

GENERASI “TAMU” CERPENIS INDONESIA 1980-AN

Maman S Mahayana *

Perkembangan cerpen Indonesia mutakhir, terutama memasuki satu dasawarsa 1980-an, tidak pelak lagi, banyak ditentukan oleh perkembangan media massa. Majalah Horison yang sudah sejak lama dipandang sebagai majalah sastra ‘satu-satunya’ yang sering juga dijadikan sebagai ‘barometer’ bagi para cerpenis pemula, kini tidak lagi dianggap demikian. Setidak-tidaknya, majalah Horison tidak diperlakukan lagi sebagai satu-satunya yang dapat digunakan untuk ‘tumpuan’ para penulis pemula ?memantapkan? namanya sebagai cerpenis. Continue reading “GENERASI “TAMU” CERPENIS INDONESIA 1980-AN”

Bahasa »