SEKUNTUM BUNGA REVOLUSI; DALAM SUATU PENCARIAN

M.D. Atmaja

PENGANTAR

Seluruh dari kita, pastinya sepakat kalau saya mengatakan kehidupan manusia ini selayaknya perjalanan dari suatu tempat menuju suatu tempat yang lain. Dalam perjalanan itu, kita akan menemukan berbagai persoalan, entah persoalan yang menyenangkan maupun yang tidak kita senangi. Pun, selayaknya dalam perjalanan juga, dapat dipastikan kita melewati suatu jalan yang kita pilih. Terdengar menyenangkan saat membayangkan keadaan ini, berjalan dalam suatu perjalanan yang kita ingini, di jalan sendiri yang kita pilih, dengan menggunakan kendaraan yang dipilih juga sendiri kemudian diusahakan, demi menuju ke suatu tempat juga yang sudah kita tentukan. Continue reading “SEKUNTUM BUNGA REVOLUSI; DALAM SUATU PENCARIAN”

KORUPSI, MUSUH BESAR REVOLUSI

Nurel Javissyarqi

Ini kata-kata terkepal padat kan menumpas kejahiliaan, memotong lengan busuk, membakar sampah bertumpuk demi damai perjuangan. Musik yang didengungkan bangsa berkeniscayaan memberkah kemenjadian -sentausa.

Di sini tiada impian, itu hanya pemilik bersuka angan kemalasan, lalu uang licik melicinkan hasutan. Selera manipulasi pengetahuan di atas kepicikan. Mereka mengorbitkan kacungnya berpropaganda pembodohan dan sebagian kita riang mengikuti tariannya, padahal selepas itu ribuan siksa mendera. Continue reading “KORUPSI, MUSUH BESAR REVOLUSI”

Hukum-hukum Pecinta: Nasehat Penyair untuk Diri

M.D. Atmaja

Pengantar

Nurel Javissyarqi dengan salah satu karyanya Kitab Para Malaikat, memang layak untuk mendapatkan kehormatan sebagai penyair paling mengispirasi itu. Tulisan ini tidak untuk mengukuhkan pendapat tersebut, namun sekedar menggelar tumpukan simbol yang ada di dalam surat Hukum-hukum Pecinta, buku Kitab Para Malaikat atau KPM (2007: 11-17). Melalui berbagai macam keterbatasan yang saya miliki, susah payah, sampai konon yang empunya KPM mencurigai niatan mengupas dari surat ke surat yang jumlahnya dua puluh surat ditambah satu mukadimah. Continue reading “Hukum-hukum Pecinta: Nasehat Penyair untuk Diri”

EMPUKU, PEREMPUANKU

M.D. Atmaja

Dituliskan untuk Soviana D. Saputri Atmaja dan Almarhum Eka Kartikakunang Atmaja (Eka Kartikawanti, 28 April 1985 – 27 Mei 2006)

Pengantar

Persembahan di atas, mungkin terkesan membenjol dalam kejanggalan yang tidak logis. Saya secara pribadi menyarankan untuk tidak perlu dihiraukan. Akantetapi, kalau saya boleh menyarankan kembali, sebelum membaca tulisan ini sampai tuntas, saya mengajak hadirin pembaca untuk sejenak melepaskan ego sebagai lelaki dan (atau) ego sebagai pribadi perempuan. Continue reading “EMPUKU, PEREMPUANKU”

TITIK PUSAT SUNGAI KREATIF

Nurel Javissyarqi

Mencari, lebih tepatnya menentukan titik pusat penciptaan karya, sejenis jalan memasuk-nikmati ruang-waktu meditasi yang kudu dilakoni seniman. Ini tak dapat diganggu gugat; ketenangan jiwa, ketentraman bathin, kesantausaan fikiran, seyogyanya senantiasa dirawat dalam keluar-masuk peristiwa pada peredaran perubahan yang mengelilinginya. Apakah datangnya bencana, leluka terjatuh, kesenyapan hampa, senyuman tipis menghantui dalam menerjemah. Continue reading “TITIK PUSAT SUNGAI KREATIF”

Bahasa »