BERCINTA DENGAN ALAM, BERCINTA DENGAN TUHAN?

Maman S Mahayana

Puisi (: sastra), bagi Malaysia adalah spirit kebudayaan. Ia dapat dimaknai sebagai alat perjuangan kebudayaan; maruah kemelayuan. Pada dasawarsa 1950-an, misalnya, sastra memancarkan semangat nasionalisme. Kemerdekaan Indonesia telah memberi inspirasi untuk melakukan hal yang sama. Maka, gerakan kebudayaan itu kemudian menjadi gerakan kebangsaan. Mengingat tumbuhnya nasionalisme di Malaysia itu sejak awal dimainkan para sastrawan dan guru -seperti juga yang terjadi di Indonesia- tidak mengherankan jika peran mereka menjadi sangat penting ketika itu. Dan sastra menjadi alat perjuangan yang efektif dalam mengobarkan semangat nasionalisme. Continue reading “BERCINTA DENGAN ALAM, BERCINTA DENGAN TUHAN?”

La Runduma dalam Kentalnya Warna Lokal

Maman S. Mahayana
nfoanda.com/Republika

Dalam kentalnya warna lokal, cerpen La Runduma karya Wa Ode Wulan Ratna berhasil memenangkan juara pertama Sayembara Menulis Cerpen Creative Writing Institute (CWI) 2005. Cerpen yang mengangkat tradisi unik etnis Buton, khususnya tentang peristiwa upacara posuo ritual dalam tradisi pingitan adat keraton Buton itu sekaligus mewakili dominannya warna lokal pada hampir semua cerpen peserta sayembara tahunan ini, terutama yang terpilih sebagai cerpen terbaik. Cerpen Orang-orang Pos 327 karya Muhammad Nasir Age, yang menempati juara kedua, juga mengangkat persoalan lokalitas konflik Aceh sebagai tema sekaligus latar cerita. Begitu juga cerpen Abu Nipah karya Herman R yang meraih juara ketiga. Continue reading “La Runduma dalam Kentalnya Warna Lokal”

PANORAMA SASTRA INDONESIA

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Naskah Pidato Penerimaan Hadiah Sastera Majelis Sastera Asia Tenggara (Mastera)
Atas buku Sembilan Jawaban Sastra Indonesia
Berjaya Times Square Hotel Kuala Lumpur, 27 November 2007

Sastra Indonesia adalah lanskap pelangi; warna-warni dengan beragam cabaran ideologinya. Ia bagai taman bunga dengan tetumbuhannya yang semarak, dedaunannya yang rimbun, meski di sana tumbuh pula mawar berduri. Di taman itu, orang-orang boleh duduk bercengkerama, memadu kasih, memetik beberapa tangkai bunga untuk dipajang di dalam rumah atau mencampakkannya begitu saja. Continue reading “PANORAMA SASTRA INDONESIA”

CITRAAN DAN PENCITRAAN

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Citra (image) itu gambaran yang dihasilkan kesan mental. Citraan (imagery) adalah bayangan visual yang hadir lantaran ada sesuatu yang menyentuh saklar memori untuk mengaitkannya pada sesuatu yang lain. Sebuah kata, simbol, atau benda tertentu yang merangsang memori membayangkan atau memisualisasikan sesuatu atau peristiwa, termasuk kategori pencitraan. Ia dihadirkan memori yang di dalamnya bersemayam berbagai pengalaman. Maka ketika kata atau simbol itu mencitrakan sesuatu, memori seketika menghidupkannya sesuai dengan pengalaman masa lalu dan pengenalan pada sesuatu. Continue reading “CITRAAN DAN PENCITRAAN”

CERPEN DENGAN AROMA EKSOTISME

Maman S. Mahayana *

Perjalanan cerpen Indonesia mutakhir, terutama selepas pemberlakuan otonomi daerah, tampak makin menunjukkan peta kultur keindonesiaan yang lebih beragam. Keberagaman itu seperti mencelat begitu saja ketika persoalan etnisitas diangkat dan menjadi tema cerita. Kehidupan perkotaan dengan kecenderungan tokoh-tokohnya yang teralienasi atau tak punya identitas kultural yang kerap ditawarkan para penulis yang lahir dan besar di tengah masyarakat perkotaan—metropolis, tidak lagi mendominasi tema cerpen yang bertebaran di berbagai majalah dan suratkabar Minggu. Continue reading “CERPEN DENGAN AROMA EKSOTISME”

Bahasa »