Temui Aku Hari Jumat, di Belakang Kelenteng Tua

Marhalim Zaini
Riau Pos, 27 Maret 2005

Saat itu, Hitler sudah mati. Bunuh diri. Beberapa menit setelah Eva Braun yang molek dinikahinya dalam ruang pengap udara. Goerge Orwell tak kisah sangat, kelelahan pasca perang, di negeri penuh paradoks, tak membuat ia lemah semangat untuk menemuinya, Siti Layla. Perempuan Melayu berdarah biru, keturunan raja-raja. Goerge menyukai Siti, tersebab Siti menyukai Einstein. Terutama saat bom atomnya menumbangkan keangkuhan totalitarianisme. Terlebih lagi, saat Siti mulai melayangkan responnya atas sejumlah fragmen novel Goerge terbaru, Nineteen Eighty-four (1984), atau terhadap novel sebelumnya berjudul Animal Farm.

Surat terakhir Siti berbunyi, ”Saat yang tepat untuk mengukur ketakutan-ketakutan kita, Goerge. Di negeri saya, ketakutan bergentayangan serupa burung-burung walet di atas bubung hotel tepian pantai, pada sebuah senja. Ketakutan yang sesungguhnya telah menjadi penghuni pribumi. Ketakutan yang lebih tua usianya dari hidup kami sendiri. Meski begitu Eropa, negerimu itu, tampak tetap tersenyum dalam baris-baris kalimat novelmu. Aku kagum. Sebab di negeriku, tanah yang bakal rekah ini, telah lama ditinggal raja-raja, didiami hantu-hantu. Tapi Goerge, akankah serpihan fasisme Eropa itu, juga akan berlayar menemui kami? Sebab kini, yang tampak di mataku, justru fasisme ala Melayu. Saya khawatir, Goerge…”

Dalam surat sebelumnya, Siti menulis, “Aku terkejut saat kaukirim novelmu Animal Farm. Membacanya, aku seperti berada dalam sebuah kandang yang tak berpintu. Aku adalah salah satu dari binatang-binatang yang menantang dan mengusir tuannya. Sebuah pemberontakan yang dahsyat dan memikat, Goerge. Tapi aku kecewa, kenapa kemudian binatang-binatang itu malah bertengkar sendiri. Tidak tenteram dengan dunia yang tanpa campur tangan manusia. Apakah menurutmu tanpa kehadiran manusia, binatangisme itu tak sempurna? Atau keduanya memang tak bisa dipisahkan, seperti sebuah jalinan keturunan, begitu? Ah, Goerge, kamu suka bercanda. Padahal ideologimu keras. Tapi, terus terang, aku tak suka Darwin..”

Surat-surat inilah yang membuat Goerge berkeinginan besar untuk bertemu Siti. Meski sebenarnya Siti tak berharap benar bertemu Goerge. Tak ada janji. Sebab Siti benci janji. Janji bagi Siti hanya memberi kesempatan orang mencari celah dusta. Tapi bagi Goerge kekhawatiran Siti yang aneh adalah alasan utama baginya untuk menyaksikan lebih dekat, berkunjung ke negeri Siti. Sebuah pulau di tepian Sumatera. “Pulau yang jauh dan (ter)asing,” begitu Siti pernah menyebut. Aneh, karena ketakutan pada fasisme justru hinggap pada seorang keturunan raja-raja macam Siti. Meski Goerge menduga, Siti adalah sosok perempuan pemberontak, macam Kartini, atau Cut Nyak Dien. Meski terkadang Goerge ragu terhadap pengetahuan sejarahnya tentang sistem monarki kerajaan. Tentu perempuan jarang timbul (dan cenderung tenggelam) dalam gelombang besar kekuasaan yang terpusat pada laki-laki. Tapi, “Ah, ini bukan fokus perjuangannya,” pikir Goerge.

Tapi dalam sebuah pembicaraan di telepon, acapkali Goerge menangkap ada ribuan kelebat kekecewaan yang mendekam dalam setiap kata-kata Siti.
“Berbincang denganmu, Goerge, membantu aku membunuh waktu. Aku takut. Waktu di sini beringas serupa srigala. Ia bisa dilihat lewat tatapan mata orang-orang. Merah menyala, Goerge…”

“Ah, Siti. Di mana-mana waktu memang begitu. Kalau saja kau dapat menatap mataku sekarang, aku yakin kau juga akan takut.”
“Aku percaya, matamu pasti dipenuhi sisa asap perang kan?”
“Ya, sesak, sumpek, dipenuhi bayangan yel-yel revolusi. Perang selalu menyisakan luka, bukan?”
“Ya. Luka. Luka masa lalu…”
Suara Siti tersendat. Waktu berhenti sejenak.
“Siti…halo…Siti…”
“Ah, maaf Goerge. Ada yang memanggilku. Bagaimana?”
“Bagaimana?”
“E…maksudku bagaimana dengan Winston, tokoh novelmu itu?”
“Bukankah kamu sudah membacanya. Menurutmu bagaimana?”
“Aku suka. Tapi aku tiba-tiba merasa diawasi Winston?”
“Ah, kamu. Ada-ada saja. Ia sebuah fiksi bukan?”

“Ya. Fiksi yang hidup, fiction became reality. Aku merasa Winston sedang mengawasi gerak-gerikku. Seperti sejarah bermata ganda. Ia tak benar-benar tiada. Sebenarnya, Goerge, Melayu punya banyak tokoh untuk itu. Tapi seolah padam. Belakangan, tampaknya sebagian orang di negeri ini meraba-rabanya. Konon, mereka merindukannya. Aku rasa, mereka hanya berpura-pura merindukannya, Goerge.”

“Terkadang perjuangan diawali dari kepura-puraan, Siti. Stalin atau Soeharto, aku kira juga demikian. Mereka seorang pejuang yang tangguh dan gigih, bukan? Yang tertipu saja yang merasa ditindas dan dikhianati. Selebihnya mereka menikmati. Tapi, omong-omong, kapan kita bisa ketemu?”

“Ketemu? Ah, Goerge. Apakah percakapan lewat surat dan telpon belum cukup?”
“Rasanya belum. Ada yang belum tuntas kalau belum ketemu.”
“Tuntas? Tidak harus tuntas kan?”
“Siti, aku ingin melewati sungai coklat yang kauceritakan dulu.”
“Ha…ha…sebenarnya, namanya bukan sungai Coklat. Tersebab airnya yang berwarna coklat, maka aku sebut ia sungai coklat.“
“O…”
“Nama sebenarnya sungai Siak.”
“Sungai Siak. Kau belum sepenuhnya bercerita tentangnya.”
“Tak usahlah. Aku malu.”
“Kenapa malu? Aku suka sungai. Salah satu sungai yang kusukai adalah sungai Yarra di Melbourne Australia.”
“O…sungai yang bersih dari limbah berbahaya itu kan?
“Ya. Kau pernah ke sana?”
“Belum. Cuma membaca.”

“Ya. Sungai itu juga menjadi pusat rekreasi dan olahraga dayung. Di sana juga dibangun kawasan pedestrian untuk warga berjalan dan mengayuh sepeda. Aku kira inilah etalasenya negeri Kangguru.”

“Ha…ha…ha…”
“Kenapa tertawa?”
“Goerge, inilah yang membuat aku malu. Kau tidak akan pernah menemukan hal serupa di negeriku. Sungai Siak itu, jika kaubandingkan dengan Yarra, jauh panggang dari api. Sudahlah Goerge, sebaiknya kauurungkan saja niatmu untuk mengunjungi negeriku, oke.”

“Tidak, aku mau menemuimu.”
“Sebaiknya jangan, Goerge.”
“Sebenarnya apa yang kautakutkan dari kehadiranku, Siti?”
“Aku takut kau mengalami ketakutan yang sama. Seperti aku. Ketakutan akan kehilangan.”

“Kehilangan?”
“Ya. Di sini kehilangan seolah telah menjadi milik semua orang. Orang-orang sungai telah kehilangan habitatnya. Pabrik-pabrik mengusirnya. Mereka menelan limbah. Atas nama industri mereka dikalahkan. Laut kehilangan pasir. Bumi kehilangan hutan dan minyak. Orang-orang hidup dalam gumpalan kabut asap, dalam genangan banjir, dan kelangkaan minyak berkepanjangan. Penyair, Goerge, kehilangan bahasa. Dan sekejap lagi, semua orang akan kehilangan pulau ini. Abrasi, Goerge. Serupa kue boulu dimakan semut, pulau ini berangsur susut. Aku kehilangan sejarah. Orang-orang kehilangan diri, dan bertanya, siapa aku? Mereka bingung. Lalu mereka bermusuhan sesama mereka. Humanisme universal di sini, kini ditelikung oleh ras. Euforia, Goerge. Sebuah kebangkitan baru yang tidak seimbang. Bagaimana? Apakah tetap mau menemuiku, Goerge?”

Telepon di seberang, sepi.
“Halo…Goerge. Halo…”
“E…sory Siti.”
“Kau pasti sedang berpikir dua-belas kali untuk menemuiku kan?”
“Oh tidak. Aku melamun. Imajinasiku tiba-tiba telah berlayar ke pulaumu. Ada sejumlah cerita telah terangkai di kepalaku. Aku justru semakin tertarik untuk menemuimu.”
“Terserahlah, Goerge. Yang jelas aku tidak melarang dan tidak juga menyuruh. Dan ini bukan janji, oke.”
“Di mana aku bisa menemuimu? Alamatmu?”

“Tidak sulit. Telusuri saja Sungai Siak. Sampai di ujung teluk, berlabuhlah di sebuah pulau. Lalu masuklah ke pusat Bandar. Temui aku hari Jumat, di kedai kopi Pak Ngah, di belakang kelenteng tua, samping gang sempit tempat pedagang kaki lima menjual akik…dan satu hal, ini bukan janji…”

“Tut…tut…tut.”
Telepon di seberang, terputus. Sepi.
***

Saat itu, Datuk Laksemana Raja Dilaut alias Encik Ibrahim, telah lama tiada. Tidak berapa lama setelah ia menyesali keputusannya mengizinkan Belanda untuk tinggal di Bengkalis. Goerge Orwell tak kisah sangat, kelelahan dalam perjalanan, menuju negeri penuh kehilangan, tak membuat ia menyesal dan berhenti di tengah jalan untuk menemui Siti Layla, perempuan Melayu berdarah biru, keturunan raja-raja. Goerge menyukai Siti, tersebab Siti menyukai novel-novelnya. Terutama saat Siti bertanya tentang sejumlah kalimat ganjil yang dicetak dalam huruf kapital dalam novelnya berjudul 1984, “KEBEBASAN IALAH PERBUDAKAN, TUHAN IALAH KEKUASAAN, PERANG IALAH DAMAI, KEBODOHAN IALAH KEKUATAN…” dan lantas Siti bertanya, “Inikah yang kaumaksud dengan negeri penuh paradoks, Goerge?”

Kini, kaki Goerge telah tegak berdiri kaku di atas tepian pelabuhan Bandar Sri Laksemana. Goerge menarik nafas panjang. Ada peluh yang mengering di bagian belakang kemejanya, membekas serupa peta buta yang terbakar. Rambut pirangnya kusut, serupa akar bakau yang saling berpaut. Dalam hatinya, Goerge berbisik, “Perjalanan panjang ini membuat aku lupa jalan pulang, Siti.” Dari kejauhan, lamat-lamat ia membaca sebuah tulisan berukuran besar, melintang di gerbang Bandar, “SELAMAT DATANG DI NEGERI PENUH KEHILANGAN.” Goerge tersenyum aneh.

Senja yang mulai memberat, mengajak Goerge bergerak. Suara burung-burung Walet yang mengitari bangunan tinggi, menyerupai musik yang aneh dan meruncing, berdentang di dinding-dinding Bandar. Kehilangan macam apakah gerangan yang membuat negeri ini mengeluarkan rintihan? Inikah yang Siti sebut sebagai dendang Lancang Kuning itu. Sebuah kapal yang berlayar menuju malam? Lagi-lagi Goerge tersenyum aneh.

Ini malam jumat. Goerge benar-benar lupa bertanya tentang jam. Pukul berapa ia harus menemui Siti di kedai kopi Pak Ngah itu. Sementara malam kian merajam. Dingin angin laut, terkadang membuat Goerge ingin bercinta. Bukankah DINGIN IALAH KEHANGATAN? Ah, Siti Layla, di manakah dikau. Aku telah sampai di negerimu. ..

Goerge terlelap. Setelah lelah membawanya ke sebuah penginapan sederhana. Setelah memutuskan untuk membiarkan malam berlalu, dan menantikan siang yang menjelang. “Kutemui kau, esok pagi, Siti,” kembali Goerge tersenyum aneh.
***

Jumat, pukul 07.30.
George menyusuri kaki lima yang dipadati para penjual akik, di belakang kelenteng tua. Tepat di samping sebuah gang sempit, sebuah kedai kopi tampak terbuka. Di atas pintu terbaca plang nama, “KEDAI KOPI PAK NGAH.” Tak salah lagi, inilah yang dicari.

Goerge masuk. Asap rokok memenuhi ruangan. Goerge hanya berdiri terpaku, memandang setiap meja-meja bulat yang telah dipenuhi orang-orang. Suara mereka serupa ribuan kepak sayap lebah yang mengamuk. Tapi Goerge tak melihat ada seorang perempuan Melayu pun di sana. Yang ada justru perempuan-perempuan berkulit putih. Goerge mulai heran. Goerge berjalan perlahan. Mengamati dengan seksama wajah-wajah mereka yang sedang sibuk berbual. Goerge terkejut. Goerge seperti pernah mengenal wajah-wajah mereka. Tiba-tiba, sebuah suara dari arah yang lain memanggil namanya.

“Goerge! Hei, Goerge Orwell sudah datang.”
Seketika ruangan senyap. Semua mata memandang Goerge yang berdiri bingung. Tak lama, mereka semua tersenyum. Menyambut kehadiran Goerge.

Seorang lelaki menghampirinya, “Hei, Goerge. Apa kabar. Aku mendengar kau hampir merampungkan novelmu yang baru?”
Goerge bertambah terkejut, ”Apakah benar… kau Albert Camus?”

“Ya, Goerge, aku belum berubah, bukan? Si pemberontak itu, si absurd itu, Goerge. Aku kira hari ini adalah hari yang paling menyenangkan. Tidak banyak kesempatan untuk kita bisa berkumpul begini, Goerge. Lihatlah, mereka semua adalah sahabat-sahabat kita, Goerge. Itu, yang sedang duduk di sudut sana menghisap cerutu. Kau pasti mengenalnya, Jean-Paul Sartre, sang pendekar eksistensialisme Perancis. Lalu itu, yang lebih muda darimu, Marquez. Gabriel Garcia Marquez. Kasihan dia Goerge, selama seratus tahun ia mengalami kesunyian. Itu, di sudut sana, (sambil berbisik) lelaki yang sedang mencari kutu di balik jenggotnya yang lebat, hik…hik…peraih Nobel Sastra pertama Sully Prudhomme. Sabar Goerge, (berbisik) sesungguhnya dia tidak lebih baik darimu. Nah, yang itu, Goerge, dia lebih muda darimu, seorang pengarang yang sering kelaparan, kau mengenalnya? Dia Knut Hamsun. Novelnya bolehlah. Dan kita mungkin harus berbesar hati, Goerge, saat dia menerima Novel Sastra. Sebuah penghargaan untuk perjuangan melawan kesulitan hidupnya… ”

Goerge semakin bingung. Kenapa mereka semua ikut berkumpul di sini? Lalu di mana Siti?
“Kenapa Goerge. Santailah. Duduk di sini Goerge. Di sini ada adik kita yang lucu, suka ketawa dan bikin kitab lupa, Milan Kundera. Aku kira dia ini masih komunis, Goerge. Lihatlah, tangannya masih kasar. Maklum, bekas buruh. Tapi, jelek-jelek begini, dia seorang profesor. Dan ini, kau pasti mengenalnya, temannya Gandhi, Rabindranath Tagore. Dia orang tua kita, Goerge. Tapi sayang Goerge, kita tak bisa bertemu dengan orang tua kita yang lain, seorang sastrawan Melayu ternama, Raja Ali Haji. Dengar kabar, ia tengah sibuk membangun negeri kata-kata, Goerge. Negeri Gurindam.”

Goerge menyalami mereka. Beruntung rasanya bisa bertemu pengarang-pengarang hebat dunia. Ini kesempatan langka. Tapi Goerge menyimpan kebingungan yang sangat. Ia kemudian duduk di samping Albert Camus. Dengan agak berbisik Goerge bertanya,

“Kenapa kau, dan mereka semua ada di sini?”
“Menemui seseorang. Aku yakin, kau juga.”
“Seorang perempuan?”
“Ya. Seorang perempuan bernama Siti Layla.”
“Ya, Tuhan. Kau, dan mereka..?”
“Ya. Saling berkomunikasi. Lewat surat atau telepon.”

Goerge seolah tak percaya. Tapi yang tampak di depan matanya, adalah nyata.
“Lalu, di mana Siti?”
“Tidak ada.”
“Tidak ada?”
“Ya. Dia menitipkan secerbis surat pada Pak Ngah. Untuk kita semua.”
Goerge beranjak dari tempat duduk. Mengambil surat pada Pak Ngah, dan membacanya:

“Sahabat-sahabatku yang baik.
Aku benci janji. Janji bagiku hanya memberi kesempatan orang mencari celah dusta. Dan aku tidak berdusta. Karena aku tak pernah berjanji.

Siapakah aku? Aku tidak ada. Aku hanya serpihan masa lalu yang sedang mengunjungi ruang imajinasi kalian. Aku adalah gang sempit, yang hanya bisa dilalui oleh seorang pejalan kaki. Aku adalah waktu yang molek, melenggangkan kecemasan, ketakutan, dan kehilangan-kehilangan.

Selamat datang di negeri yang dipenuhi kehilangan.

Salam
Siti Layla.”***

Pekanbaru, September 2004

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *