M.D. Atmaja
Novel Cinthini sebagai (yang menurut saya merupakan) interpretasi ulang dari Serat Centhini yang ditulis pada tahun 1815 oleh Sri Susuhunan Pakubuwana V dapat memberikan wawasan kepada generasi muda tentang karya sastra Nusantara lama (dibaca juga dengan: kuno). Novel panjang Centhini ini memberikan gambaran pada generasi muda tentang bagaimana nilai kearifan lokal yang terkandung di dalam kesusastraan Indonesia Lama (Kesustraan Lama) yang saat ini sulit untuk dipahamioleh khalayak publik yang lebih luas. Continue reading “Mengikuti Centhini saat 40 Malam Mengintip Sang Pengantin (I)”
