Percakapan di Serat Lontar

Muhammad Amin
Suara Merdeka 27 Feb 2011

Halimun menipis. Air laut menyurut memperlihatkan bebatuan karang yang mendatar di sepanjang tepian pantai. Sinar keemasan jatuh pada ujung dedaun. Berpendar pada riak-riak jernih air yang tenang.

Hijau dan biru, paduan yang menyimpan tiap yang rahasia tiap yang misteri, seperti juga dedaun yang tersibak angin dan langit yang merentang tenang.

Embun sebentar saja habis. Jilatan lidah ombak pada pasir, memantulkan kilau keemasan, berdesir rendah sekali seperti tak ingin mengganggu tidur seorang perempuan berwajah setenang air muara yang sedang nyaman di atas dahan ketapang. Tapi sinar matahari yang menyelinap celah-celah daun ketapang telah lancang membuyarkan niat baik ombak.

Perempuan yang berambut seperti ombak, selalu dihiasi lukuk lada. Kulit kerang berjejar di antara jenjang lehernya. Warna kulitnya tak pernah melukiskannya sebagai perempuan laut. Orang-orang mungkin mengira ia perempuan istana dengan segala keindahannya.

Perempuan laut itu tercenung. Tafakur mengeja tanda-tanda. Duduk di sampingnya seekor harimau dengan nafas hangat, bulu-bulu halus yang hangat–warna lempeng emas dengan garis-garis hitam pekat yang menjalari tubuh besarnya.

Perempuan pemahat batu dan Nawa, harimau yang selalu mendampinginya, kini hanya menikmati cahaya hangat pagi. Tidak seperti hari-hari sebelumnya.

***

Serat Lontar yang Pertama.

Nawa, harimauku yang setia, tak mengerti aku mengapa perasaanku sedemikian rupa. Seakan tak bisa aku menyelami palung hati sendiri. Pagi ini aku seperti kehilangan seluruh kekuatan untuk memahat dinding batu dengan kedua tanganku. Maka tolong bawalah aku dari sini.

Malam itu, Nawa, setelah kau memberitahuku bahwa ada sekelompok orang membuka tempat pemukiman tak jauh dari tempat kita, tiba-tiba aku mendengarkan suara. Sebuah suara yang mengalun, bermain bersama angin. Bersidekap dengan senyap. Begitu indah melahirkan nada-nada dari rahim semesta. Kulihat pucuk-pucuk daun menggeletar.

Tubuhku terseret oleh iramanya. Pikiranku limbung dan terbang seperti kapas. Melayang-layang seperti seekor burung. Seakan pikiranku ikut mengembara ke atas awan. Berputar-putar di suatu tempat yang tak jelas di mana. Suara yang indah itu seperti rintik jarum-jarum hujan di tengah daratan yang kerontang. Tak terasa aku telah berada di tempat pemukiman baru itu. Kukira, mereka orang-orang pengembara atau mungkin sekelompok penyamun (perompak) yang sengaja singgah di pulau ini? Atau para pelaut yang terdampar akibat badai?

Tapi malam itu tak kutemukan mereka di sana, Nawa. Hanya seorang—ya, seorang saja, duduk di atas onggokan batu di depan gubuk yang baru didirikan. Jemarinya bermain-main di atas sepotong bambu kecil yang menempel pada bibirnya. Dia tampak tenang sekali, seolah aku bisa merasakan nyanyian itu. Semakin meninggi semakin bergetar hati. Gurat wajahnya jelas terpantul cahaya unggunan api dan bulan sepotong di langit jernih. Angin terasa menghinggap. Senyap. Burung-burung yang bertengger di pepokok dahan pun menyimak.

Lalu suara keretak reranting dan dedaun kering yang tak sengaja terinjak olehku telah membuyarkan penghayatannya. Membuatnya tiba-tiba berhenti memainkan lagu. Dia menangkap keberadaanku. Kami bersitatap. Aku terhenyak. Mendadak aku tak dapat bergerak.

Mata itu, Nawa, mata yang berkilat kelebat menusukku. Mata itu yang telah menghilangkan seluruh kekuatanku. Karena ketakutanku, segera aku berlari untuk menghindar darinya, melesat secepat yang aku bisa. Sempat kudengar engkau mengaum keras sekali. Ada amarah yang sempat kutangkap dari aumanmu yang tak biasa itu.

Beberapa hari setelah itu, rupanya kau telah merobek dada lelaki pemilik mata itu. Kau telah memendam dendam tak jelas. Dia terkapar di bawah pohon maja, dengan tubuh kaku tak berdaya. Aku kebingungan tak tahu harus berbuat apa.

Kukira engkau telah menghilangkan nyawanya. Tapi dadanya masih bergerak, dada koyak berlumur darah itu perlahan bergerak mengikuti irama nafasnya. Segera aku mencari ramuan dari rumputan dan semak untuk menyembuhkan lukanya.

Beberapa hari ia tak sadarkan diri. Aku merawatnya hingga luka itu mengering, hingga benar-benar sembuh seperti sediakala.

Lalu bisakah kaubayangkan bagaimana hatiku saat memandang wajah penuh gurat kecemasan dengan cambang lebat itu. Dan bibir merah kecoklatan yang indah kala meniup sepotong bambu. Seperti sebuah kerinduan. Selama ini aku hanya mendengar ceritamu tentang pangeran dari negeri angin. Adakah dia pangeran yang kauceritakan itu?

Ketika mata itu mulai terbuka, kembali diriku diliputi resah. Perasaanku kalut, bercampur aduk antara senang dan takut. Seperti hujan batu.

Karena mata itu, mata yang seolah memberiku sesuatu rahasia tentang kecemasan. Aku yang seketika menjadi demikian lemah di hadapan lelaki yang tak pernah kukenal –namanya sekalipun. Dia seolah menjelma angin puyuh yang menerjang pohon-pohon kita, menggolakkan ombak yang memecahkan karang.

Aku ingin kekuatanku kembali. Aku ingin menikmati setiap lekuk batu yang kupahat dengan kedua tanganku seperti hari-hari sebelumnya. Namun, suatu waktu, terkadang aku masih saja merindukan lagu-lagu indah yang ia mainkan di malam-malam kelam.

Nawa, mungkin hanya kau yang tahu riwayatku selama ini, kau yang telah merawatku sejak bayi. Aku terlahir oleh ombak yang berdesir tenang itu, katamu. Ombaklah ibuku. Ombak dengan segala perangai dan muslihatnya, selama beberapa kurun waktu, telah melahirkan dan mengasuhku.

Dan bapakku, batu karang yang telah kausuruh aku memahatnya dengan tanganku selama bertahun-tahun. Batu yang kokoh dan hitam menjulang itu telah menanamkan benih kehidupan kepada buih-buih ibu.

Aku memang tak pernah mengerti semua ini. Tak pernah aku bertanya siapa dan bagaimana aku dilahirkan. Seperti burungkah? Seperti ikankah? Seperti kura-kura muara? Kau sendiri yang bercerita tanpa aku meminta.

Seperti katamu, ibuku sang ombak yang tak tertebak perangainya, kadang cemas bergelora kadang tenang menyaingi muara. Dan tubuh bapak yang hitam menjulang itu, aku yang memahat tubuhnya sehingga tampak seperti seekor naga yang menganga.

Seluruh waktu kuhabiskan untuk memahat batu, memahat tubuh bapak, dengan tanganku. Lalu tubuh ibu menghempas kami, menaburkan buih-buih sewarna putih awan. Lihatlah tubuh bapak menganga, aku yang telah mengukirnya, seolah menyemburkan kepulan asap yang mengabut dan membubung ke udara saat tubuh ibu menghempasnya. Menakjubkan. Mereka terlihat bahagia.

***

Serat Lontar yang Kedua.

Sebagaimana yang telah terterakan dalam kitab, yang aku tak pernah tahu namanya, berupa kulit lontar yang tebal, berisikan empat puluh sembilan helai lontar yang bertuliskan ketetapan takdir keturunan kita, Anakku, Eyangmu si pertapa itu yang menyimpan kitab Lontar memberikan sebuah petunjuk kepadaku. Petunjuk dari ketetapan Sang Semesta. Petunjuk yang sangat tidak aku harapkan.

Dari sana dapat kutangkap maksud pesan Eyangmu bahwasanya aku akan mengandung benih calon bayi perempuan di dalam rahimku, yaitu janinmu. Demikian ketetapan yang harus kuterima. Bagaimana aku bisa mengandung janin bayi jika tak ada lelaki yang pernah menyentuhku?

Janin itu akan tetap ada di dalam rahimku, kata Eyangmu, karena itu adalah keputusan Sang Semesta, yang tak bisa kita merubahnya. Di rahimku akan tetap tertanam janin bayi perempuan meski tak ada seorangpun lelaki yang menjamah dan menyemai benihnya di selangkanganku yang ranum dan harum susu. Lalu hari demi hari yang kulalui mulai tampak berubah. Mulai muncul tanda-tanda yang menunjukkan bahwa aku benar-benar sedang mengandungmu. Dan aku, meski dengan berat hati, harus mampu menerima. Aku merawatmu dalam kandunganku hingga tiba sembilan bulan. Bertepatan saat aku akan melahirkanmu, Eyangmu datang dengan wajah seperti digayuti awan mendung. Seharusnya beliau bahagia menyambut kelahiran cucu pertamanya.

Dan tak kusangka, kesedihannya itu ditanggungnya selama berbulan-bulan dan memendamnya sendiri. Tapi sebagai manusia biasa, beliau merasa tak kuat dan harus menyampaikannya kepadaku meski dengan sangat berat hati. Kemudian beliau menyampaikan sebuah petunjuk lagi yang tak lebih memerihkan ulu hati. Seperti luka ngaga yang tersiram racikan garam. Lagi-lagi aku harus memikul beban berat. Perasaanku tercabik-cabik.

Eyangmu keluar dan menangis tersedu-sedu. Tak pernah aku melihat lelaki tegar dan kokoh itu tak mampu membendung kesedihannya. Setelah itu, beliau merasa menjadi manusia paling menyesal di dunia. Kemudian beliau pergi dan tak pernah kembali, hidup menyendiri di puncak gunung.

Aku menghanyutkanmu ke tengah samudera. Di bawah bentangan langit berbintang, tengah malam yang tenang. Kau tertidur pulas di dalam keranjang dan kuselimuti dengan daun-daun ketapang. Sementara, dalam beberapa kurun waktu, ombak akan mengasuhmu. Membuaimu dalam nyanyian angin dan gelombang. Kelak ombak akan mendamparkanmu di sebuah pulau yang nyaman untuk ditinggali.. Di sana, seekor harimau yang baik hati akan mengasuhmu hingga dewasa. Ia akan menjaga dan melindungimu lebih dari dirinya sendiri.

Dua puluh tahun berlalu, kini aku terbaring dalam penantian dan penyesalan, menyimpan rindu yang tak berkesudahan. Rindu yang kuperam dan hampir matang. Rindu yang membuat dadaku ingin pecah.

Sebelum aku pergi dalam pembaringan terakhir ini, sesungguhnya ingin aku memelukmu, meski hanya sekali saja seumur hidupku, wahai anak perempuanku yang hilang. Kelak, ibu tetap akan menyimpan rindu ini hingga engkau tiba di taman surga.

***

Serat Lontar yang Ketiga.

Perempuan pemahat batu, kusimpulkan begitu karena sering kulihat sosokmu memahat dinding batu di tetebing tepian pantai itu. Aku tak pernah tahu namamu.

Demikianlah malam itu. Sesungguhnya aku hanya ingin bercerita tentang keresahanku kepada malam, bulan yang lindap dan pada senyap.

Tak pernah aku bercerita meski pada kawan-kawanku sendiri, orang-orang yang sudah sejak lama mendampingiku sampai ke tempat ini. Bukannya aku tak percaya, tapi hati manusia cepat sekali berubah secepat mata mengerjap, secepat jantung berdegup. Aku hanya ingin berbagi pada malam, pada warnanya yang hitam.

Kulihat daun-daun bergoyang seakan mengerti irama. Sendu serulingku merambat ke udara, menggetarkan hati, mengingatkanku pada sosok yang terlalu kucintai: ibuku.

Suatu hari diembankannya kepadaku sebuah amanat. Amanat yang, menurutku saat itu, tak terlalu berat. Aku akan merasa sangat berdosa bila tak bisa memenuhinya. Aku harus mencari bayi perempuannya yang dulu hilang ketika baru dilahirkannya.

Ibu meyakini ia masih hidup. Ada sebuah tanda lahir seperti tulisan, menurut ibu seperti rajah, tepat dibawah tengkuknya. Konon tanda lahir itu sengaja diberikan oleh para dewa agar di kemudian hari mudah dikenali.

Namun akhirnya aku benar-benar merasa berdosa dan putus asa karena tak jua kutemukan adik perempuanku itu hingga kini. Hingga kudengar kabar maut telah menjemput ibu yang terkapar dalam ranjang penantiannya. Ibuku mati dijerat rindu terhadap anak perempuannya.

Nyanyianku buyar saat suara keretak reranting patah mengusik telingaku. Kulihat kau berdiri di sudut bawah pohon, begitu ketakutan saat menatapku, seolah tak pernah kau melihat manusia sebelumnya. Sebuah tatapan dan ketakutan yang tak biasa. Dan ronamu seakan pernah kutemui dalam lagu. Ya, lagu-lagu yang kerap kulafalkan lewat sepotong bambu.

Lalu, tanpa kuduga, kau melesat pergi begitu saja. Entah karena apa. Aku ingin mengejarmu, tapi langkahku tercekat saat seekor harimau mengaum keras sekali. Aku tahu kau selalu didampingi seekor harimau yang lamat-lamat mencium keberadaanku. Dia menerjang saat aku lengah. Sekejap telah berhasil dia merobek dadaku dengan cakar emasnya. Aumannya seperti halilintar yang merobek udara. Menggelegar.

Aku tak tahu apa yang terjadi kemudian. Yang jelas, sempat aku bertemu ibuku. Beliau tersenyum beku dan dingin seperti batu, yang membuatku selalu dihantui rasa bersalah atas ketidakberdayaan. Rasa menyesal yang tak kunjung usai.

Mataku perlahan terbuka, samar kulihat bayanganmu di sampingku, mengusap luka di dadaku yang mulai mengering dengan tangan halusmu, wahai perempuan pemahat batu. Ketulusanmu seperti ketulusan ibuku.

Sesuatu yang tak pernah pernah kuduga. Kau seolah sangat ketakutan saat aku mulai sadarkan diri. Sosokmu yang penuh rahasia dan misteri tanpa sengaja memintaku untuk menelusuri. Aku memandangmu, tatapanmu redup. Tiba-tiba kau segera berlari ke arah laut, menyatu bersama ombak. Aku tak bisa lagi membedakan. Kau menghilang dari pandangan. Menghilang dalam arti yang nyata. Badai pun datang. Suara gemuruh di langit dan keretap kilat menyambar.

Untuk kedua kalinya hujan mengiringi kehilangan.

Setelah itu, aku tak pernah lagi menemukan sosokmu di antara mainan ombak dan pahatan batu yang belum sempat kauselesaikan.

Aku heran, juga terpesona, batu yang telah kaupahat itu menyemburkan buih-buih yang kadang membentuk rupa harimau, kadang rupa naga yang menganga.

Suatu hari (hanya) kutemukan beberapa kelupas kulit harimau, kulit-kulit kerang, dan lukuk lada di bawah pohon ketapang. Rupanya kau telah benar-benar menghilang, perempuan pemahat batu. Adakah kau telah terbang ke kayangan?

Padahal, telah lama aku mencari….

Suatu saat akan kucuri selendang bidadari yang sedang mandi di Telaga Suci. Mungkin kau ada di antara mereka.(*)

Kotaagung, 2008-2010

Catatan:
Lukuk lada: rumput laut berbentuk biji-biji lada.

MUHAMMAD AMIN, lahir di Kotaagung, 31 Juli 1990. Mulai menulis sejak 2008. Karya berupa cerpen dan puisi dimuat beberapa media. Kini tinggal di Bandar Lampung.

(cerpen ini kutulis waktu masih duduk di kelas XII SMA dengan judul “Perempuan yang Memahat Batu denan Tangannya”, mendapat juara Lomba Cerpen tingkat Nasional Festival Bulan Bahasa 2008 yang ditaja oleh Universitas Indonesia)