Baik, Tunggu Baru

M.D. Atmaja

Perubahan besar terjadi setelah lengsernya Lurah Arta dari jabatan superpanjang. Ribuan orang-orang pandai berbondong ketika itu, memenuhi pusat Kelurahan Luruh Indon yang porak-poranda karenakan uang yang tidak bersahabat. Rakyat kelaparan. Pejabat kelurahan banyak menimbun bahan makanan.

Kelurahan bertemu pagebluk, banyak orang yang tidak kebagian bagi-bagi uang merencanakan sesuatu. Pemuda-pemudi disatukan. Seperti tahun-tahun lalu, dalam masa perjuangan. Mereka berpakaian Kuning, Merah, Hijau, Abu-Abu sampai pada Kelabu. Memadati jalan-jalan utama. Memenuhi lapangan Luruh Indon sambil berteriak: ?Gantung Lurah Arta! Lengserkan Lurah Arta!? sampai membabi, meruntuhkan segala yang ada. Continue reading “Baik, Tunggu Baru”

BEYE, LURAH BANCI

M.D. Atmaja

Orang-orang telah garang karena banyak ketimpangan yang terjadi. Kelurahan tetangga terus menyusup ke halaman. Kadang merembes ke hijau sawah pertiwi. Mencuri ketimun atau kangkung. Mereka, Kelurahan Maling itu menggunakan tangan petani, menginjak padi yang merunduk. Mengambil segala yang bisa diambil. Seperti perompak dalam cerita-cerita bajak laut Wilayah Barat. Petani kelurahan tetangga mencuri, petani Kekurahan Luruh Indon menahan lapar yang sangat. Pencurian itu membuat petani di Kelurahan Indon meradang. Merah membara. Mengasah senjata dan berteriak-teriak kesetanan mengajak perang. Para petani tidak terima atas penghinaan kelurahan tetangga. Menginjak harga diri Kelurahan yang diperjuangkan dengan segenap tumpah darah seluruh rakyat Luruh Indon. Continue reading “BEYE, LURAH BANCI”

Tawur

M.D. Atmaja

Luruh Indon memerah ketika tersulut kobaran amarah purba. Orang-orang sibuk mengamati. Menunggu sepasukan bala gempur dikeluarkan dari barak kelurahan. Para orang tua memandang udara dengan mengambang. Mereka masih ingat bagaimana dulu panji-panji dikeluarkan. Diarak-arak ke alun-alun untuk mendengarkan semangat tutur Lurah pertama yang diangkat sebagai raja pertama. Continue reading “Tawur”

Mantan

M.D. Atmaja

Dhimas Gathuk menyandarkan tubuhnya di pematang sawah ketika iring-iringan mobil melaju kencang di jalan setapak yang menuju ke tengah pusat Kelurahan Luruh Indon.

“Pejabat lewat.” Ungkap Dhimas Gathuk tanpa mengangkat kepala. “Jalan kok seperti milik mereka sendiri. Wus-wus seenaknya sendiri.” Continue reading “Mantan”

Byar-Pet

M.D. Atmaja

Kumandang Isya selesai melantun di dalam udara malam. Dalam hituangan beberapa menit, sunah tarawih juga telah selesai. Kangmas Gothak bersama dengan adiknya, Dhimas Gathuk beriringan pulang ke rumah. Di tengah perjalanan, tiba-tiba kegelapan mengurung keduanya. Lampu-lampu penerang jalan mati. Angin kencang berhembus. Menggetarkan daun-daun hitam. Menegakkan bulu roma keduanya. Di dalam udara, mereka seperti mendengarjeritan tangis dari arah rumpun bambu. Udara menjadi semakin dingin. Merasuk ke dalam rongga dada. Continue reading “Byar-Pet”

Bahasa ยป