Mashuri, Wayang, dan Kekinian

Evieta Fadjar
tempointeractive.com

Jakarta:…Aku putramu, yang kau beri nama Wisrawana dan bergelar Danapati alias Danaraja ketika memerintah Praja Lokapala menggantikanmu, tak juga mengerti, sampai di mana kasihmu kepadaku. Ingatanku masih terpatri pada tragedi hidup yang pernah kau sulut dan membakar seluruh diri dan harapanku. Sayang, segalanya bermula begitu indah… Continue reading “Mashuri, Wayang, dan Kekinian”

Propaganda Hitam

Komentar Pentas “Daerah Perbatasan” Teater Gapus

Mashuri

“Daerah Perbatasan” bukan terra incognita yang menyepikan kesadaran; bukan “perang posisi” antara the center dan the margin dalam kerangka pemikiran Gramsci; bukan pula “wilayah hitam nan kosong” tanpa entitas atau ranah-ranah tak terjangkau di bawah alam sadar manusia; “Daerah Perbatasan” berada dalam pergulatan arus kesadaran antara cita-cita dan mati. Sebuah tempat yang bisa menjadi akhir sekaligus awal dari perjalanan manusia dan masa depannya. Continue reading “Propaganda Hitam”

Artikulasi Tubuh dan Penjara Kata-kata

Mashuri
Media Indonesia

Bahasa teater tak sepenuhnya bisa diwakili dengan kata-kata. Jika teater hanya berkutat pada kata-kata, teater hanyalah aktualisasi dari sastra. Teater memiliki bahasanya sendiri sebagai eksplorasi ruang dan tubuh, dengan penekanan pada artikulasi dan pemahaman kemungkinan pada gerak dan distorsi tubuh, latar, kostum, musik juga tata lampu. Pada titik ekstrim, komunikasi teater bergaung secara metafisis dan spiritual tanpa perlu dibahasakan secara utuh dan verbal. Continue reading “Artikulasi Tubuh dan Penjara Kata-kata”

Bahasa ยป