Posted by PuJa on December 23, 2011
Yang meloloskan pengertian “Kun Fayakun” dirombak ke dalam bahasa Indonesia membentuk makna; “Jadi, lantas jadilah!” dan “Jadi maka jadilah!” Nurel Javissyarqi Awalnya masih menaruh pikiran positif. Di kepala seakan tertera kata-kata, “pasti pidatonya mbeneh, bukan awut-awutan,” nyata tebakan itu meleset. Pun ingin husnudzon, mungkin tak tahu sumber aslinya. Namun apakah mungkin, sastrawan terkenal yang banyak [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on December 5, 2011
(bagian XV, kupasan pertama dari paragraf tiga dan empat) Nurel Javissyarqi “Esai-esai (godaan subyektivitas) Ignas Kleden, semacam obrolan menggurui, bertele-tele dengan tempo lamban, musik orang mapan (cocok bagi pemalas), seperti lagu kenangan -nglokro. Bukan keroncong atau musik klasik, meski pelan berjiwa keterlibatan. IK berjarak demi peroleh pandangan obyektif, maka yang terjadi tulisannya semi-semi ilmiah.
Filed under: Esai
Posted by PuJa on November 27, 2011
Membaca “kedangkalan” logika Dr. Ignas Kleden? (bagian XIV, kupasan ke nol dari sebelum paragraf ketiganya) Nurel Javissyarqi “Wahrheiten wollen erkannt und festgestellt, eben bewahrheitet sein; die Wahrheit selbst bedarf dessen nicht, sondern sie ist es, die allein bewährt, was irgend als wahr erkannt sein und gelten soll.” “Segala kebenaran maunya diketahui dan dinyatakan, dan juga [...]
Filed under: Cangel, Esai
Posted by PuJa on September 15, 2011
Nurel Javissyarqi http://sajak-sajak-pertiwi.blogspot.com/ (I) Rambut memanjang arang menawan kelopak mata sendu elang lautan alisnya pepohonan bukit barisan hidung mancung menikam jantung. (II) Dua gegaris pedang ke bawah jurang bibir kawah simpul memawar merah aroma melati lati sukma sejati rasa.
Filed under: Sajak
Posted by PuJa on July 30, 2011
untuk Ahmad Syauqillah Nurel Javissyarqi http://sajak-sajak-pertiwi.blogspot.com/ MUWAFIQAT Wahai sahabat bukalah sejarah Ibrahim yang menenteng kapak memenggal berhala menjadikan lebur tak hanya berserak
Filed under: Sajak
Posted by PuJa on June 9, 2011
Nurel Javissyarqi Sebelum menulis ini, ada ruh-ruh menawarkanku untuk melewati gelombangnya, sedenyar cahaya bertumpuk-tumpuk pelbagai warna fajar atau senjakala bertuah. Ruh suara itu kadang mengambang, menelisiki ceruk bumi rahasia, dikala naik setinggi derap selat Sunda. Berhamburan sumringah mengabarkan gugusan kilau tak terkira.
Filed under: Cangel
Posted by PuJa on June 2, 2011
Nurel Javissyarqi http://pustakapujangga.com/2011/10/sue-responsibility-of-authorship-of-sutardji-calzoum-bachri-2/ Dua esai Tardji sebagai lampiran sudah cukup untuk mengidentifikasi anatominya di wilayah susastra yang mungusung “mantra” dari akar-akarnya, yaitu tradisi. Dalam ilmu kemantraan di bencah tanah Jawa, ada istilah ajian panglimunan, berguna tidak untuk menyerang, pun membentengi dari sergapan. Tepatnya berdaya mengaburkan pandangan musuh demi meloloskan jejak atau memberi kefahaman keliru kepada [...]
Filed under: Edisi Khusus, Esai
Posted by PuJa on
Nurel Javissyarqi http://pustakapujangga.com/2011/10/sue-responsibility-of-authorship-of-sutardji-calzoum-bachri-vii/ VII Bagian ini menuruti angka ganjil VII, sebagai letak pemberhentian atas ketaksesuaianku dengan Tardji. Yang bermula igauannya bahwa Tuhan berimajinasi, bermimpi, hingga menggugah diriku mendatangi: “Jika tidak satu pun kritikus dapat memberikan penilaian atau pemahaman yang meyakinkan atau malah hanya sekadar komentar asal bunyi atau lip service saja, maka pengarangnya harus angkat [...]
Filed under: Edisi Khusus, Esai
Posted by PuJa on
Nurel Javissyarqi http://pustakapujangga.com/2011/10/sue-responsibility-of-authorship-of-sutardji-calzoum-bachri-vi/ VI Di buku Raja Mantra Presiden Penyair, sastrawan Taufik Ikram Jamil menulis esai bertitel Bersama Sutardji Calzoum Bachri seluas 16 halaman, dari nomor 64 sampai 79, mengisahkan keakraban dirinya dengan sosok dikenal tukang mantra itu. Ikram mengudar perjalanan Tardji sedari kanak hingga proses kreatif di tanah Pasundan, berpelukan hangat kerinduan, seperti mengetahui [...]
Filed under: Edisi Khusus, Esai