PERINTIS SASTRA INDONESIA MODERN

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Sistem penerbitan yang awal dalam kesusastraan Indonesia modern memperlihatkan betapa pengaruh kekuasaan pemerintah Belanda begitu dominan dalam menentukan arah perjalanan kesusastraan bangsa ini. Jika dikatakan, sejarah selalu berpihak pada penguasa, maka itulah yang terjadi dalam sejarah kesusastraan Indonesia. Riwayat perjalanannya penuh dengan pemanipulasian, perekayasaan, penenggelaman, dan penyesatan. Tetapi lantaran sejarah milik penguasa, bahkan penguasa itu juga sengaja menciptakan sejarahnya sendiri, maka yang kemudian bergulir adalah sebuah mainstream yang menyimpan kepentingan politik penguasa. Continue reading “PERINTIS SASTRA INDONESIA MODERN”

MENJADI SASTRAWAN BUKAN KARENA BAKAT

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Menjelang berakhir abad ke-20 dan mengawali masuk milenium ketiga, peta kesusastraan Indonesia seolah-olah dikejutkan dengan bermunculannya sastrawan wanita. Sebut saja Ayu Utami, Dewi Lestari, Oka Rusmini, Dorothea Rosa Herliany, Helvy Tiana Rosa, Abidah El Khalieqy, Fira Basuki, dan sebelumnya Ratna Indraswari Ibrahim. Jauh sebelum itu, NH Dini menjulang sendiri dan disusul kemudian Titis Basino PI. Yang disebut terakhir inilah, seakan-akan hendak menggebrak sendiri lewat produktivitasnya yang luar biasa. Bayangkan, dalam kurun waktu dua tahun saja (1998?1999), Titis telah menghasilkan lebih dari 17 novel. Jadi di antara sastrawan wanita Indonesia, dapat dipastikan, jumlah novel yang dihasilkannya Titis berada di atas sastrawan wanita lainnya. Continue reading “MENJADI SASTRAWAN BUKAN KARENA BAKAT”

ANTARA “GODLOB” DANARTO DAN “DAJAL” MANA SIKANA

Maman S. Mahayana

I
Membandingkan dua karya sastra atau lebih sedikitnya dua negara yang berbeda, dalam studi sastra, termasuk ke dalam wilayah sastra bandingan (comparative literature). Syaratnya antara lain adalah bahwa karya sastra yang akan diperbandingkan setidak-tidaknya mempunyai tiga perbedaan yang menyangkut perbedaan bahasa, wilayah, dan politik. Dari perbedaan inilah paling sedikit akan tersimpul bahwa perbedaan latar belakang sosial budaya (lokal, tradisi, dan pengaruh) yang melingkari diri masing-masing pengarang, akan tercermin pula dalam karyanya. Continue reading “ANTARA “GODLOB” DANARTO DAN “DAJAL” MANA SIKANA”

MEMAHAMI KEBUDAYAAN ETNIS MELALUI KESUSASTRAAN INDONESIA

Maman S. Mahayana *

Ketika Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, menegaskan pernyataan sikap para pemuda Indonesia yang mengaku: “bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia; berbangsa yang satu, bangsa Indonesia, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia,” saat itulah sesungguhnya identitas etnis –diwakili Jong Java, Jong Soematra (Pemoeda Soematra), Pemoeda Indonesia, Sekar Roekoen, Jong Bataksbond, Jong Celebes, Pemoeda Kaoem Betawi dan Perhimpoenan Peladjar-Peladjar Indonesia—dan Continue reading “MEMAHAMI KEBUDAYAAN ETNIS MELALUI KESUSASTRAAN INDONESIA”

PETA SASTRA TAMADUN MELAYU

Maman S. Mahayana *

Edi Sedyawati, dkk., Sastra Melayu Lintas Daerah, Jakarta: Pusat Bahasa, 2006, xii + 419 halaman.

“Tak kenal maka tak sayang.” Itulah yang terjadi pada dunia Melayu, khasnya yang menyangkut selok-belok ketamadunannya (peradaban). Dunia Melayu yang pernah dicitrakan para orientalis sebagai bangsa Timur -pribumi- yang serbaterbelakang, sesungguhnya menyimpan kekayaan tamadun yang agung. Sejak lama ketamadunannya itu wujud dan mendapat apresiasi yang tinggi dari bangsa-bangsa yang sudah lebih dulu menjadi salah satu pusat kebudayaan dunia. Bangsa-bangsa besar Asia, seperti Mesir, Tiongkok, India, Parsi, dan bangsa Eropa, mengenal dunia Melayu melalui hubungan perdagangan, penyebaran agama, dan pertukaran kebudayaan. Bahkan, dilihat dari penyebarannya, jejaknya hingga kini masih tampak dalam wilayah yang begitu luas. Continue reading “PETA SASTRA TAMADUN MELAYU”

Bahasa »