Catatan Sastra Riau 2008

Marhalim Zaini
riaupos.com

Di sebuah pagi, hari Minggu itu, ketika saya tengah sibuk bersiap hendak berangkat “melatih” anak-anak Sekolah Dasar (SD) menulis puisi di Taman Budaya Pekanbaru, sejumlah sms masuk ke ponsel saya.

Dugaan saya, paling SMS kawan-kawan penulis yang di luar Riau, yang biasanya memang kerap memberi kabar tulisan siapa saja yang dimuat di berbagai media nasional (karena di Pekanbaru, media-media [luar] tersebut sulit diakses. Continue reading “Catatan Sastra Riau 2008”

Pengantin Hamil

Marhalim Zaini
Harian Bernas, 27 Juli 2003

“Kita akan bersanding, sayang. Duduk di atas pelaminan, seperti raja dan permaisuri. Daun inai yang diracik halus, akan menghiasi jemari tangan dan kaki kita dengan getah merahnya. Beras pulut, beraroma kuning kunyit, akan ditabur oleh sanak saudara di atas kepala kita, sebagai tanda, restu dan doa telah diberi. Maka hati kita pun bernyanyi, diiringi barzanji yang melantun dari mulut gadis-gadis kampung yang molek. Rampak pukulan kompang dari tangan-tangan pemuda yang belia, akan semakin menggetarkan jiwa kita, bahwa saat itu, dunia menjadi milik kita berdua. Tunggulah, sayang. Abang akan pulang?.” Continue reading “Pengantin Hamil”

Sastra Sejarah: Sastra dan Sejarah

Marhalim Zaini
riaupos.com

ADA persepsi yang seolah melekat-kuat di tubuh dunia Melayu, seolah identik, seolah bersebati, bahkan ia (kerap) menjadi sentral, ketika sistem sosio-politik feodalisme kerajaan, kita suguhkan dalam sebuah ruang perbincangan. Banyak sudah para ahli, juga para pengarang, dari zaman ke zaman merespon, menelaah, menggali berbagai materi dari berbagai perspektif. Continue reading “Sastra Sejarah: Sastra dan Sejarah”

Seni(man) yang Terbelenggu

Marhalim Zaini

Untuk memulai tulisan ini, saya hendak mengutip satu paragraf penting dalam salah satu esai Putu Wijaya. Begini bunyinya, “Tidak mudah menjadi seniman, kalau seniman bukan diartikan sebagai sekadar label dan status, tetapi fungsi. Sebagai fungsional ia dituntut untuk bekerja. Bekerja tidak hanya kalau ia sedang bernafsu, ketika tanpa nafsu pun ia mesti berekspresi. Karena kalau tidak berkarya ia berarti tidak berfungsi. Seni bukan lagi kesenangan, meskipun bisa menyenangkan sekali. Seni adalah pencarian yang tak pernah selesai. Sebuah tugas yang tak bisa ditolak. Bahkan sebuah kutukan bagi dia yang tak bisa memilih lain kecuali jadi seniman.” (Bor, 1999). Continue reading “Seni(man) yang Terbelenggu”

Temui Aku Hari Jumat, di Belakang Kelenteng Tua

Marhalim Zaini
Riau Pos, 27 Maret 2005

Saat itu, Hitler sudah mati. Bunuh diri. Beberapa menit setelah Eva Braun yang molek dinikahinya dalam ruang pengap udara. Goerge Orwell tak kisah sangat, kelelahan pasca perang, di negeri penuh paradoks, tak membuat ia lemah semangat untuk menemuinya, Siti Layla. Perempuan Melayu berdarah biru, keturunan raja-raja. Goerge menyukai Siti, tersebab Siti menyukai Einstein. Terutama saat bom atomnya menumbangkan keangkuhan totalitarianisme. Terlebih lagi, saat Siti mulai melayangkan responnya atas sejumlah fragmen novel Goerge terbaru, Nineteen Eighty-four (1984), atau terhadap novel sebelumnya berjudul Animal Farm. Continue reading “Temui Aku Hari Jumat, di Belakang Kelenteng Tua”

Bahasa »