Mendialogkan Keberadaan Gathak dan Gathuk

M.D. Atmaja

Keresahan itu selayaknya kawan mesra yang kedatangannya tanpa harus kita rindukan, juga seringkali datang tanpa terlebih dahulu membuat janji. Resah yang memang terlahir dari keinginan diri – yang dalam bahasa kerennya: mimpi – yang belum sempat tergapai. Berangkat dari keinginan ini, manusia dapat dikatakan memiliki sifat hidup. Akantetapi, tidak lantas kita langsung menterjemahkan kalau “keinginan” itu memiliki arti mengenai “hidup”, sebab hal tersebut tidak ada di dalam kamus, dan masyarakat Jawa lebih senang dalam “sepi ing pamrih” serta untuk “mati selagi hidup dan hidup selagi mati”. Continue reading “Mendialogkan Keberadaan Gathak dan Gathuk”

Kepriyayian Humanis

M.D. Atmaja

Dunia Priyayi Jawa sempat dijadikan bidikan empuk ketika berhadapan dengan dua ideologi yang dilahirkan pergolakan manusia di Barat. Yaitu Komunisme yang seperti hantu dan kapitalisme, si musuh bebuyutan yang belum sempat dikalahkan. Dua ideologi politik yang ternyata ideologi manusia yang memiliki kesamaan, membidik sistem kepriyayian (feodalisme) untuk diruntuhkan. Mungkin saja, feodal selalu dipandang buruk, sebagai segolongan penguasa (tuan tanah) yang memerintah rakyatnya (buruhnya) dengan sewenang-wenang, bertindak zalim, tidak adil dan tidak berperikemanusiaan. Continue reading “Kepriyayian Humanis”

“Tolok Ukur dan Nilai” dari Kekuatan

M.D. Atmaja

Pada periode kehidupan kita sekarang ini, suatu nilai yang hendaknya dimiliki oleh setiap manusia adalah kekuatan. Selayaknya di dalam suatu pertempuran, kekuatan menjadi faktor utama yang dapat menentukan hasil. Menang atau kalah, dapat dilihat dari pola kekuatan yang dimiliki. Meskipun kita belum menyaksikan peperangan yang sebenarnya, dari pengamatan akan kekuatan masing-masing pihak, peramalan kemenangan dapat ditentukan.Kekuatan yang oleh beberapa orang seringkali diucapkan dengan istilah “energi” terdapat tiga bentuk. Continue reading ““Tolok Ukur dan Nilai” dari Kekuatan”

DI ATAS TANDU LANGITAN, JALAN CINTA PENYAIR I

M.D. Atmaja

PENDAHULUAN

Cinta, seperti halnya alur kehidupan pada umumnya, sebagai esensi dari perasaan manusia, pun, di dalamnya terdapat adanya jalan yang ditempuh oleh pecinta. Sesingkatnya, saya mengatakan kalau cinta merupakan jalan kehidupan manusia itu sendiri. Suatu jalan yang biasa, namun memiliki karakter tersendiri dan memuat nilai-nilai yang bisa dilihat dari tapak laku pecinta. Continue reading “DI ATAS TANDU LANGITAN, JALAN CINTA PENYAIR I”

Bahasa »