Mengikuti Centhini saat 40 Malam Mengintip Sang Pengantin (I)

M.D. Atmaja

Novel Cinthini sebagai (yang menurut saya merupakan) interpretasi ulang dari Serat Centhini yang ditulis pada tahun 1815 oleh Sri Susuhunan Pakubuwana V dapat memberikan wawasan kepada generasi muda tentang karya sastra Nusantara lama (dibaca juga dengan: kuno). Novel panjang Centhini ini memberikan gambaran pada generasi muda tentang bagaimana nilai kearifan lokal yang terkandung di dalam kesusastraan Indonesia Lama (Kesustraan Lama) yang saat ini sulit untuk dipahamioleh khalayak publik yang lebih luas. Continue reading “Mengikuti Centhini saat 40 Malam Mengintip Sang Pengantin (I)”

Perjamuan Semu Rindu

M.D. Atmaja

Seringkali aku berpikir, kapan malam-malamku akan kembali seperti dahulu. Dipenuhi hening dalam wening yang membuatku mampu melupakan segala yang busuk untuk mengenang segala yang manis. Sungguh aku merindukannya, dalam udara yang dingin aku duduk termangu menemui diri yang tetap tegak berdiri. Nikmat. Sangat nikmat melebihi perjamuan percintaan semu yang menusuk di akhirnya. Continue reading “Perjamuan Semu Rindu”

MANIFESTASI DUNIA DAN PELAYANAN SOSIAL*

M.D. Atmaja

Tentu sudah bukan menjadi pemikiran yang baru ketika saya di sini memulai mengungkapkan kembali mengenai nilai keuniversalan karya sastra dan skemanya sebagai suatu manifestasi dunia kehidupan. Pembacaan pada karya sastra akan membawa kita pada fenomena masyarakat atas dunia kehidupan yang dipahami seorang sastrawan sebagai salah satu agen edukasional. Saya mendasarkan ini pada pendapat Horatius yang menempatkan sastra sebagai media yang mengandungi dua nilai utama, yaitu mendidik dan menggerakkan. Continue reading “MANIFESTASI DUNIA DAN PELAYANAN SOSIAL*”

Pencapaian Kemerdekaan dengan Membunuh*

M.D. Atmaja

Manusia hidup dan berjalan dalam suatu wilayah yang begitu majemuk. Dalam kemajemukan itu, kita dapat menemukan berbagai macam hal kejadian yang dapat memberikan pencerahan, pemahaman, pun, pengertian-pengertian. Tidak hanya itu, dunia tempat kita berpijak ini dapat menjadi sosok penggoda yang memiliki dua misi berbeda: baik dan buruk. Sampai, Subagio Sastrowardojo berpesan “Bumi ini perempuan jalang/ yang menarik laki-laki jantan dan pertapa/ ke rawa-rawa mesum ini/ dan membunuhnya pagi hari” (Shimponi, hlm 1).Kemajemukan kejadian yang ada dalam kehidupan manusia, terkadang dilalui tanpa adanya kesadaran. Continue reading “Pencapaian Kemerdekaan dengan Membunuh*”

PENG…NGE…CUUT.!!!

M.D. Atmaja

Aku pernah melalui satu perjalanan bersama dengan seorang kawan yang begitu aku percayai menggenggam kehidupanku untuk berada di tangannya. Tapi dasar aku, mungkin terlalu bodoh, teramat gobloknya karena telah menyerahkan kehidupan merdeka yang pernah aku perjuangkan sekuat tenaga pada dirinya. Memang aku yang tolol, tidak perlu menyalahkan dirinya. Ia pun, memang sudah sewajarnya untuk mendapatkan kemerdekaannya sendiri. Meskipun, itu dengan penghianatan. Dengan pembunuhan. Ah, terserah saja dia. Continue reading “PENG…NGE…CUUT.!!!”

Bahasa »