Mengenang Hidup Orang Lain

Ajip Rosidi*
Pikiran Rakyat, 7 April 2007

MENGENANG hidup orang yang sudah meninggal, niscaya tergantung kepada hubungan yang dikenang dengan yang mengenang. Setiap orang niscaya punya kenangan atau anggapan yang berlainan tentang seseorang. Tulisan saya “A. S. Dharta 1923-2007” (judulnya diubah redaksi menjadi “Akhir Hidup Pengarang Lekra”/ Khazanah, “PR”, 24/2/2007) telah mendapat reaksi dari dua orang yang berlainan. Martin Aleida yang (pernah) menjadi anggota Lekra menyesali saya, karena menulis tentang Dharta berlainan dengan pandangannya, sehingga mengecewakan hatinya. Saya yang dianggapnya sebagai “sastrawan yang baik hati” dan “saya kagumi”, “mendadak sontak menjadi sosok yang tidak peka, menistakan adat kebiasaan”, dan menganggap tulisan saya itu merupakan “taktik kaum fasis untuk menaklukkan musuh-musuhnya”.

Komunis dan Ateis

Anggapan saya itu berdasarkan kenyataan bahwa tak pernah saya dengar Dharta bertobat dari paham komunisnya. Di samping itu kenyataan bahwa Dharta menistakan dirinya mengirim surat minta ampun, karena melakukan dosa “kemesuman borjuis” dan ingin menjadi komunis kembali (meski diturunkan ke tingkat calon kader), menunjukkan betapa sungguh-sungguhnya dia ingin menjadi komunis. Dan seorang komunis niscaya berpegang kepada filsafat materialisme, yang hanya percaya akan adanya materi, dan menolak percaya akan yang bukan materi seperti Tuhan, malaikat, dan yang gaib lainnya. Dengan kata lain, orang komunis niscaya ateis, walaupun tidak semua ateis itu komunis. Bertrand Russel yang ateis itu antikomunis, bisa saja. Banyak orang ateis yang antikomunis. Yang tidak ada adalah Muslim yang yakin yang komunis, atau komunis yang percaya akan kebenaran agama-agama langit.

Barmara dan Mashudi

Setelah membaca “Selamat jalan Sastrawan Sunda” tulisan Budi Setiyono (Khazanah, “PR”, 10/3/2007) baru saya ingat bahwa ketika saya menelefon Dharta ke Cibeber meminta keterangan tentang Barmara menyusul surat yang saya kirimkan dari Jepang (ketika itu saya masih tinggal di Jepang), sebelum meminta honorarium sajaknya yang dimuat dalam Kandjutkundang, dia mengajukan sarat agar saya jangan bertengkar (Dharta mempergunakan istilah pas’a) dengan mantan Gubernur Mashudi. Jadi, bukan karena menganggap bahwa Mashudi lebih berhak memberi keterangan tentang Barmara seperti ditulis Budi Setiyono. Dharta pernah menjadi anak angkat Barmara (antara lain bersama Utuy T. Sontani dan pelukis Zaini), tetapi Mashudi tidak pernah disebut-sebut.

Saya memang beberapa waktu sebelumnya mengumumkan catatan saya tentang buku otobiografi Mashudi yang berjudul Memandu Sepanjang Masa dalam Mangl?. Rupanya catatan saya itu dibaca Mashudi dan saya mendapat surat dari Mashudi yang antara lain bertanya, “Apakah kesalahan saya terhadap Saudara Ajip atau terhadap keluarga Saudara Ajip, sehingga Saudara selalu mengeritik saya? Istri saya mengatakan bahwa Saudara menyebut saya dikentutin oleh anak buah….” Terhadap surat itu saya membalas baik-baik, bahwa tak ada kesalahan beliau terhadap diri saya atau keluarga saya. Yang saya tulis adalah catatan seorang pembaca terhadap buku yang sudah dipublikasikan. Saya katakan juga bahwa kritik saya terhadapnya dahulu selalu ditulis dalam bahasa Sunda dimuat dalam Madjalah Sunda yang saya pimpin. Dalam bahasa Sunda tidak ada padanan untuk ekspresi “dikentutin”, jadi mustahil saya mempergunakan ekspresi seperti itu waktu mengeritiknya. Mashudi tidak membalas surat saya itu. Jadi, tak bisa dikatakan bahwa kami “bertengkar”. Dia bertanya, saya jawab baik-baik.

Yang membuat saya heran mengapa Dharta menganggap saya bertengkar. Menulis kritik kan tidak berarti bertengkar.

Lekra dan PKI

Budi Setiyono menulis “Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang kelak secara salah kaprah selalu dianggap sebagai organ Partai Komunis Indonesia”, seakan hendak memisahkan Lekra dengan PKI. Sebagai pengurus Masyarakat Indonesia Sadar Sejarah, seharusnya beliau meneliti sejarah berdasarkan data-data secara keseluruhan. Sejak didirikan tahun 1950 sampai tahun 1965, tak ada orang yang mengatakan atau menulis bahwa Lekra bukan organ PKI. Wacana bahwa “Lekra bukan organ PKI” baru muncul tahun 1970-an setelah PKI lama dibubarkan dan orang-orang Lekra dikeluarkan dari tahanan. Dalam rangka membersihkan diri, mereka melontarkan wacana demikian. Kalau tak salah yang pertama melontarkannya adalah Joebaar (bukan Djubaar) Ajoeb yang menjadi Sekjen Lekra sehabis A.S. Dharta dipecat. Pernyataan Joebaar itu ditentang oleh tokoh Lekra yang lain, ialah Basuki Resobowo yang menyebut Joebaar melakukan kooptasi dengan rezim militer Suharto.

Meskipun secara formal yang dianggap pejabat tertinggi Lekra itu sekjennya, tetapi orang semua mafhum bahwa yang menyetirnya adalah Njoto, anggota CC-PKI. Pada waktu Njoto “disidangkan” oleh pleno CC-PKI, karena hendak membentuk partai Marhaenisme seperti yang diinginkan oleh Soekarno (yang merasa tidak puas dengan dua partai Marhaenisme yang ada waktu itu yaitu PNI dan Partindo) dengan wacana bahwa Njoto akan meninggalkan istrinya untuk menikah dengan penerjemahnya orang Rusia, maka yang ditunjuk oleh CC-PKI sebagai calon pengganti Njoto untuk menyetir Lekra adalah anggota CC-PKI juga, yaitu Wisnukuntjahjo. Hanya karena pendekatan pribadi D.N. Aidit yang berbicara empat mata dengan Njoto selama berjam-jam, Njoto akhirnya memutuskan untuk “tetap bersama istri yang lama”. Karena itu, sopir Lekra tidak diserahterimakan kepada Wisnukuntjahjo.

Bahwa yang dicalonkan untuk menyetir Lekra anggota CC-PKI juga, menjadi tanda yang tak bisa dibantah bahwa Lekra, seperti juga SOBSI, SARBUPRI, BTI, CGMNI, dll. merupakan organ PKI. Dan itu adalah kenyataan sejarah, bukan karena “salah kaprah”. Yang salah kaprah justru mereka yang terkecoh propaganda Joebaar Ajoeb.

Setelah menulis karangan di atas, dari saudara Ading (RAF) saya mendengar bahwa beberapa bulan sebelum meninggal, A.S. Dharta beserta anak-istrinya berkunjung ke rumahnya dan istrinya memberitahukan bahwa A.S. Dharta “sekarang sudah sakit”.

Di Jakarta, saya dapati surat dari A. Makmur K., kerabat A.S. Dharta, yang menyesali saya yang menyangka A.S. Dharta ateis, karena sebenarnya dia seorang beriman dan “Lima puluh tahun saya menyertainya bahkan sampai detik-detik terakhir membimbingnya dengan kalimat tauhid”. Menurut Makmur, keluarga Dharta aktif dalam dakwah melalui Yayasan Al-Fatima (nama ibu Dharta).

Mendengar itu, saya bersyukur mengucap alhamdulillah. Saya juga mengucapkan istigfar merasa bersalah, karena telah salah sangka mengukur orang dari pengalaman kurang lebih 50 tahun lalu, padahal manusia itu bisa berubah setiap waktu. Saya minta maaf kepada anak-istri dan keluarganya atas salah sangka tersebut dan kepada Allah SWT-lah saya mohon ampun semoga selanjutnya dihindarkan dari pikiran yang keliru dan semoga Dia memberi tempat yang layak kepada almarhum A.S. Dharta bersama hamba-hamba-Nya yang beriman. Amin.

* Ajip Rosidi, Budayawan
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/04/esai-mengenang-hidup-orang-lain.html