Kertas-kertas Sunyi

Muhammad Yasir

Bukankah hanya kesunyian belaka yang engkau rasakan ketika kita duduk bersama di beranda toko buku yang sepi di sepanjang makam terpanjang dalam sejarah peradaban kolonialisme di sini?! Katakan! Bahwa setiap makam telah berubah menjadi rumah-rumah beraneka bentuk dan warna, beraneka pula persoalan hidup dan dakwaan dunia yang dihadapi orang-orang di dalamnya. Continue reading “Kertas-kertas Sunyi”

Pencuri Jam Dinding di Rumah Tuhan

Muhammad Yasir

Malik bin Mukhsin; seorang lelaki tua, taat, dan alim, secara mengejutkan membuat pengakuan kepada Allah, Tuhan yang dia yakini, ketika dirinya berumur 80 tahun lima hari yang jatuh pada bulan Juni yang lebih cerah dari roman wajahnya. Malik bin Mukhsin merasa perlu melakukan pengakuan ini, karena zaman telah berubah. Tidak seperti masa kanak-kanaknya dulu; orang-orang datang ke rumah Tuhan tidak hanya sekadar membuktikan ketundukan dan kepatuhan, lebih dari itu. Continue reading “Pencuri Jam Dinding di Rumah Tuhan”

Penyair Tua dan Tali Sepatunya

Muhammad Yasir

Seribu kaki dari Jembatan Merah, Surabaya, rumah sederhana dari batu bata dan kayu beratap seng berwarna perak, tampak berkilauan dari kejauhan seperti berbilah pisau yang sengaja diampar di tepi pantai. Rumah sederhana itu milik seorang lelaki tua berumur menjelang 75 tahun. Tidaklah orang kebanyakan, bahkan tetangganya sekali pun tahu bahwa dia adalah seorang penyair yang begitu santai dan penuh pertimbangan dalam hidupnya. Dia tinggal seorang diri di rumah sederhana itu – maksudku, anak dan istrinya lebih cepat mati. Hampir sepanjang hari, dia akan duduk di ruangan pengabdiannya; ruangan yang diisi beberapa rak buku, lampu baca, sebuah mesin tik tua, dan sepasang sepatu kulit berwarna cokelat muda tanpa tali. Continue reading “Penyair Tua dan Tali Sepatunya”

Bahasa »