Posted by PuJa on April 30, 2011
http://www.balipost.co.id/ Sampit di sampit, orang-orang pernah merayakan pikiran sempit, kota yang lapang menjadi sempit ketika kudatang kudengar suara enggang menjauh di bukit-bukit, jauh di sebalik hamparan sawit lengang mengapung di ladang tambang,
Filed under: Puisi
Posted by PuJa on March 12, 2011
Raudal Tanjung Banua http://suaramerdeka.com/ Jika ingin merasakan segala kebaikan alam, datanglah ke Loksado, pemukiman masyarakat Dayak-Meratus di hulu Sungai Amandit, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan. Selain alamnya yang asri, di sana juga terdapat rumah panjang suku Dayak (Balai Malaris), air terjun Haratai, Danau Bangkau, Bukit Kantawan dan pemandian air panas Tanuhi.
Filed under: Canting
Posted by PuJa on February 20, 2011
Raudal Tanjung Banua http://www.lampungpost.com/ Penghormatan terhadap khazanah lokal, tampaknya tetap relevan sebagai wacana dan kerja-kerja kebudayaan ke depan. Maklumlah, kita sedang merayakan otonomi daerah pascaera sentralistik yang menyuguhkan dominasi tema-tema nasional. Di sisi lain, realitas dunia tanpa batas memang dirasa kian familiar, tapi ongkosnya mahal: redupnya nilai-nilai lokal. Tapi di atas itu semua, dalam konteks [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on February 18, 2011
http://www.balipost.com/ PETA BARU PELAYARAN Laut dan teluk yang kelewat tenang seperti beku di mataku Pulau-pulau jadi sehening batu Kapal-kapal berlayar kaku Menara dan mercu jadi semati tugu
Filed under: Puisi
Posted by PuJa on February 16, 2011
http://www.balipost.co.id/ KALAU DUKA BERTAMPUK kalau duka bertampuk aku akan menjiningnya -Beni Setia dukaku tak bertampuk bagai buah labu jatuh busuk. dan kalau pun bertampuk kuasakah engkau menjinjingnya, sahabat?
Filed under: Puisi
Posted by PuJa on November 7, 2010
Raudal Tanjung Banua http://www.kr.co.id/ DISADARI atau tidak, kampung-halaman telah menjadi ikon tersendiri dalam jagad sastra Indonesia. Tidak hanya sebatas ungkapan ekspresi sebuah karya, namun masuk lebih jauh lagi ke dalam wacana dan gerakan sastra kita, dari dulu hingga sekarang. Dulu misalnya, ada gerakan sastra kembali ke akar yang mengidealkan keragaman karya sastra lewat muatan atau [...]
Filed under: Esai
Posted by PuJa on November 3, 2010
http://langit-puisi.blogspot.com/ Setelah membaca dan mencermati laporan pertunjukan Teater Sakata di Harian Jogja, Senin, 4 Mei 2009, halaman 12 berjudul “Pentas 3 Perempuan: Angkat Konflik Perempuan di Rumah Gadang”—ide dan sutradara Tya Setiawaty, Sabtu, 2 Mei 2009, bertempat di Studio Teater Garasi Yogyakarta—kami menemukan kejanggalan yang sangat fatal dalam paragraf pertama laporan tersebut, yakni pada kalimat: [...]
Filed under: Canting
Posted by PuJa on October 13, 2010
Raudal Tanjung Banua http://www.tempointeraktif.com/ Di bawah hujan lebat, tepat pukul 17.00 waktu setempat, KM Ratu Maria tujuan Melonguane yang saya tumpangi perlahan bergerak meninggalkan pelabuhan Manado. Hari itu Rabu, awal Mei 2010. Pasar ikan, gereja, mercusuar, tiang jembatan, pertokoan, dan rumah-rumah mulai pudar di kejauhan, tertutup tirai hujan. Dari ruang nakhoda, seorang pendeta memimpin doa [...]
Filed under: Canting
Posted by PuJa on
Raudal Tanjung Banua http://www.tempointeraktif.com/ Nagara-Daha unik, kaya pesona, dan memiliki banyak peninggalan bersejarah. Kota kecil di atas rawa itu merupakan pertemuan dua sungai besar di Kalimantan Selatan, Sungai Nagara dan Alai. Dulu Nagara-Daha pusat awal Kerajaan Banjar dengan patih terkenal Lambung Mangkurat. Posisinya sangat strategis; tempat pelintasan kapal-kapal dari kuala ke pedalaman. Kedua sungai ini [...]
Filed under: Canting