APRESIASI ATAS PUISI PARA PENYAIR YANG TERCECER

KEGELISAHAN TANDA HIDUP

Maman S. Mahayana *

Kegelisahan tanda hidup: itulah yang memaksa manusia terus memelihara dinamika dan berkembang dengan berbagai kreativitasnya. Itulah yang menyebabkan para penulis-sastrawan, terus berkarya sepanjang usianya. Tak ada kata pensiun bagi penulis selama nyawanya belum melayang. Dan kegelisahan itu lahir dari sebuah elan yang datang bukan sekadar fanta rhei, segalanya mengalir dinamis, melainkan juga mengalir dengan semangat membangun sesuatu yang baru, mencipta dan menegakkan monumen. Atau, Continue reading “APRESIASI ATAS PUISI PARA PENYAIR YANG TERCECER”

POTRET SOSIAL DAN WARNA LOKAL WILDAM YATIM

Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Setiap karya sastra mesti diperlakukan secara khas, unik. Dunia imajinatif yang digambarkan dalam karya sastra tertentu, hanya ada dan berlaku dalam karya sastra yang bersangkutan. Ia mesti ditempatkan secara berbeda dari karya sastra lain. Masalahnya,. sebuah cipta sastra adalah hasil perenungan yang intens dari subjek pengarang yang pasti berbeda dengan subjek pengarang yang lain. Oleh karena itu, satu peristiwa atau masalah yang sama, akan ditanggapi dan menghasilkan pandangan yang berbeda jika diungkapkan oleh dua orang pengarang atau lebih. Continue reading “POTRET SOSIAL DAN WARNA LOKAL WILDAM YATIM”

POTRET SOSIAL MASYARAKAT BETAWI

Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Cerpen-cerpen SM Ardan sebagian besar cenderung mengangkat persoalan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Betawi; masyarakat yang memang sangat dikenalnya benar. Di sana, Ardan seolah-olah memotret apa saja yang dilihatnya. Maka, apapun yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Betawi, sangat mungkin telah menjadi tema cerpen-cerpennya. Terkesan kuat, ia sekadar hendak mewartakan secara apa adanya segala yang terjadi atau yang menjadi kegelisahannya. Oleh karena itu, tema cerita dalam cerpen-cerpennya begitu beragam. Continue reading “POTRET SOSIAL MASYARAKAT BETAWI”

KEDUDUKAN PARA PRIYAYI DALAM PETA NOVEL INDONESIA MODERN

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Umar Kayam dalam peta kesusastraan Indonesia mencuat namanya ??terutama?? karena cerpen panjangnya ?Sri Sumarah? dan ?Bawuk? (1975) serta beberapa cerpen lainnya yang dimuat di majalah Horison. Kini ia telah meninggalkan kita dengan sejumlah warisan berupa sejumlah cerpen, buku esai, dan dua buah novel: Para Priyayi (Pustaka Utama Grafiti, 1992) dan Jalan Menikung (2001). Jika dalam peta cerpen, ia berhasil mengangkat kultur Jawa dengan sangat meyakinkan, lalu bagaimana pula dengan novelnya, Para Priyayi? Tulisan ini coba menempatkan Para Priyayi (selanjutnya disingkat: PP) dalam peta novel Indonesia mutakhir. Continue reading “KEDUDUKAN PARA PRIYAYI DALAM PETA NOVEL INDONESIA MODERN”

Bahasa ยป