AJIP ROSIDI: MEMBACA DAN MENULIS TANPA AKHIR

Maman S. Mahayana *

Mungkinkah seseorang yang tidak lulus SMA dapat memperoleh gelar doktor honoris causa (doktor kehormatan yang diberikan sebuah institusi pendidikan atau universitas), bahkan mendapat sebutan professor pula? Di Indonesia yang segala sesuatunya sering harus berurusan dengan aturan birokrasi, pemberian gelar kehormatan, seperti doktor honoris causa, pernah menimbulkan masalah. Continue reading “AJIP ROSIDI: MEMBACA DAN MENULIS TANPA AKHIR”

TAFSIR SEJARAH DALAM NOVEL SALAH ASUHAN

Maman S. Mahayana *

Setiap karya sastra adalah hasil pengaruh yang rumit dari faktor-faktor sosial-politik-kultural. Novel Salah Asuhan (1928) karya Abdoel Moeis, juga kelahirannya tak dapat dilepaskan dari faktor-faktor tersebut. Itulah sebabnya, usaha mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi di balik teks Salah Asuhan, penting artinya untuk menangkap amanat pengarangnya yang juga berkaitan erat dengan situasi sosial dan semangat zamannya. Continue reading “TAFSIR SEJARAH DALAM NOVEL SALAH ASUHAN”

POLITIK DALAM SASTRA ZAMAN BALAI PUSTAKA

Maman S. Mahayana *

Membandingkan novel Sitti Nurbaya dengan karya sastra yang terbit melampaui zamannya dari belahan bumi mana pun, tentu saja dibolehkan. Begitu juga tak ada undang-undang yang melarang mencantelkan tema atau konteks novel itu dengan kondisi sosio-budaya yang terjadi pada masa kini. Bukankah kita “masyarakat sastra” meyakini, bahwa begitu karya itu terbit dan kemudian menyebar ke khalayak pembaca, seketika pula ia bebas dimacam-macami. Pembaca punya hak penuh memperlakukannya sekehendak hati, termasuk dalam hal memaknainya. Continue reading “POLITIK DALAM SASTRA ZAMAN BALAI PUSTAKA”

HUBUNGAN SASTRA DAN FILSAFAT

Maman S. Mahayana *

Hubungan sastra dan filsafat laksana dua sisi mata uang; permukaan yang satu tidak dapat dipisahkan dari permukaan yang lainnya; bersifat komplementer, saling melengkapi. Masalahnya, karya sastra membicarakan dunia manusia. Demikian juga filsafat, betapapun penekanannya pada usaha unutuk mempertanyakan hakikat dan keberadaaan manusia, sumbernya tetap bermuara pada manusia sebagai objeknya. Jika demikian apakah apakah kemudian itu berarti karya sastra identik dengan filsafat? Tentu saja tidak. Mengapa tidak? Di mana pula letak persamaan dan perbedaannya? Justru dalam hal itulah hubungan sastra dengan filsafat lalu melahirkan masalah sendiri. Continue reading “HUBUNGAN SASTRA DAN FILSAFAT”

ESTETIKA CERPEN MELAYU SINGAPURA

Maman S. Mahayana *

Nama Suratman Markasan, bagi pembaca Indonesia, barangkali saja masih agak-agak asing. Sesungguhnya, sastrawan penting Singapura ini, sudah dikenal luas, setidak-tidaknya di Malaysia, Singapura, Brunei, dan Riau. Ia termasuk salah seorang pemenang SEA Write Award yang diberikan tahun 1989. Penghargaan itu, tentu saja merupakan bukti prestasi kepengarangannya yang berdasar pada pertimbangan kualitas karya-karya yang telah dihasilkannya. Sedikitnya, enam penghargaan telah diberikan berbagai lembaga kepada karya-karya Suratman, baik yang berupa cerpen, puisi, atau novel.dan setakat ini, ia telah menghasilkan tiga novel, tiga kumpulan cerpen, dan dua kumpulan puisi, belum termasuk yang terhimpun dalam antologi-antologi bersama. Continue reading “ESTETIKA CERPEN MELAYU SINGAPURA”

Bahasa ยป