Raudal Tanjung Banua
korantempo.com
DALAM rangkaian cerita kecil yang kusampaikan dengan cara mencicil, baru sekarang nenek kusebut. Ini mungkin tidak lazim. Biasanya, neneklah rujukan cerita banyak orang, terlebih menyangkut keselamatan dunia-akhirat. Tapi bukan salah nenek berkisah kalau ceritaku terdahulu merujuk ibu dan ayah, wabah, bahkan pohon dan belukar masa kecilku. Lalu kusiapkan cerita campur-aduk dari pamanku dan cerita kecil dunia anakku. Aih, ternyata dunia semata pijakanku! Alangkah picik. Tapi tidak. Sebab tak kutahu setinggi ini haruku pada nenek, sehingga ceritanya mesti kutempatkan setelah yang lain-lain lewat, setelah benda-benda simbol dunia hilang sempat. Tinggal rida. Rida semata mengenangnya?. Continue reading “Cerita Menyentuh dari Nenekku”
