DAKWAH AGAMA DALAM SASTRA INDONESIA

Maman S. Mahayana

Majalah Sastra, Agustus 1968, pernah memuat sebuah cerpen karya Kipanji-kusmin, berjudul “Langit Makin Mendung”. Belakangan, cerpen ini dianggap menghi-na Nabi Muhammad, dan dengan begitu, sekaligus juga berarti melecehkan agama Islam. Reaksi keras dari umat Islam pun mengalir. Pada tanggal 22 Oktober 1968, Kipanjikusmin kemudian menyatakan mencabut cerpennya itu. Tetapi persoalannya tidaklah berhenti sampai di situ. H.B. Jassin, selaku penanggung jawab majalah itu diminta mempertanggungjawabkannya. Paus Sastra itupun lalu diadili di pengadilan. Continue reading “DAKWAH AGAMA DALAM SASTRA INDONESIA”

TAK SENGAJA JADI SASTRAWAN

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Jalan hidup seseorang sering kali tidak terduga. Tidak berhasil meraih cita-cita atau harapan di bidang tertentu, tidaklah berarti harus gagal di bidang lain. Itulah yang terjadi pada sosok Titis Basino PI. Masuk Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Indonesia tahun 1959, ia malah tak begitu yakin akan pilihannya itu. Entah apa yang mendorongnya memasuki bidang itu. Minat untuk menjadi ahli bahasa, kritikus atau dosen pun, tak terlintas. Maka, setelah ia meraih gelar sarjana muda tahun 1962, Titis memutuskan untuk bekerja sebagai pramugari udara PN Garuda. Continue reading “TAK SENGAJA JADI SASTRAWAN”

LORONG GELAP YANG MENGASYIKKAN

Kitab-Para-Malaikat-KPM

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Hamparan semangat menggelegak. Manakala ia tak dapat ditahan dan pecah, seketika itu pula ekspresinya muncrat berhamburan, bercipratan, menerabas apa pun. Lalu hinggap di berbagai tempat yang dijawilnya sesuka hati. Mungkin sama sekali ia tak bermaksud melakukan tegur-sapa, say hello, atau bahkan juga gugatan. Ia sekadar hendak merepresentasikan gumpalan kegelisahan yang lama bersemayam dan mengeram dalam kerajaan gagasannya. Continue reading “LORONG GELAP YANG MENGASYIKKAN”

TENTANG KRITIK AKADEMIS

Maman S. Mahayana *

Belakangan ini, di kalangan sastrawan muda ada kecenderungan untuk menyoroti dan mencoba memberi penjelasan tentang kritik akademis secara keliru. Kritik akademis dipahami sebagai kegiatan yang hanya terjadi di lingkungan sebuah lembaga yang bernama perguruan tinggi. Di sana, kritik sastra dianggap sekadar berujud sebuah makalah ilmiah, penelitian atau karya ilmiah yang berupa skripsi, tesis atau disertasi. Continue reading “TENTANG KRITIK AKADEMIS”

TEGUR-SAPA

Maman S. Mahayana *

Halo cerpen, apa kabar? Itulah tegur sapa saya pada hari Minggu. Setumpuk suratkabar berserakan di meja depan. Saya membacai berita-berita aktual, meludahi berita tentang intrik politik dan kisah para koruptor, prihatin atas ketergusuran kaum miskin, dan diam-diam mencuri gagasan atas sejumlah artikel yang tersaji di sana. Itulah hidangan pembuka sarapan pagi. Lalu, selepas itu, cerpen kadangkala juga puisi, gilirannya menjadi hidangan utama. Continue reading “TEGUR-SAPA”

Bahasa ยป