“Malam Api”: Gambaran Kegelapan Riau yang Tertekan

Musa Ismail
Riau Pos 04 Nop 2007

Memang benar bahwa karya sastra dibidani dari rahim sastrawan yang penuh dengan ide-ide dan pernak-pernik kejeniusan lokal (etnik genius). Tidak heranlah jika karya sastra yang terlahir dapat dikatakan sebagai cerminan (emanas) dari kehidupan sosial masyarakat yang membesarkan dan membentuknya sebagai manusia. Buah yang jatuh tidak akan jauh dari pohonnya atau air cucuran jatuhnya ke pelimbahan juga. Continue reading ““Malam Api”: Gambaran Kegelapan Riau yang Tertekan”

Telaah Kumpulan Cerpen Sebutir Peluru dalam Buku karya Olyrinson

Musa Ismail
Riau Pos, 5 Juni 2011

Sekapur Sirih, Seulas Pinang

Realitas memang tidak dapat dipisahkan dari genre sastra apapun. Seabsurd atau seirasional apapun karya sastra, sudah dipastikan memiliki sisi realitas di dalamnya. Istilah realitas berawal dari realisme. Sebagai istilah estetika, realisme pertama sekali digunakan dalam Majalah Mercure Francais di XIX Siecle pada 1826. Di majalah itu, realisme digambarkan sebagai “peniruan bukan dari karya seni tradisi, melainkan peniruan dari aslinya yang disajikan oleh alam” (Luxemburg dalam Mahayana, 2005:356). Continue reading “Telaah Kumpulan Cerpen Sebutir Peluru dalam Buku karya Olyrinson”

Kenyataan Kelam dalam Orang-Orang Kalah

Musa Ismail
http://riaupos.com/

Karya sastra(wan) dan kenyataan (reality) —oleh sebagian orang—dianggap dua jalan yang ujungnya tak bisa bertemu. Hal ini dikarenakan sebagian orang tersebut hanya menganggap bahwa sastra tidak lebih sekedar batas khayalan atau angan-angan.

Menurut mereka, sastra merupakan benda yang tak berakar ke bumi dan tak berpucuk ke langit. Bahkan, karya sastra hanya dianggap sebagai hiburan dan mengisi waktu luang. Continue reading “Kenyataan Kelam dalam Orang-Orang Kalah”

Bahasa »