Resensi Novel Herman Hesse, Peraih Nobel Sastra 1946

: “Steppenwolf; anak kandung Renaisance yang dilahirkan dengan dilema”

Sabiq Carebesth

—…ia adalah Serigala padang rumput, maka walau ia liar, ia tidak buas, bahkan penyendiri dan sangat pemalu; tinggal di sebuah loteng, ditemani dua koper dan sebuah lemari besar penuh buku.Yang pasti cerita tentang Steppenwolf menggambarkan sebuah penyakit dan krisis—tetapi tidak satu pun yang mengarah pada kematian dan kehancuran, justeru sebaliknya: pada penyembuhan. Continue reading “Resensi Novel Herman Hesse, Peraih Nobel Sastra 1946”

Revolusi Bukan Harga Mati

Joko Wahyono*
http://www.sinarharapan.co.id/

Bagi sebagian orang “penggila” ajaran Marxis terkadang terlalu mudah mengeneralisasi bahwa revolusi adalah harga mati. Marxisme dianggap identik dengan perebutan kekuasaan lewat revolusi radikal, berdarah, seperti yang dilakukan Lenin dengan Partai Bolshevik-nya dalam Revolusi Oktober di Rusia. Continue reading “Revolusi Bukan Harga Mati”

Bahasa »