Muhammad Yasir
Entah berapa kali lonceng gereja yang berjarak dua ratus kaki dari toko buku kami itu berbunyi dalam sejam. Setiap pagi, siang, dan sore dari beranda rumah atau ruang kerjaku di dalam toko, bunyinya terdengar begitu jelas dan setiap bunyi memiliki nada dan pesan yang berbeda-beda yang sukar kuterka. Pada hari kematian nenek dan bibi, bunyinya seperti mengatakan: “Kau adalah kesedihan dan pesakitan. Jalanmu akan panjang, hingga berujung penyerahan diri!” Continue reading “Tidak Ada yang Bisa Kuceritakan Kepadamu Selain Kesedihan dan Pesakitan”


