Sastra-Indonesia.com hampir 13 Tahun 12 Ribu Postingan

Catatan ke II Website Sastra-Indonesia.com dan ke APSAS


Nurel Javissyarqi *

Sebelum mewedar jauh, saya memohon maaf dengan sungguh-sungguh kepada para penulis yang karyanya terposting, tapi mengalami perubahan tampilan. Contoh, tanda petik menjelma tanda tanya, khususnya di unggahan tahun-tahun awal, 2008-2012 dan lebih. Ini lantaran ulah hacker sekitar tahun 2011-an, hingga menghilangnya ratusan postingan dari alamat http-nya. Alhamdulilah, data / catatan sudah terposting di Website SI (Sastra-Indonesia.com) sebagian besar telah ditempatkan di laman-laman media blogspot pendukung, sehingga memudahkan memindahkannya kembali meski secara manual, karena tak bisa diatur serempak sekali jalan melalui kerja membenahi html-nya. Sampai sekarang, dengan diam-diam terus membetulkan kesemrawutan itu lewat jari-jemari tangan seorang diri. Semua dilakukan sendirian, oleh sejak awal pun memprediksi apa yang dikerjakan banyak orang pastinya mendapati kemudahan, tapi ketimpangan salah paham bisa bertikai dalam. Jika sendiri, hal kekacauan manusiawinya dapat diminimalisir, mungkin itulah yang dialami banyaknya website layu bergelimpangan sebelum menginjak usia lima tahun rata-rata ambruk menuju sia-sia, dikarena yang kadung (terlanjur) terunggah musnah tak lagi mengudara.

Alhamdulillah bertambahnya umur web SI semakin mudah mendapatkan suntikan data-catatan, tentu secara gratis suka rela, yang kian menguatkan posisi di ambang google. Karya-karya dari: Djoko Saryono, Taufiq Wr. Hidayat, Sigit Susanto, F. Rahardi, Aprinus Salam, Sunu Wasono, Ibnu Wahyudi, Amien Kamil, Rakai Lukman, Anton Wahyudi, Lutfi Mardiansyah, Sasti Gotama, Rambuana, Erwin Setia, Ahmad Yulden Erwin, dst. Sedang nama-nama penghuni lama web SI: Maman S. Mahayana, Goenawan Mohamad, Saut Situmorang, Sutejo, S. Jai, Mashuri, A. Syauqi Sumbawi, dst, masihlah ringan memberi energi uploadan. Dan beberapa nama yang dulunya hanya dapat diambil karyanya di mass media, sekarang masuk / diperkenankan menjumputi dari dinding facebooknya: Raudal Tanjung Banua, Sunlie Thomas Alexander, Bandung Mawardi, & yang terbaru Benny Arnas, dst. Tentu sampai sekarang tetap menjelajahi laman media lain, tapi tak seajek dahulu, sebab diharuskan berlangganan / berbayar, dan saya sengaja cari gratisan, atau gampangan dan pastinya yang bermutu, jikalau ada kelewat itu hal manusiawi. Memang awal mengorbitkan web, kadang tidak lama menimbang kualitas karya untuk diterbitkan ulang, tak lain segerak kejar rating musiman. Misal bulan depan Ramadhan, maka mencari “kata kunci” terkait “sastra dan ramadhan,” jadi saat puasa datang tinggal santai. Dan sepertinya, pola yang menelan waktu beberapa tahun itu tinggal memetik hasil, tak lagi ngoyo serupa lelangkah awal.

Sejak semula menyadari tidak mungkin mampu memberikan imbalan kepada para tuan-tuan menyokong web SI atau ngasih honor, selain tak punya uang lebih juga tidak mau ribet. Jadi, semenjak pertama menancapkan niatan demi dokumentasi; website SI serta barisan pasukan blog-blogspotnya: Media Dunia Sastra, Media Sastra Indonesia, Media Sastra JaTim, Media Sastra Nusantara, Media Seputar Indonesia, Media Seputar Pendidikan, Pasar Seni Indonesia, Pembebasan Sastra, Puisi-Puisi Indonesia, Sajak-Sajak Pertiwi, Sastra Gerilyawan, Sastra Luar Pulau, Sastra Pemberontak, Sastra Perlawanan, Sastra Pesantren, Sastra Tanah Air, Seputar Sastra Indonesia, Seputar Sastra Semesta, Sosial Media Sastra, World Letters, FSL, FSJ, & PUstakapuJAngga.com, dlsb.

Dengan menjadikan dokumentasi bersama, rasanya lebih nyaman mengambili karya di website koran dan media lain, yang kini banyak almarhum tak lagi beroperasi. Oya, banyak pula kawan yang berharap saya mendapati masukan dari kegiatan ini, semisal mendaftar ke google adsense. Kurang-lebih biasanya saya jawab dengan per-istilah-an Jawa: “Tak mau makan balung (tulang), atau meminum keringat orang lain,” karena nanti bisa timbul masalah. Misal berbeda, sejak awal kurangnya mematuhi aturan ketat link terbuka. Tentu dibalik itu semua, diri pribadi memperoleh untung non material lebih, mengetahui sumber-sumber bacaan penting yang bisa diolah menjadi rujukan (sebagai lampiran misalnya), dikala membuat buku. Sekecilnya tidak mengetik lagi dari asal buku, yang tentu masih menyimak ulang secara cermat, dan merasai khazanah jauh-dalam yang tak terkira nilainya.

Sebenarnya, saya menerbitkan website SI dua kali. Pertama mandek, padahal sudah berjalan setahun (2007-2008), oleh servernya tidak bertanggungjawab. Yakni telah membayar, tetapi tidak diteruskan ke server utama, jadi terpaksalah web awal http://sastraindonesia.com/ jatuh lenyap tak ketulungan (tidak tertolong), untung saja postingannya belum seberapa. Lalu mencari server baru yaitu Amar Geddon, dengan menambahkan garis antaran, karena agak rumit jikalau mengurusi website keok telah berpindah tangan, dan diawali tanggal 25 Juli 2008, http://sastra-indonesia.com/2008/07/hello-world/ mulai dilakoni hingga sekarang. Sedang gerak uploadan tergantung daya-dinaya pengembaraan diri saya pada warnet-warnet singgahan di kota-kota lain: Yogyakarta, Jombang, Madura, Surabaya, Jakarta, Lampung & Lamongan sendiri, dengan memakai modem beberapa kali sampai wifi. Alhamdulillah catatan yang terkumpul di website SI: puisi, esai, naskah drama, novel, wawancara, dll, kini hampir saja tembus mendekati angka dua belas ribu unggahan. Oya, salah satu pemantik keberanian mendokumentasi di ladang maya ini atas pantulan belajar dari blog lamanya Udo Z. Karzi http://cabiklunik.blogspot.com/

Ada pula hal-hal aneh, ajaib, boleh juga dibilang sakral (bukan saklar), dan biasanya ini terjadi dalam kahanan kepepet (keadaan terdesak), itu mengenai bagaimana atau uang dari mana untuk membayar web setiap tahun. Dan perihal tak ataupun diluar nalar kerap terjadi; tiba-tiba diminta suatu lembaga untuk mengeditori buku hendak terbit, diundang ke kampus-kampus yang boleh dikata tak ada jaringan sama sekali dan keunikan lain. Oya, beberapa kawan bertanya semacam berharap, kenapa tampilan web SI tak serupa website media massa yang tampak proporsional & profesional. Pertama, dengan sengaja memakai templat klasik, yang juga mudah pengolaannya. Kedua, tampilan disengaja bergaya agak-agak underground mungkin mewakini jiwa pengelola, dan meskipun begitu, banyak (kalangan mahasiswa, dan memang paling sering pengunjungnya dari mereka), yang mengira web SI dibawah naungan kampus ternama Universitas Indonesia. Barangkali, kesan awal dari plakat namanya menyerupai atau bayang-bayang nalar di dotcom mendekatkan ke sana.

Syukurlah akhir-akhir ini para penulis dari tlatah Indonesia Timur mengirimkan karyanya untuk diposting, ini mengurangi volume pengejaran ataupun pencarian di serambi google mengenai kabar berita kesusastraan di ujung timur pulau-pulau dari bumi Nusantara. Dan kembali saya bersyukur, lantaran dimasukkan sebagai admin grup facebook APSAS oleh Sigit Susanto dkk, sehingga menambah daya kadar naiknya pengujung website, walau sengaja tak tampak / tidak ditampilkan jumlah pengunjung lewat mata-mata javascript, tiada lain daripada menimbulkan cumbu ganggu irama memosting yang bisa berujung kurang terarah. Seperti munculnya napsu awal peluncuran web; ini tak lebih sebab selalu menyadari kerentanan seorang diri, kelemahan pribadi, diantara ketegangan dunia online atas zaman percepatan, perkaliannya jaringan, lewat lelaku syariatnya ialah penambahan posting. Akhirulkalam terima kasih sebanyak-banyaknya kepada semua pihak, dan senada ungkapan akbar Khabib Nurmagomedov: Hae-hae, sumpah saya ingin mengucapkan… Alhamdulillah. Tuhan memberkati saya segalanya, Alhamdulillah. Saya tahu kalian menginginkan selesai seperti ini, Alhamdulillah!
***

*) Pengelana yang mengelola website Sastra-indonesia.com. Tinggal di Dusun Pilang, Desa Tejoasri, Laren, Lamongan. Atau di pulau terpencil yang dikelilingi aliran Bengawan Solo; yakni setengah lengkungan bengawan sebelah utara aktif arusnya, sedang lingkaran di sisi selatan tidak bergejolak arusnya.

Link terkait (Catatan ke I): http://sastra-indonesia.com/2009/02/suratan-hati-dari-hb-jassin-sampai-sastra-indonesiacom/
& http://sastra-indonesia.com/pustaka-pujangga/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *