Proses Kreatif, Dari Sebuah Titik ke Titik yang Lain

Mashuri

Selama saya berproses, saya merasa antara karya saya yang satu dengan karya lainnya itu ditempa dan dilalui dengan proses yang berbeda. Antara prosa dan puisi, juga dirangkai dan ditemukan dalam proses yang berbeda pula. Tentu bukan hanya bertaruh perihal bentuk semata, tapi juga nalar estetik, kegelisahan, juga gagasan yang melingkupinya. Continue reading “Proses Kreatif, Dari Sebuah Titik ke Titik yang Lain”

Sastra Tanpa Ideologi Menelanjangi Perselingkuhan Sastra dan Budaya

Mashuri

Pernyataan “Sastra Tanpa Ideologi; Menelanjangi Perselingkuhan Sastra dan Budaya” menyimpan dua hal yang perlu diungkai. Pertama, ‘Sastra Tanpa Ideologi’, yang menyaran pada satu justifikasi bahwa ada sastra berideologi, yang tentu saja bersifat ideologis, sehingga ‘perlu dirumuskan’ sastra tanpa ideologi. Dalam satu sisi, ideologi sebagai sebuah disiplin memang telah merambah berbagai segi kehidupan dan sudah jauh berkembang, juga menyusut, dari penggagas awalnya Destutt de Tracy. Di sisi lain, sastra tanpa ideologi memberikan begitu banyak kemungkinan ancangan gagasan yang bisa menempatkan sastra sebagai sebuah produk kemanusiaan yang menjunjung tinggi nilai-nilai humanitas.
Continue reading “Sastra Tanpa Ideologi Menelanjangi Perselingkuhan Sastra dan Budaya”

Agama, Bunuh Diri Hakekat dan Habermas

(Pentas Teater Keluarga ‘Alibi’)
Mashuri

Seorang lelaki di panggung, dengan setting: satu kursi, satu ranjang, sejumlah pakaian di gantungan, sekat ruang putih, juga tabir hitam. Ia berbicara sendiri, tentang siapa dan apa saja yang menyangkut soal korupsi. Ia beralibi tentang sikapnya, tentang pilihan hidupnya, tentang hubungan-hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya, juga keluarga. Ia berbicara tentang harapan-harapan, frustasi, mimpi, juga ideologi.
Continue reading “Agama, Bunuh Diri Hakekat dan Habermas”