
Saut Situmorang Continue reading “SASTRAKU SAYANG, SASTRAKU MALANG”
Akar dan Fungsi Sosial Dunia Sastra
Leon Trotsky (1923)
Sumber: The Social Roots and the Social Function of Literature. Trotsky Internet Archive
Penerjemah: Dewey Setiawan (April 2003)
http://www.marxists.org/
Perdebatan mengenai ?seni murni? dan seni bertendens sering terjadi diantara kaum liberal dan kaum ?populis?. Permasalahan tersebut bukanlah persoalan kita. Dialektika materialis berdiri di atas ini; dari cara pandang proses historis yang obyektif, seni selalu merupakan pelayan sosial dan berdasarkan sejarah selalu bersifat utilitarian. Continue reading “Akar dan Fungsi Sosial Dunia Sastra”
DICARI: KRITIK(US) SASTRA INDONESIA
Saut Situmorang
Bukankah sangat memalukan bahwa kritikus Belanda A Teeuw sampai pernah menulis sebuah esei berjudul “Tentang Paham dan Salah Paham dalam Membaca Puisi” di mana dia melaporkan tentang “rasa heran”nya atas hasil “analisis” dua sajak modern Indonesia oleh sekelompok dosen sastra kita yang tak satupun berhasil memuaskannya! Walaupun Teeuw mengatakan tidak bermaksud mengkritik “mutu” analisis para dosen sastra kita atas sajak “Salju” Subagio Sastrowardoyo dan “Cocktail Party” Toeti Heraty tersebut, dan Continue reading “DICARI: KRITIK(US) SASTRA INDONESIA”
Sastra Kampus, Sastra Underground
Saut Situmorang *
Lampungpost, 29 Nov 2009
DALAM perbincangan tentang sastra Indonesia di dalam maupun di luar dunia akademis, terutama di media massa, kita akan selalu mendengar tentang beberapa jenis sastra dalam dunia sastra kita. Ada sastra koran, sastra majalah, sastra cyber(punk), sastra buku, sastra sufi, sastra pesantren, sastra buruh, bahkan akhir-akhir ini sastra Peranakan-Tionghoa, sastra eksil, dan sastra wangi. Continue reading “Sastra Kampus, Sastra Underground”
Lamongan : Gerakan Sastra dan Buku “Indie”
Abdul Azis Sukarno *
Ada yang menarik ketika dengan tidak sengaja saya berkunjung ke kota kecil di sebelah utara Surabaya akhir Maret 2007 lalu, di mana sosok Amrozi si pelaku salah satu kasus bom Bali berasal. Tapi, tentu bukan dalam masalah di mana kota tersebut akhir-akhir ini akrab dengan kata-kata “teroris”, “bom”, atau semacamnya, dan diam-diam menjadi bahan perhatian pihak keamanan baik dalam maupun luar negeri. Melainkan, peranannya dalam bidang kesusastraan Indonesia, khususnya di Jawa Timur. Continue reading “Lamongan : Gerakan Sastra dan Buku “Indie””
