MENGADILI SANG SAPURBA: MENGGUGAT MASA LALU

Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Dapatkah sejarah diadili dan tokoh masa lalu yang menjadi terdakwa, pembela, dan saksinya? Itulah yang terjadi pada pementasan Sang Sapurba yang dipersembahkan Sanggar Teater Selembayung, Pekanbaru, Riau, di Panggung Seni Dewan Canselor Tun Abdul Razak, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Selangor, Jumat, 16 Juli 2004 dalam Festival Seni Teater Melayu ASEAN 2004. Festival yang diikuti enam grup teater dari Malaysia (Kelab Teater Rimba, Universiti Kebangsaan Malaysia), Indonesia (Teater Pagupon Universitas Indonesia dan Sanggar Teater Selembayung, Universitas Lancang Kuning, Riau), Singapura (Persatuan Kemuning Singapura), Continue reading “MENGADILI SANG SAPURBA: MENGGUGAT MASA LALU”

SISI GELAP PUAK MELAYU

Maman S. Mahayana *

Seorang pemulung, karena tak punya uang, kebingungan mengubur jenazah anaknya. Ia menggedong jenazah itu, sementara orang lalu-lalang seperti tak terjadi apa-apa. Seorang nenek ditemukan tewas lantaran kelaparan. Dua peristiwa ini terjadi di Jakarta. Di tempat-tempat lain, ada juga berita tentang gantung diri siswa SD gara-gara ia belum bayaran uang sekolah. Ada juga berita tentang sebuah keluarga yang mengalami lumpuh layu. Mereka menerima nasib begitu saja, karena tak ada biaya untuk berobat. Masih tak jauh dari Jakarta, beberapa anak mengalami busung lapar. Continue reading “SISI GELAP PUAK MELAYU”

PROBLEM UNIKUM DAN UNIVERSALITAS

Maman S. Mahayana

Cerpen Indonesia, kini, makin menunjukkan jati dirinya sebagai bagian dari kultur keindonesiaan. Ia tidak hanya datang dari berbagai wilayah yang selama beberapa dekade seolah-olah belum terpetakan, melainkan mengada lantaran di belakangnya ada kegelisahan kultural. Kegelisahan, bahkan kepedihan dan sekaligus juga kemarahan yang datang dari berbagai macam komunitas itu, memang selama ini senantiasa ditenggelamkan oleh kejahatan sentralitas. Hiruk-pikuk yang terjadi di sana seperti dianggap senyap, padahal ia justru mewakili ungkapan hati nurani dan harapan sosio-budayanya. Ada luka budaya di belakangnya, dan di depannya, ada keinginan, hasrat, harapan untuk memberi dan menyumbangkan sesuatu bagi Indonesia. Continue reading “PROBLEM UNIKUM DAN UNIVERSALITAS”

SIMBOL WAKTU SEBAGAI REPRESENTASI IDEOLOGI

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Fantasi-fantasi yang bertebaran pada masa kanak-kanak, konon, secara tidak sadar akan muncul kembali pada masa dewasa dalam bentuk yang lain. Jika pada masa kanak-kanak kita dihinggapi ketakutan akan hantu, bayangan nenek sihir, manusia bertaring yang akan menculik anak-anak nakal yang suka menangis, makhluk raksasa pemangsa manusia, atau sesosok makhluk yang dicitrakan begitu menakutkan, misalnya, pada masa dewasa ia akan berubah wujud menjadi ketakutan terhadap sesuatu yang dibayangkan dapat menghancurkan dirinya, karier, kehidupan rumah tangga atau ketakutan lain yang muncul begitu saja tanpa dapat dipahami sebab-musababnya. Continue reading “SIMBOL WAKTU SEBAGAI REPRESENTASI IDEOLOGI”

SEMANGAT MULTIKULTURAL DAN EMPATI PADA KAUM MARJINAL

Maman S. Mahayana *

Semangat multikulturalisme dan pemihakan terhadap kaum marjinal, itulah kesan yang menonjol yang dapat kita tangkap ketika mencermati cerpen-cerpen Pudji Isdriani kali ini. Meski semangat pembelaan atas kaum marjinal dan usaha untuk mengangkat peran kaum perempuan sudah tampak dalam antologi cerpennya yang terdahulu (Hati Seorang Ibu, 2001; Reinkrnasi Titis, 2003; Cokelat dan Sepotong Dosa, 200; dan sebuah novelnya, Memory in Sorong, 2005), kali ini gaya bertuturnya seperti sengaja hendak memancarkan empatinya yang mendalam. Continue reading “SEMANGAT MULTIKULTURAL DAN EMPATI PADA KAUM MARJINAL”

Bahasa ยป