Tag Archives: Maria Magdalena Bhoernomo

Cerpen Gelap di Lembaran Sastra

Maria Magdalena Bhoernomo
Suara Karya, 5 Okt 2013

BEBERAPA guru yang mengaku pencinta cerpen di sejumlah lembaran sastra, kerap mengeluh dan bingung saat membaca cerpen-cerpen karya penulis – yang sebelumnya dikenal sebagai penyair – yang dianggapnya sebagai cerpen gelap.

Kangmas dan Diajeng

Maria Magdalena Bhoernomo
http://www.seputar-indonesia.com/

ENTAH karena habis melahap lempuk durian seberat dua ons menjelang petang, atau karena sudah satu pekan meninggalkan istri, malam itu Kangmas memberanikan diri mengetuk pintu kamar tempat Diajeng menginap.

Stigmatisasi Sastra Indonesia

Maria Magdalena Bhoernomo*
Seputar Indonesia,23 Sep 2007

STIGMATISASI sastra Indonesia menjadi “sastra kelamin”, “sastra imperialis”, “sastra kontekstual”, “sastra pedalaman”, “sastra Islami”, “sastra kiri”, “sastra pop” dan lain sebagainya, perlukah?

Pertanyaan ini agaknya cukup penting untuk didiskusikan karena faktanya tidak membuat sastra Indonesia lebih akrab dengan masyarakat Indonesia. Mungkin saja pihak-pihak yang melakukan stigmatisasi sastra Indonesia berkepentingan positif. Misalnya, ingin membuat sastra Indonesia lebih akrab dengan kelompok masyarakat tertentu.

Seorang Pahlawan

Maria Magdalena Bhoernomo
http://www.lampungpost.com/

KAKEK tua itu bernama Sadiman. Kini Sadiman menjadi pria tertua di desanya. Meski sakit ingatan, Sadiman dihormati masyarakat desanya, karena di masa mudanya ikut berjuang melawan kompeni. Mereka menganggap Sadiman sebagai seorang pahlawan yang sangat berjasa kepada bangsa dan negara.

Menurut cerita dari mulut ke mulut dan turun-temurun, sewaktu menjadi pejuang, Sadiman sering berjuang sendirian dengan menyamar sebagai penjual jagung bakar.

Konsolidasi Publik Teater Modern, Siapa Peduli?

Maria Magdalena Bhoernomo
http://www.sinarharapan.co.id/

Memperjuangkan teater modern di Indonesia agar dapat hidup sebagai seni panggung (yang dibutuhkan dan membutuhkan publik atau penonton) memang bukan pekerjaan sederhana. Diperlukan napas panjang, kesabaran dan ketekunan yang prima dalam kurun waktu yang bisa saja tak terbatas. Beberapa tahun lalu, seorang pekerja teater, yang juga dikenal sebagai penyair, Sosiawan Leak, pernah berkata bahwa dirinya sedang suntuk melakukan semacam konsolidasi publik teater modern di Solo (Taman Budaya Surakarta), dengan memprakarsai pertunjukan teater yang telah ?mapan? dengan teater kampus dan teater sekolahan secara bergiliran di hari yang sama.