Cerita Menyentuh dari Nenekku

Raudal Tanjung Banua
korantempo.com

DALAM rangkaian cerita kecil yang kusampaikan dengan cara mencicil, baru sekarang nenek kusebut. Ini mungkin tidak lazim. Biasanya, neneklah rujukan cerita banyak orang, terlebih menyangkut keselamatan dunia-akhirat. Tapi bukan salah nenek berkisah kalau ceritaku terdahulu merujuk ibu dan ayah, wabah, bahkan pohon dan belukar masa kecilku. Lalu kusiapkan cerita campur-aduk dari pamanku dan cerita kecil dunia anakku. Aih, ternyata dunia semata pijakanku! Alangkah picik. Tapi tidak. Sebab tak kutahu setinggi ini haruku pada nenek, sehingga ceritanya mesti kutempatkan setelah yang lain-lain lewat, setelah benda-benda simbol dunia hilang sempat. Tinggal rida. Rida semata mengenangnya?. Continue reading “Cerita Menyentuh dari Nenekku”

Kota-Kota Kecil yang Kusinggahi dengan Ingatan

Raudal Tanjung Banua
kendaripos.co.id

Pernahkah Anda singgah di sebuah kota dan merasa seolah itu kota pertama yang Anda singgahi di dunia? Aku pernah. Dan itu adalah kota-kota kecil yang kusinggahi kali pertama, baik secara harfiah –karena memang baru kali itu melakukan perjalanan jauh– maupun yang pernah kusinggahi dengan rasa berbeda: sekelabat ingatan, tapi begitu dalam, kadang kujumpai kembali dengan kegugupan, ketakjuban panjang, dan tak jarang tergeragap dalam pandangan, yang rasa-rasanya selalu pertama. Beberapa terus mengendap di kepalaku, tak mau pergi; meski tak semuanya berkembang; beberapa memudar seirama bayang-bayang, tapi tak juga lenyap atau hilang. Izinkan aku membilang, satu-satu, siapa tahu Anda juga mengingat sesuatu, dekat atau jauh, di ranah ibu atau di seberang? Continue reading “Kota-Kota Kecil yang Kusinggahi dengan Ingatan”

Pelacur Dibayar Uang, Isteri Dibayar Cinta

Novel membara “Cantik Itu Luka”

Raudal Tanjung Banua
kr.co.id

MEMBACA novel “Cantik Itu Luka” karya Eka Kurniawan (Aky Press-Jendela, 2003) kita akan bersua cinta membara di antara tokoh-tokohnya. Di tengah ?kegilaan? nilai-nilai seperti pelacuran, perselingkuhan, perang, pembanditan, dan kekuasaan, cinta menjadi sangat esensial, baik bagi “muatan moral” – kalau memang pertanggungjawaban kepada publik pembaca masih mempertimbangkan unsur ini – maupun bagi jalan cerita secara keseluruhan. Continue reading “Pelacur Dibayar Uang, Isteri Dibayar Cinta”

Tantangan: Sayembara Sastra: Cerpen, puisi, novel, drama, kritik, skenario

Raudal Tanjung Banua *
kr.co.id

SELAIN maraknya ruang publikasi dan bergairahnya penerbitan buku-buku sastra, fenomena apalagi yang menarik dalam geliat sastra tanah air kini? Jawabnya mudah: lomba atau sayembara!

Ya, meski lomba penulisan satra sebenarnya bukan marak sekarang saja. Sudah tradisi, kata orang. Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN) tahun 50-an misalnya, biasa memberi penghargaan kepada karya sastra terbaik, seperti yang diterima Mochtar Lubis atas novelnya Jalan Tak Ada Ujung, atau Toha Mohtar atas novel Pulang. Majalah Horison juga memilih karya-karya terbaik yang pernah dimuat, misalnya, puisi “Wirid Menyambut Fajar” karya Ikranagara. Continue reading “Tantangan: Sayembara Sastra: Cerpen, puisi, novel, drama, kritik, skenario”

Ramadhan, Menikmati (Lagi) Puisi Ajamuddin Tifani, Sang Sufi dari Alam…

Raudal Tanjung Banua *
balipost.co.id

RAMADHAN, saya pikir tidak harus berkutat sebatas kitab suci, tapi sesekali perlulah membongkar kembali koleksi buku-buku dan menikmati muatannya sebagai pesan ilahiah juga. Alhamdulillah, setelah memilih dan memilah beberapa buku, saya dapatkan buku puisi Ajamuddin Tifani, ”Tanah Perjanjian” (Hasta Mitra-YBS 78, 2005) yang tebalnya hampir 300 halaman. Wah, ini klop, pikir saya, mencari-cari sembarang bacaan akhirnya dapat puisi sufi! Continue reading “Ramadhan, Menikmati (Lagi) Puisi Ajamuddin Tifani, Sang Sufi dari Alam…”

Bahasa ยป