Kroni Hitler

Peresensi: Muhammad Amin
http://www.riaupos.com/
Penulis: Fernando R Srivanto
Penerbit: Narasi, Jogjakarta
Cetakan: Pertama, 2008
Tebal: 175 halaman

Mendengar nama Hitler tentu akan menimbulkan kesan tersendiri, kengerian. Ia adalah sosok penjagal kelas wahid selama perang dunia II. Tentu saja, selama melakukan aksi sadisnya secara massal, tidaklah kedua tangannya saja yang bekerja. Hitler memiliki organisasi dan perangkat yang membantunya dalam setiap langkahnya. Continue reading “Kroni Hitler”

Blunder Hitler di Barbarossa

Peresensi: Muhammad Amin
http://www.riaupos.com/
Operasi Barbarossa Ketika Hitler Menyerang Stalin
Penulis: Ari Subiakto
Penerbit: Narasi, Jogjakarta
Cetakan: Pertama, 2008
Tebal: 168 halaman

Bagi penguasa diktator semacam Hitler, perang adalah hobi sekaligus jalan untuk meraih ambisi. Tak peduli untuk mencapai ambisinya itu, akan banyak nyawa melayang, baik di pihak tentaranya maupun lawan. Continue reading “Blunder Hitler di Barbarossa”

Percakapan di Serat Lontar

Muhammad Amin
Suara Merdeka 27 Feb 2011

Halimun menipis. Air laut menyurut memperlihatkan bebatuan karang yang mendatar di sepanjang tepian pantai. Sinar keemasan jatuh pada ujung dedaun. Berpendar pada riak-riak jernih air yang tenang.

Hijau dan biru, paduan yang menyimpan tiap yang rahasia tiap yang misteri, seperti juga dedaun yang tersibak angin dan langit yang merentang tenang. Continue reading “Percakapan di Serat Lontar”

Empat Potong Warahan Batu

Muhammad Amin
http://www.lampungpost.com/

MARI kukisahkan kembali beberapa potong cerita tentang batu. Cerita-cerita ini tercecer begitu saja di lepau atau kedai tuak Wa Isah sebelum kusampaikan lagi kepadamu. Cerita yang kupunguti satu per satu dari mulut kawan yang menyeracau sambil tersedak. Kebiasaan yang tak pernah kita lupakan: mangkal di kedai tuak sembari menunggu Abdul Manan, si tukang cerita itu menyampaikan warahan yang memikat. Continue reading “Empat Potong Warahan Batu”

Puing-puing

Muhammad Amin
http://www.lampungpost.com/

ADA sekelumit hati yang merindukan rumah. Merindukan sebuah bangunan yang bisa ditinggali bersama keluarga. Tapi kapankah? Bukankah harapan itu hanya sia-sia. Karena tak ada lagi orang tua, tak ada lagi suasana rumah seperti dulu. Tak ada kenangan masa kecil. Segalanya telah runtuh menjadi puing.

Dia–seorang anak muda, melihat puing-puing berserakan. Di mana-mana. Di wajah orang tua. Di tanah kering. Ombak pecah jadi puing. Ranting patah jadi puing. Air mata luruh jadi puing. Hujan jatuh jadi puing. Sengketa usai jadi puing. Tawa berderai jadi puing. Continue reading “Puing-puing”