NB: Aku Sangat Merindukanmu!

M.D. Atmaja

Serintik hujan mengisi malam wening. Memelodikan tembang kenangan tentang perjalanan jauh yang menyayat pilu. Semerbak sisa asap di pedupan, menggelayutkan mimpi. Mengajak seorang lelaki untuk terpekur dalam kesendirian yang tidak akan mampu dimengerti orang lain. Awang-uwung yang tadinya senyap, dikagetkan dering pesan singkat. Pesan dari kawan yang jauh.“Jalan-jalanlah. Jangan tenggelam dalam selimut.” Pesan itu penuh bujuk. Continue reading “NB: Aku Sangat Merindukanmu!”

Pedagogi: Humanisme Edukasi Sastra

M.D. Atmaja

Keberadaan karya sastra dibentuk oleh masyarakat yang melalui tangan seorang sastrawan (penulis) karya sastra itu dihadirkan yang sebenarnya untuk masyarakat itu sendiri. Sastrawan sebatas pada sarana dalam pemanifestasian gejala sehingga keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari unsur utama pembentuk karya yang dihasilkan. Pun, latar belakang serta kedudukan sosial mempengaruhi karya dalam proses penciptaan yang secara tidak langsung menyusupkan tendensi. Continue reading “Pedagogi: Humanisme Edukasi Sastra”

Kenapa Harus Menulis?

M.D. Atmaja

Hidup sebagai sosok manusia Jawa di tengah derasnya arus perkembangan zaman yang terus saja mencampur-aduk pemikiran, kebudayaan (jalan hidup), interpretasi tentang keagamaan, dan ideologi yang semakin menuju pada pluralisme. Terkadang di tengah perbauran aspek-aspek kehidupan tersebut, saya seringkali menemukan diri yang tanpa identitas. Saya merasa sedang berdiri di dalam gelombang yang terus saja zig-zag tanpa pernah perduli, di sana seolah-olah tidak menemukan suatu pijakan. Continue reading “Kenapa Harus Menulis?”

Belajar dari Ketragisan Bandung Bandawasa

M.D. Atmaja

Kemegahan candi Prambanan di perbatasan Yogyakarta Timur masih menyisakan kemegahan dan misteri. Di tempat itu juga menyimpan kronik sejarah yang dapat dijadikan bahan ajar untuk kita, manusia Indonesia. Prambanan sebagai simbolisme perjuangan melawan kesewenangan kekuasaan yang didorong keserakahan nafsu dan ambisi manusia. Juga mengenai peliknya perjuangan cinta yang disertai hujan air mata yang menderas darah dan berakhir dengan penghianatan. Continue reading “Belajar dari Ketragisan Bandung Bandawasa”

Bahasa »