PUSARAN WAKTU MARABAHAN

Raudal Tanjung Banua *

Marabahan, pusaran waktu
Dua sungai, dua aliran besar bertemu
berpusar di urat nadimu. Dua masa abadi
Berdetak dalam hening semadi.

Kiambang teratai
mekar di arus pertemuan
Kau mengambang
Menolak angslup dari kekal
Bersama pasar, dermaga, warung makan,
dan rumah-rumah kayu di tepian
Kau berputar
Menjadi bagian dari dunia, dua dunia:
Dunia atas-air dan dunia bawah-air, mengalir
dari hulu ke kuala, dari dulu
ke ini masa, maka genap lengkaplah
rayau-raya ini semesta!

Ke dalam ulek-mu, Marabahan,
kulempar mata enggangku yang liar
Jalalah dengan tangan gaib peri kebun
Hantu-hantu air dan roh jembalang hutan
Perciki air jeruk ladang tinggal
Lalu letakkan tubuhku di atas sekeping papan
Tempatku mengambang dan ikut berputar
Jadi semadi dalam semadi
hingga segalanya membayang:

Panglima Wangkang. Datuk Bakumpai
Tabib Kabun dan orang-orang Rumah Bulat
diam-diam mencatat nama dan wajah samar
seorang lelaki pelarian yang hilang
ditelan kabut sungai.

Pusaran waktu, Marabahan
Dua sungai seribu kelokan
Semua menuju masuk
ke jagad semadimu!

Pohon-pohon tumbang bersilih
jadi ular-ular besar tanpa kulit, licin
mengerikan. Terhumbalang hanyut
ke kuala. Lumpur galian emas permata
Didulang tangan derita, kilaunya
direnggut tangan-tangan tak kasat mata
melayang layah ke pasar-pasar di kota
Bibit-bibit sawit seperti parasit dan wabah kolera
dibawa kapal hantu jauh ke hulu
Lalu dari kelokan yang lain
Naga sisik hitam muncul bagai siluman
Membawa jerit sakit, panjang dan dalam,
bukit-bukit batu tanah galian.

Kau terjaga
Tapi bersama pasar yang mulai ramai
tawar-menawar, apa yang bisa kau lakukan?
Tak ada, selain menunggu kiambang-teratai
kembali bertaut. Sungai-sungai meninggi
pasang-surut. Betapa larut. Sementara aku
terlempar sendiri ke dalam keruh urat nadimu
yang kian lambat pusarannya, kian lemah detaknya
Sebelum akhirnya mengantarku pergi
dari dermaga

(Marabahan, kota Marabahan, kutinggalkan ia
seperti lelaki tua yang perlahan merebahkan badan
ke atas sampan yang tak membawanya ke mana-mana

Ia pertapa tabah mengambang sepi
dari masa ke masa)

2018

Catatan:
Ulek (Bhs. Banjar): Pusaran air akibat pertemuan dua sungai.
Panglima Wangkang, Datuk Bakumpai, Tabib Kabun: Para tokoh Marabahan, Barito Kuala, Kalsel.
Rumah Bulat: Rumah tua bersejarah di kota Marabahan.
***


*) Raudal Tanjung Banua, sastrawan kelahiran Lansano, Kenagarian Taratak, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat, 19 Januari 1975. Pernah menjadi koresponden Harian Semangat juga Harian Haluan, Padang. Kemudian merantau ke Denpasar, Bali, bergabung Sanggar Minum Kopi, serta intens belajar kepada penyair Umbu Landu Paranggi. Lalu ke Yogyakarta; menyelesaikan studi di Jurusan Teater Institut Seni Indonesia. Mendirikan Komunitas Rumah Lebah, dan bergiat di Lembaga Kajian Kebudayaan AKAR Indonesia (Sebuah Lembaga Budaya yang Menerbitkan Jurnal Cerpen Indonesia). Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, esei, dipublikasikan di pelbagai media massa pun antologi. Buku-bukunya: Pulau Cinta di Peta Buta (2003), Ziarah bagi yang Hidup (2004), Parang Tak Berulu (2005), Gugusan Mata Ibu (2005), Kota-Kota Kecil yang Diangan dan Kujumpai (2018), dll. Penghargaan yang diterimanya: Sih Award dari Jurnal Puisi, dan Anugerah Sastra Horison untuk cerpen terbaik dari Majalah Sastra Horison.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *