POTRET MASYARAKAT PASCATRADISIONAL

Maman S. Mahayana *

Jika sastra dipercaya merupakan potret sosial yang mengusung ruh kebudayaan masyarakatnya, maka boleh jadi antologi cerpen karya Fakhrunas MA Jabbar ini merepresentasikan kebalau kegelisahan masyarakat Melayu masa kini. Ia berada dalam sebuah garis demarkasi antara keagungan masa lalu dan kesuraman masa depan. Ia bagai berada di tengah kehidupan yang tak dapat melepaskan diri dari tradisi, mitos-mitos masa lalu, dan cengkraman sejarah puak Melayu di satu pihak, dan di pihak lain, ia juga menyadari kondisi masyarakat Melayu masa kini yang tak dapat menahan modernitas. Continue reading “POTRET MASYARAKAT PASCATRADISIONAL”

BAHRUM RANGKUTI: ANGKATAN 45 YANG TERLUPAKAN

Maman S. Mahayana *

Selama ini, pembicaraan mengenai sastrawan Angkatan 45 selalu terfokus pada diri Chairil Anwar, Asrul Sani, dan Rivai Apin. Ketiga penyair inilah yang kita kenal lewat antologi puisinya, Tiga Menguak Takdir (1948). Mereka pula yang menyatakan sikap berkeseniannya dalam Surat Kepercayaan Gelanggang yang dimuat dalam majalah Siasat, 23 Oktober 1950. Sastrawan Angkatan 45 lainnya, dapatlah disebutkan beberapa di antaranya, Achdiat Karta Mihardja, Idrus, M. Balfas, Pramoedya Ananta Toer, Mochtar Lubis, Sitor Situmorang, Usmar Ismail, El Hakim, Rosihan Anwar, dan Utuy Tatang Sontani. Continue reading “BAHRUM RANGKUTI: ANGKATAN 45 YANG TERLUPAKAN”

PELANGI POTRET PUASA DAN LEBARAN

Maman S. Mahayana

Antologi cerpen, baik karya perseorangan, maupun karya bersama, tentu dengan mudah dapat kita jumpai di sejumlah toko buku atau perpustakaan. Buku antologi cerpen semacam itu, biasanya tidak spesifik mengangkat tema tertentu, meskipun mungkin saja ada maksud dan harapan tertentu yang melatarbelakangi dan melatardepaninya. Tetapi, bagaimana dengan antologi cerpen yang sengaja mengusung tema tertentu, seperti yang dilakukan Kompas lewat Korma: Cerpen-Cerpen Puasa—Lebaran? Continue reading “PELANGI POTRET PUASA DAN LEBARAN”

LATAR DALAM PUISI

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Pembicaraan mengenai fungsi latar dalam puisi, sejauh ini jarang sekali kita jumpai. Padahal pembicaraan mengenai masalah itu penting artinya untuk memahami makna puisi sebagai kesatuan estetik. Seperti juga latar dalam drama atau novel, latar dalam puisi berhubungan dengan penyebutan nama tempat, angka tahun, dan penggambaran suasana dan situasi sosial tertentu. Dalam hal ini, penghadiran latar oleh penyairnya tentu bukan tanpa maksud. Ada sesuatu yang sengaja hendak disampaikan, baik untuk kepentingan keindahan puitik, maupun untuk memperkuat tema yang disampaikannya. Oleh karena itu, jika ada puisi yang di dalamnya terdapat nama tempat, angka tahun dan peristiwa atau suasana tertentu, kita dapat menganalisisnya berdasarkan itu. Sebagai bahan apresiasi, berikut ini akan dikutip lengkap puisi Taufiq Ismail yang berjudul ?Catatan Tahun 1965?: Continue reading “LATAR DALAM PUISI”

TAUFIQ ISMAIL: MENULIS DENGAN KEHARUAN HATI

Maman S. Mahayana*
http://mahayana-mahadewa.com/

Taufiq Ismail, Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit 1?4 (Jakarta: Horison, 2008; xlii + 1076 hlm; xxxiv + 801 hlm; xxxii + 880 hlm; xxxviii + 101 hlm)
?Taufiq Ismail tak ingin memperingati usianya, tetapi perbuatannya. Sebab, hidup itu perbuatan,? begitu Fadli Zon, Ketua Panitia Peluncuran Buku Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit 1?4 (Jakarta: Horison, 2008; xlii + 1076 hlm; xxxiv + 801 hlm; xxxii + 880 hlm; xxxviii + 101 hlm) menegaskan semangat yang melandasi acara peluncuran keempat buku karya Taufiq Ismail (14 Mei 2008) di Aula Mahkamah Konstitusi, Jakarta. Keseluruhannya, keempat buku itu berjumlah 3004 halaman, termasuk halaman pelengkap dan indeks. Inilah rekor baru ketebalan buku karya seorang penyair. Continue reading “TAUFIQ ISMAIL: MENULIS DENGAN KEHARUAN HATI”

Bahasa »