MEMBANGUN BANGSA MELALUI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL

Maman S. Mahayana *

Indonesia adalah lanskap pelangi. Di sana, terhampar panorama warna-warni dengan beragam kultur etnik, bahasa, agama, bahkan juga ideologi. Ia menyimpan kekayaan atas keberagaman dan keberbedaan. Maka, keindonesiaan sejatinya adalah keberagaman dan keberbedaan itu yang dalam ideologi negara dirumuskan dalam satu kata: kebhinekaan. Keindonesiaan yang menyatukan segala keberagaman dan keberbedaan itu. Jadi, yang dimaksud keindonesiaan adalah sebuah lanskap multikultural. Di sana bersemayam berbagai kultur etnik dengan segala keberagaman dan keberbedaannya. Continue reading “MEMBANGUN BANGSA MELALUI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL”

TENTANG KATA : DIKTATOR

Maman S. Mahayana *
Media Indonesia, 22 Okt 1995

DIKTATOR. Ini sebuah kata yang menakutkan. Maknanya pun bermacam- macam, bergantung konteks, situasi dan mayarakat pemakai. Secara etimologis, kata ini berasal dari bahasa Latin, dictatore, dictator (oris), dictare, dictatura (ae). Maknanya perintah, komandan, pemimpin.

Dalam kamus Latin-Indonesia (Ver Hoeven dan Marcus Carvallo, 1969), ada lima makna menyertai kata diktator, yaitu orang yang mengimlakan, yang berperintah, panglima tertinggi, diktator, panitera, pengarang, penggubah. Continue reading “TENTANG KATA : DIKTATOR”

KEINDONESIAAN IDENTITAS INDONESIA*

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Tulisan Seno Gumira Ajidarma, ?Keindonesiaan? (Kompas, 12 Februari 1995), sungguh cerdas dan menarik untuk didiskusikan. Tulisan ini mencoba untuk memberi catatan kecil terhadapnya.

Dalam berkesenian, nama (identitas) sememangnya tidaklah lebih penting dari karyanya sendiri. Nama besar dengan karya picisan, bukanlah sebuah prestasi yang membanggakan. Sebab, yang penting adalah: dapatkah karyanya menjadi sebuah monumen hingga nama sang pencipta menjadi masyhur. Continue reading “KEINDONESIAAN IDENTITAS INDONESIA*”

KEMERDEKAAN BAHASA INDONESIA

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Bahasa itu produk budaya. Kelahiran dan perkembangannya sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berada di sekelilingnya: letak geografi, kondisi alam, kultur, sikap hidup, dinamika sosiologis masyarakat pemakai, sejarah bangsa, dan karakteristik bahasanya itu sendiri. Kelahiran, pertumbuhan, dan perkembangan bahasa Indonesia, juga tidak terlepas dari berbagai faktor itu. Ia mirip aliran sungai. Mengalir berkelak-kelok, bercampur dengan aliran sungai yang lain. Membentuk kuala sendiri, Mungkin juga ada limbah pabrik masuk. Agak tercemar. Tetapi ia terus mengalir sampai pada sebuah muara: bahasa bangsa. Itulah potret bahasa Indonesia. Continue reading “KEMERDEKAAN BAHASA INDONESIA”

MEMBINCANGKAN TIGA CERPEN GUS MUS

Maman S. Mahayana *

Ketika tahun 1970-an sastra Indonesia dilanda semangat eksperimentasi, sejalan dengan gerakan “kembali ke akar, kembali ke tradisi” sebagaimana yang diusung Abdul Hadi WM, kisah-kisah dunia jungkir balik dalam prosa, termasuk di dalamnya cerita pendek (cerpen), seperti menemukan pembenaran estetik. Absurdisme, melalui perkenalkannya dengan filsafat eksistensialisme, dipandang sebagai representasi dunia jungkir balik itu. Continue reading “MEMBINCANGKAN TIGA CERPEN GUS MUS”

Bahasa ยป