Perang dan Damai Martin Aleida

Sarie Febriane, Aryo Wisanggeni G
Kompas, 10 April 2011

NYARIS seluruh cerita pendek dan novelnya tak lahir di rumah ini. Bukan apa-apa, kala di rumah, dia lebih tergerak menyapu atau menanak nasi ketimbang menulis. Begitulah Martin Aleida (67), sang sastrawan.

Pagi itu, Martin sudah menunggu kami di mulut gang, sekitar 10 meter dari rumahnya di kawasan Jati Padang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Tubuhnya yang jangkung ramping dibalut kaus polo, celana bermuda, dan bersepatu olahraga. Martin tampak segar bugar di usia lanjut. Continue reading “Perang dan Damai Martin Aleida”

Ada Racun Dalam Lirik Puisi Mutakhir Taufiq Ismail

Martin Aleida *

“HU AR Rini Endo. Saya baca di Internet undangan diskusi sastra di PDS HBJ (Jum 25/3, 15:30), judul atasnya memperingati 100 hari Asep Semboja, tapi judul berikutnya yg lebih penting “ttg pengarang2 Lekra.” Moderator Martin Aleida dg 2 pembicara. Saya terkejut. Ini keterlaluan. Kenapa PDS memberi kesempatan juga kpd ex Lekra memakai ruangannya utk propaganda ideologi bangkrut ini, yang dulu ber-tahun2 (1959-1965) memburukkan, mengejek, memaki HBJ, memecatnya sampai kehilangan sumber nafkah? Continue reading “Ada Racun Dalam Lirik Puisi Mutakhir Taufiq Ismail”

Main Mata dengan Kekuasaan

WARS WITHIN
Penulis: Janet Steele, @2005
Penerbit: EQUINOX dan ISEAS, xxxiv + 328 halaman
Peresensi: Martin Aleida *
gatra.com

Menelisik seluruh halaman buku ini, versi Indonesia diluncurkan akhir bulan lalu, kelihatanlah batang tubuh Tempo pekat berbalur kompromi, untuk tidak mengatakan berserah diri kepada kekuasaan. Ketika akan menurunkan laporan mengenai peristiwa Tanjung Priok, September 1984, misalnya, penulis masalah nasional, Susanto Pudjomartono (SP), yang punya hubungan erat dengan L.B. Moerdani (LBM), ternyata lebih dulu minta izin kepada Panglima ABRI itu. Kedekatan dengan penguasa seperti itu bisa menimbulkan polarisasi sikap politik di kandang wartawan sendiri. Semacam “perang” kepentingan muncul dalam “episode Priok”. Continue reading “Main Mata dengan Kekuasaan”

RATUSAN MATA DI MANA-MANA *

Martin Aleida

Dengan menjinjing nasib yang malang saya mengetuk pintu TEMPO. Melalui pintu kayu yang tinggi kokoh dari sebuah bangunan berbentuk rumah-toko peninggalan zaman Belanda di Jalan Senen Raya 83, saya masuk ke dalam. Berkelok ke kiri dan berjingkat menaiki tangga batu ke atas, saya kemudian berdiri di tengah gang sempit. Melangkah masuk, lantas saya disambut sebuah ruangan yang cukup besar dengan dua jendela kayu terbuka mengundang masuk angin dari arah matahari terbenam. Continue reading “RATUSAN MATA DI MANA-MANA *”