TENTANG KRITIK AKADEMIS

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Belakangan ini, di kalangan sastrawan muda ada kecenderungan untuk menyoroti dan mencoba memberi penjelasan tentang kritik akademis secara keliru. Kritik akademis dipahami sebagai kegiatan yang hanya terjadi di lingkungan sebuah lembaga yang bernama perguruan tinggi. Di sana, kritik sastra dianggap sekadar berujud sebuah makalah ilmiah, penelitian atau karya ilmiah yang berupa skripsi, tesis atau disertasi.

Pemahaman kritik sastra secara demikian, juga lantaran banyak di antara sastrawan yang tidak mau membaca, bahkan tidak mau tahu dengan kritik-kritik akademis itu. Secara apriori, mereka beranggapan bahwa kritik akademis hanya diperlukan untuk kalangan akademi dan tidak untuk sastrawan. Akibatnya, mereka buta terhadap fungsi dan hakikat kritik tersebut.

Selain itu, kesalahpahaman mereka itu juga disebabkan oleh adanya anggapan bahwa kritik sastra sebagai bentuk kesewenang-wenangan akademis. Dengan dasar ilmiah, karya sastra diperlakukan seperti jasad tak berjiwa, dan kritikus melakukan anatomi atas jasad itu dengan cara memenggal-menggal setiap bagian karya sastra. Akibatnya, tugas kritik akademis seolah-olah hanya melakukan pencabikan-pencabikan atas sebuah teks sastra; ia begitu kering, tidak berjiwa, dan sangat teknis!

Sementara itu, di kalangan kaum akademi sendiri, tidak sedikit yang –juga secara apriori- beranggapan bahwa kritik sastra akademis adalah pekerjaan yang hanya boleh dilakukan oleh kaum akademisi saja. Orang yang berada di luar itu, dianggapnya tidak mempunyai kewenangan untuk melakukannya. Tentu saja anggapan ini juga keliru. Siapapun dengan latar belakang pendidikan apapun, boleh saja menulis kritik akademis, sejauh persyaratan untuk itu dipenuhi.

Kesalahpamahan yang muncul dari kalangan akademis yang seperti itu disebabkan oleh adanya anggapan bahwa kritik sastra dipandang sebagai bagian dari kegiatan yang mesti mengikuti kurikulum. Dan mereka yang berada di luar itu, dianggap tidak punya cukup pengetahuan tentang itu. Pandangan ini sesungguhnya muncul dari “kupernya” wawasan yang lalu berujud dalam bentuk arogansi intelektual. Mereka terlalu bangga dengan teori-teori Barat berikut metode ilmiahnya yang njlimet dan kaku. Akibatnya, teori dan metodologi ditempatkan di atas segala-galanya. Oleh karena itu, pihak yang berada di luar kalangan akademis dinilai sebagai tidak cukup cakap untuk melakukan penelitian atau analisis terhadap karya sastra. Benarkah anggapan ini?
***

Dilihat dari banyak segi, pandangan tersebut tentu saja tidak seluruhnya benar. Seorang mahasiswa yang mengambil jalur skripsi, atau peserta program pascasarjana, memang diwajibkan untuk menulis skripsi atau tesis (kritik akademis) sebagai tugas akhirnya. Ia kemudian mesti mempertahankan apa yang ditulisnya di hadapan sidang penguji. Untuk program sarjana (Strata-1) salah seorang di antara penguji itu, sedikitnya harus bergelar doktor. Inilah tuntutan dunia akademi. Sebuah prosedur yang mesti dijalankan lantaran pertimbangan ilmu pengetahuan. Jika tidak demikian, maka ilmu pengetahuan akan mandek; tidak berkembang! Dari karya-karya seperti itu pula, diharapkan muncul sesuatu yang baru; entah pendekatan, teori atau pemaknaan atas karya sastra yang diteliti.

Apa yang ditulis dalam skripsi (S-1), tesis (S-2), atau disertasi (S-3)? Apa pula yang membedakan masing-masing karya ilmiah tersebut? Mari kita periksa.

Skripsi adalah tugas akhir mahasiswa S-1 (jenjang sarjana) yang di dalamnya ada penerapan satu atau beberapa teori sebagai landasan untuk menganalisis teks-teks sastra atau salah satu aspek yang berkaitan dengan dunia sastra. Lewat teori itu diharapkan ada penjelasan dan analisis mendalam yang memungkinkan kekayaan teks atau masalah yang tersembunyi dalam dunia sastra, dapat terungkapkan.

Tesis adalah tugas akhir mahasiswa S-2 (jenjang magister) yang di dalamnya satu atau beberapa teori terbuka untuk dipertanyakan kembali. Untuk sampai ke sana, penulis tesis perlu menganalisis teks-teks sastra secara komprehensif, menyeluruh dengan berbagai aspeknya. Ia tidak hanya mengungkap kekayaan teks atau membongkar sejumlah masalah yang masih tersembunyi, tetapi juga menempatkannya dalam teori-teori atau metodologi yang digunakannya, dalam konteks sosio-kultural atau perjalanan sejarahnya.

Disertasi adalah tugas akhir peserta program S-3 (jenjang doktor) yang di dalamnya teori-teori tidak hanya dipertanyakan kembali tetapi juga dicari atau dirumuskan teori-teori baru. Oleh karena itu, dalam disertasi selalu ada usaha untuk memanfaatkan ilmu-ilmu lain, di luar ilmu sastra.

Jika kemudian karya-karya seperti itu dirasakan terlalu kaku atau amat teoretis dan njlimet , sehingga orang di luar bidang itu tidak dapat memahaminya dan masyarakat umum sama sekali tidak tertarik, tujuannya memanglah bukan untuk itu. Ia ditulis, selain tuntutan prosedural dan formal, juga untuk ilmu pengetahuan itu sendiri. Oleh karena itu, kritik akademis sering juga disebut sebagai kritik sastra ilmiah. Sungguhpun demikian, harap dicamkan, bahwa karya-karya tersebut pada hakikatnya merupakan apresiasi kritis atas karya sastra dan sastrawannya. Jadi, terlepas dari hasil penelitiannya, karya itu tetap memberi penghargaan yang tinggi atas karya yang diteliti.

Demikianlah, ketiga karya ilmiah itu merupakan tuntutan yang harus dipenuhi jika seseorang hendak menyelesaikan jenjang pendidikannya. Ketiga karya ilmiah itu adalah tuntutan yang berkaitan dengan kurikulum. Selain skripsi, tesis atau disertasi, kritik akademis bisa juga berupa hasil penelitian atas inisiatif orang per orang. Dalam karya inilah, siapapun boleh melakukannya meskipun ia bukan dari kalangan akademi.

Sejumlah esai dalam majalah Horison yang ditulis Budi Darma atau penulis lainnya, esai dalam Jurnal Kalam atau yang dimuat dalam majalah-majalah ilmiah, sebenarnya termasuk salah satu bentuk kritik akademis. Demikian pula esai-esai Goenawan Mohamad yang kemudian dihimpun dalam buku Seks, Sastra, Kita dan Kesusastraan dan Kekuasaan atau penelitian tentang minat baca siswa yang dilakukan Taufiq Ismail, “Benarkah Kini Bangsa Kita telah Rabun Membaca dan Lumpuh Menulis?” sesungguhnya masih termasuk ke dalam bentuk kritik tersebut. Jadi, kritik akademis bukan hanya skripsi, tesis, atau disertasi, melainkan karya-karya lain yang di dalamnya diterapkan metode-metode ilmiah, meskipun itu tidak diungkapkan secara eksplisit.
***

Demikianlah gambaran umum tentang kritik akademis. Tentu saja uraian ini terlalu ringkas untuk menjelaskan persoalan yang sebenarnya cukup kompleks. Oleh karena itu, kita juga perlu mencermati secara langsung karya-karya seperti itu agar kita dapat memperoleh gambaran mengenai perbedaannya dengan kritik sastra umum atau kritik sastra apresiatif.

Untuk memberi gambaran yang berbeda dengan kritik umum atau kritik apresiatif, marilah kita mencermati duduk persoalan yang terjadi dalam kritik akademis. Persoalan mendasar yang sering kali menjadi titik berangkat dalam kritik akademis adalah masalah konsep, yaitu rumusan yang mencoba menjelaskan pengertian tertentu, baik yang berkaitan dengan sesuatu yang kongkret atau yang abstrak. Konsep tema dalam karya sastra, misalnya, yang dirumuskan sebagai pokok persoalan yang hendak disampaikan pengarang, sesungguhnya merupakan rumusan dari sesuatu yang abstrak. Konsep-konsep dalam karya sastra, umumnya merupakan penjelasan terhadap sesuatu yang abstrak. Pernyataan “Puisi adalah Puisi” atau dalam lingkup yang lebih luas, “Sastra adalah Sastra”, misalnya, sesungguhnya merupakan rumusan abstrak yang masih perlu penjelasan lebih lanjut. Dalam kritik akademis, pernyataan itu perlu diuraikan secara ilmiah karena ia mengimplikasikan dua persoalan besar dalam pendekatan sastra (:kritik sastra).

Yang pertama, pendekatan yang menolak perkaitan karya sastra dengan dunia di luar teks, yaitu faktor-faktor historis, biografis, filosofis dan sosio-kultural. Pasalnya, dalam pendekatan ini, karya sastra dipandang dan diperlakukan sebagai dunia yang otonom. Ia mesti diteliti dan dianalisis lewat pendekatan yang memahami hakikat sastra sebagai karya imajinatif. Dunia dalam karya sastra dianggap hanya berlaku dalam dirinya sendiri. Pendekatan ini berpusat pada struktur karya itu sendiri yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan pendekatan intrinsik atau pendekatan struktural. Sedangkan yang kedua menekankan perkaitan teks sastra dengan dunia yang berada di luar itu atau dikenal juga dengan pendekatan ekstrinsik.

Mengingat karya sastra merupakan kenyataan struktural, maka ia tidak lebih sebagai sebuah struktur. Lalu apa pula yang dimaksud dengan struktur? Ia merupakan sebuah bangunan atau sistem yang disusun atas sejumlah unsur yang saling berkaitan dan bersifat fungsional. Artinya, unsur yang satu berfungsi mendukung unsur yang lainnya dan setiap unsur mempunyai peranan, fungsi, dan kedudukannya sendiri. Sebutlah novel, puisi, atau drama itu sebagai sebuah bangunan yang bernama rumah. Maka, unsur-unsurnya yang menyebabkan ia disebut rumah, antara lain, pintu, jendela, tembok, fondasi, genting, dsb. Bersifat fungsional, lantaran setiap unsur itu saling berkaitan dan mempunyai fungsinya sendiri. Pintu dan jendela, misalnya, punya fungsinya sendiri yang tidak dapat digantikan oleh tembok atau genting.

Alur, tema, latar, atau unsur karya sastra lainnya, juga mempunyai fungsi dan kedudukannya sendiri. Oleh karena itu, penganalisisan unsur-unsur itu, dalam peranan dan fungsinya membangun struktur karya sastra. Atas dasar pemikiran inilah, maka cara penganalisisan karya sastra yang demikian disebut sebagai pendekatan struktural.

Cleanth Brooks, tokoh New Criticism yang disegani dan berpengaruh di antara rekan-rekan sealirannya, sangat menganjurkan pendekatan struktural yang demikian. Menurutnya, memperlakukan puisi sebagai puisi adalah penekanan yang tepat. Oleh karena itu, ia menolak dua metode kritik yang dianggapnya mengelirukan sifat puisi yang kekal dan universal.

Pertama, metode kritik yang hanya menekankan pesan (mesage hunting). Dalam bahasa populer, ia menolak kritik yang hanya mengejar tema. Karena penekanannya pada usaha mengungkapkan tema, maka metode ini sering kali mengesampingkan unsur lain dalam tataran kritiknya. Bahkan, tidak jarang pula tergelincir pada penjelasan filosofis atau sosiologis. Akibatnya, karya sastra sebagai kenyataan struktural, hanya dilihat dari satu aspek saja. Pada gilirannya, kekhasan karya sastra yang bersangkutan terkubur dalam deskripsi dan analisis tematis.

Kedua, metode kritik yang mengungkapkan puisi ke dalam bentuk parafrase. Metode kritik ini sebagian besar sekadar menjelaskan larik-larik puisi ke dalam deskripsi naratif. Parafrase menjadi kisah tentang tema puisi. Kedua hal itu, menurut Brooks, justru malah menyembunyikan kekayaan dan kedalaman makna puisi. Itulah sebabnya, diperlukan metode kritik yang tepat dan sesuai dengan hakikat puisi. Dalam kritik sastra kita, pendekatan struktural atau disebut juga pendekatan intrinsik, dapat dikatakan sejalan dengan gagasan Brooks.

Berbeda dengan pendekatan yang disarankan Brooks, pendekatan yang dikemukakan Grebstein justru sangat mempertimbangkan adanya perkaitan karya sastra dengan berbagai faktor eksternal. Dasar pemikirannya berangkat dari anggapan bahwa karya sastra tidak lahir secara serta merta. Ia lahir dari sebuah proses yang rumit yang melibatkan dunia yang mengelilingi sang kreator. Ada faktor sosio-kultural yang melatarbelakanginya. Ada pula sistem produksi yang juga ikut mempengaruhinya.

Selain itu, ia juga lahir dari pelibatam berbagai faktor psikologis ketika proses kreatif itu terjadi. Dalam kritik sastra, pendekatan ini dikenal sebagai pendekatan ekstrinsik, yaitu penganalisisan karya sastra yang menghubungkaitan teks sastra dengan faktor sosio-budaya, psikologi, sejarah, atau filsafat.

Meskipun Grebstein mengklasifikasikan kritik sastra ke dalam lima kategori pendekatan, yaitu pendekatan struktural, psikologis, sosio-kultural, arketipe, dan filosofis, sesungguhnya kita masih tetap dapat menyederhanakannya ke dalam dua pendekatan besar yaitu pendekatan intrinsik dan pendekatan ekstrinsik. Pendekatan struktural atau formal dapat kita masukkan ke dalam pendekatan intrinsik. Pendekatan psikologis, sosio-kultural, arketipe (kepurbaan), dan filosofis, dapat kita masukkan ke dalam pendekatan ekstrinsik.

Lalu apa yang melatarbelakangi gagasan pendekatan ekstrinsik ini. Dua hal penting dapatlah dikemukakan di sini. Yang pertama, berangkat dari kenyataan sosiologis bahwa pengarang adalah anggota masyarakat. Ia lahir dan dibesarkan dalam lingkungan sosial yang langsung atau tidak, ikut mempengaruhi sikap, pemikiran, ideologi dan visi kepengarangannya. Oleh karena itu, lewat pendekatan itu, karya sastra akan dapat dipahami secara lebih lengkap, lantaran ia juga mengungkapkan berbagai faktor sosio-kultural. Meskipun pendekatan ini mengaitkan teks dengan faktor di luar karya sastra, teks sastra tetap diperlakukan sebagai yang utama, sedangkan ilmu lain ditempatkan sebagai ‘alat bantu’ belaka.

Kedua, secara lebih luas konteks pembicaraan ini ditempatkan ke dalam kerangka sistem sastra makro. Jadi, yang pertama masuk kategori sistem sastra mikro –sebutlah pendekatan intrinsik- dan yang kedua sistem sastra makro –pendekatan ekstrinsik. Dalam sistem sastra makro yang disoroti adalah kepengarangan sebagai sebuah profesi; karya sastra sebagai hasil produksi; dan pembaca sebagai penerima dan penikmat karya sastra. Jadi, pembicaraan ‘sastra koran’, misalnya, termasuklah ke dalam salah satu bagian sistem sastra makro; surat kabar atau majalah sebagai sarana terjadinya reproduksi karya sastra. Mari kita periksa duduk persoalannya.
***

Dalam konteks sistem pengarang, pengarang dilihat sebagaimana anggota masyarakat lainnya. Ia lahir, dibesarkan, dan memperoleh pendidikan dalam lingkungan masyarakat tertentu. Seorang pengarang yang berlatar belakang masyarakat Jawa, misalnya, niscaya lebih mudah mengungkapkan gagasannya mengenai sesuatu yang memang sudah dikenalnya sejak kecil. Ia juga memperoleh pendidikan, agama dan kepercayaan tertentu. Semua ini, niscaya langsung atau tidak, akan terlihat juga dalam karya-karyanya. Selain itu, dalam sistem pengarang ini, dilihat juga apakah kepengarangannya sebagai profesi yang utama atau sebagai pekerjaan sambilan. Jadi, dalam sistem pengarang yang dilihat adalah semua hal yang melingkari diri pengarang.

Dalam sistem pembaca, yang dilihat adalah semua tanggapan (tertulis) pembaca terhadap karya sastra. Mencermati semua tanggapan pembaca, akan sampai pada kesimpulan mengenai pendidikan, agama, dan latar belakang budaya si pembaca. Dari sana akan terlihat pula penafsiran dan pemaknaan pembaca terhadap karya sastra. Meskipun demikian, sistem pembaca dalam sistem sastra makro, tidak sama dengan resepsi sastra. Jika resepsi sastra melihat pemaknaan dan horison harapan pembaca terhadap karya sastra tertentu, maka dalam sistem pembaca yang dilihat tidak hanya itu, melainkan juga latar belakang pendidikan, agama, dan ideologi pembaca.

Sementara itu, dalam sistem produksi, yang dilihat adalah bagaimana karya itu diproduksi, dipublikasikan, dan didistribusikan; apakah melalui sebuah penerbit dalam bentuk buku atau melalui majalah. Lalu, siapa pemilik penerbit itu, bagaimana ideologi dan kebijaksanaan penerbitannya, apakah itu semua berpengaruh pada teks karya sastra yang diterbitkannya. Jika karya sastra itu dipublikasikan melalui majalah atau surat kabar, bagaimana pula misi dan ideologi media massa itu, siapa sasaran pembacanya, siapa pula redakturnya, bagaimana pula honor yang diterima pengarangnya. Berbagai pertanyaan lain tentu saja dapat kita ajukan. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang diselidiki dalam sistem ini.

Sebagai contoh, kita dapat melihat perbedaan karya-karya sastra yang diterbitkan atau dipublikasikan oleh Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) tahun 1960-an dengan lembaga di luar itu yang juga pada masa itu menerbitkan karya-karya sastra.
***

Begitulah, kritik akademis lebih merupakan penelitian yang mendalam mengenai berbagai aspek kesusastraan. Oleh karena itu, pertanggungjawaban ilmiahnya menjadi salah satu hal yang tidak boleh diabaikan, bahkan terterima atau tidaknya kritik itu, sangat bergantung pula pada pertanggungjawaban ilmiahnya. Itulah salah satu ciri yang khas yang membedakannya dengan kritik sastra umum atau kritik apresiatif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *